Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muliadi Saleh

Kerja yang Memuliakan: Jalan Intelektualitas ala Buya Hamka

Profil | 2026-01-04 12:12:52

Penulis: Muliadi Saleh

Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran Sosial

Ada kerja yang hanya menggerakkan otot, dan ada kerja yang menggerakkan peradaban. Buya Hamka, ulama besar sekaligus intelektual publik Indonesia, pernah mengingatkan dengan bahasa yang sederhana namun menghunjam kesadaran: “Kerja jangan hanya sekadar kerja, kerbau di ladang juga kerja, tapi kerja yang mulia adalah kerja yang membawa manfaat bagi orang lain.” Kalimat ini bukan sekadar petuah moral, melainkan fondasi etika sosial tentang makna kebermaknaan manusia dalam kehidupan bersama.

Dalam pandangan Hamka, kerja bukan aktivitas mekanis yang diukur semata oleh keringat dan jam kerja. Kerja adalah pernyataan nilai. Ia menjadi mulia ketika melampaui kepentingan diri, ketika kehadirannya dirasakan oleh orang lain, ketika hasilnya memperluas kemaslahatan. Di titik inilah, kerja bertemu dengan tanggung jawab moral dan spiritual.

Di tengah zaman yang hiruk-pikuk oleh pencitraan, kecepatan, dan obsesi hasil instan, pesan Buya Hamka terasa semakin relevan. Banyak orang bekerja keras, tetapi tidak semua kerja melahirkan kebaikan sosial. Ada kerja yang justru memperlebar ketimpangan, menormalisasi ketidakadilan, bahkan merusak nilai-nilai kemanusiaan. Maka pertanyaan pentingnya bukan lagi seberapa sibuk kita, melainkan untuk siapa dan untuk apa kesibukan itu.

Hamka mengajarkan bahwa intelektualitas sejati justru tumbuh di jalan sunyi. Ia bukan produk keramaian, bukan pula hasil viralitas. Intelektualitas adalah kesediaan berpikir jernih di tengah bising opini, berani berbeda ketika kebenaran menjadi tidak populer, dan tetap setia pada nilai meski tanpa sorak tepuk tangan. Jalan ini sunyi, karena menuntut kesabaran, kejujuran batin, dan keberanian untuk tidak larut dalam arus pragmatisme.

Dalam sejarah hidupnya, Hamka menapaki jalan ini dengan konsisten. Ia menulis, berdakwah, dan berpikir bukan untuk memuja diri, melainkan untuk mencerahkan umat. Ia pernah dipenjara, difitnah, dan disalahpahami, namun tetap menjadikan pena dan pemikirannya sebagai ladang pengabdian. Inilah kerja intelektual yang memuliakan: sunyi, tekun, dan berdampak panjang.

Di era kini, ketika kesuksesan sering diukur oleh materi dan pengakuan, gagasan Hamka mengajak kita menata ulang orientasi hidup. Bahwa kerja, apa pun bentuknya—akademik, birokrasi, politik, ekonomi, atau kultural—perlu ditimbang dengan satu pertanyaan etis: adakah manfaat yang mengalir ke luar diri kita? Jika tidak, barangkali kerja itu hanya aktivitas, belum menjadi pengabdian.

Kerja yang mulia adalah kerja yang meninggalkan jejak kebaikan, meski pelakunya mungkin luput dari catatan sejarah. Ia tidak selalu tampak gemerlap, tetapi ia menumbuhkan harapan. Ia tidak selalu cepat, tetapi ia kokoh. Inilah kerja yang dipahami Buya Hamka sebagai ibadah sosial: perjumpaan antara iman, akal, dan tanggung jawab kemanusiaan.

Pada akhirnya, intelektualitas bukan tentang gelar, dan kerja bukan tentang rutinitas. Keduanya adalah pilihan moral. Jalan sunyi mungkin tidak menjanjikan kemewahan instan, tetapi ia menawarkan sesuatu yang lebih abadi: kebermaknaan. Dan di sanalah, manusia menemukan kemuliaannya.

________

Muliadi Saleh, "Menulis Makna Membangun Peradaban"

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image