Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Iqbal Firmansyah

Pintar Saja tak Cukup: Gen Z Rindukan Kampus dengan Nilai Moral Kuat

Edukasi | 2026-02-17 13:36:28

Kita hidup di zaman di mana informasi melimpah ruah, namun kebijaksanaan (wisdom) terasa makin langka. Di media sosial, kita melihat orang-orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk menipu, menyebar hoaks, atau melakukan kejahatan siber. Fenomena ini menyadarkan kita pada satu fakta pahit: Pendidikan tinggi yang hanya mengejar kecerdasan intelektual (IQ) tanpa diimbangi kecerdasan emosional dan spiritual, akan melahirkan robot-robot pintar yang berbahaya.

Bagi Gen Z, yang sering dituduh sebagai generasi "lembek" namun sebenarnya sangat peduli pada isu sosial dan keadilan, hal ini menjadi kegelisahan tersendiri. Mereka mencari makna. Mereka tidak hanya ingin kuliah untuk dapat gelar, tapi untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Mengapa Integrasi Ilmu dan Adab Itu Penting?

Profesor Naquib Al-Attas, seorang filsuf pendidikan, pernah berkata bahwa masalah terbesar pendidikan modern adalah "hilangnya adab". Mahasiswa diajarkan cara membuat teknologi canggih, tapi lupa diajarkan etika penggunaannya.

Di tengah kegersangan nilai ini, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) hadir dengan pendekatan yang menyegarkan. UAI tidak memilih jalan dikotomi (pemisahan) antara ilmu umum dan ilmu agama. Sebaliknya, UAI menerapkan integrasi antara elemen Iman dan Takwa (IMTAQ) dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

Ini bukan berarti mahasiswa Teknik harus menghafal semua hadis, atau mahasiswa Hukum hanya belajar hukum Islam. Tidak sesempit itu. Integrasi di UAI bermakna setiap disiplin ilmu dipelajari dengan landasan etika yang kuat. Mahasiswa diajak memahami bahwa ilmu yang mereka pelajari adalah amanah yang harus digunakan untuk kemaslahatan umat, bukan kerusakan.

Universitas Al-Azhar Indonesia (Sumber: Universitas Al-Azhar Indonesia)

Membentuk Generasi "Ulu Al-Albab"Salah satu tujuan pendidikan di UAI adalah membentuk karakter "Ulu Al-Albab", yaitu kaum intelektual yang senantiasa berpikir dan berdzikir. Dalam konteks mahasiswa zaman now, ini adalah profil mahasiswa yang:

  1. Kompeten: Menguasai skill terkini (coding, manajemen, komunikasi, bioteknologi, dll).
  2. Berintegritas: Jujur dan anti-plagiasi dalam berkarya.
  3. Visioner: Memiliki pandangan masa depan yang optimis namun tetap rendah hati.

Suasana kampus UAI sangat mendukung pembentukan karakter ini. Terletak di lingkungan Masjid Agung Al Azhar, atmosfer spiritual terasa kental namun tetap inklusif dan modern. Mahasiswa bisa berdiskusi hangat dengan dosen layaknya mitra belajar. Tidak ada gap feodal yang kaku. Budaya "saling asah, asih, asuh" benar-benar diterapkan.Kampus Modern yang Tidak Kehilangan AkarSeringkali ada stigma bahwa kampus berbasis agama itu kuno atau tertinggal.

UAI mematahkan stigma tersebut. Laboratorium di UAI sangat canggih, kerja sama internasionalnya luas (dengan universitas di Asia hingga Eropa), dan prestasi mahasiswanya di ajang nasional sangat membanggakan.Ini membuktikan bahwa menjadi religius dan menjadi modern adalah dua hal yang bisa berjalan beriringan. Justru, nilai-nilai spiritual menjadi "rem" dan "kompas" agar mahasiswa tidak tersesat di tengah derasnya arus globalisasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image