Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Subhan Riyadi

Antara Nyata dan Fatamorgana Sambut Ramadan

Khazanah | 2026-02-15 19:08:47
Sumber gambar:Gemini AI

Jujur saja, ada saatnya rasa sesak itu muncul. Aku melihat teman-temanku minum kopi tanpa beban, atau begadang tanpa takut esoknya akan "ambruk". Aku cemburu melihat darah mereka yang bersih dari kontaminasi obat.

Sementara aku? Tubuhku adalah sebuah laboratorium kecil. Darahku sudah bersahabat dengan senyawa kimia dari Obat Anti Epilepsi (OAE) yang harus mengalir setiap detik demi menjaga aliran listrik di otakku tetap stabil.

Ada rasa perih saat menyadari bahwa kebebasanku dibatasi oleh jadwal minum obat. Satu dosis terlewat bukan sekadar lupa biasa, tapi sebuah undangan bagi "kejutan" yang tak diinginkan, yakni kejang.

Namun, perlahan aku belajar untuk berdamai. Jika aku terus memandang obat ini sebagai "racun" atau "kontaminasi", maka hatiku akan terus beracun oleh rasa iri.

Aku mulai mencoba melihatnya dari sudut lain, bahwa obat adalah penjaga, tanpa zat kimia ini, aku mungkin tidak akan bisa menikmati senja hari ini. Ia adalah jembatan yang menghubungkanku dengan aktivitas normal.

Penyakit ini sebagai filter kesabaran adalah guru yang galak namun setia. Ia mengajarkanku disiplin dan kesabaran yang tidak dimiliki orang sehat. Aku mencoba memeluk keyakinan bahwa setiap butir obat yang kutelan, setiap rasa kantuk atau pening efek sampingnya, adalah penggugur dosa-dosaku di masa lalu. Ini adalah cara Allah SWT mencuciku agar lebih bersih secara spiritual, meski darahku tak lagi murni secara kimiawi.

Menjadi "berbeda" bukan berarti kalah. Menjadi sehat secara fisik adalah anugerah, tapi menjadi kuat secara mental di tengah keterbatasan adalah sebuah kemenangan. Aku tidak lagi ingin membandingkan isi darahku dengan orang lain.

Darahku mungkin mengandung obat, tapi di dalam darah itu juga mengalir ketabahan yang luar biasa. Aku belajar bahwa sehat bukan hanya soal bebas dari obat, tapi soal bagaimana hati tetap tenang meski tubuh sedang diuji. Orang yang sehat harus benar-benar mengerti perasaan sesama, karena setiap manusia memiliki ketahanan fisik yang berbeda-beda.

Memang sangat melelahkan ketika kita harus bertarung dengan kondisi kesehatan yang "tak kasat mata" (invisible illness). Di mata orang lain, aku terlihat produktif dan sehat, padahal di dalam tubuhku sedang menyeimbangkan efek samping obat yang berat dan risiko serangan yang bisa datang kapan saja.

Apalagi menghadapi Ramadan di lingkungan kantor, ekspektasi sosial seringkali tidak sejalan dengan realitas fisik yang harus aku dan kaum minoritas jalani.

Hidup dengan epilepsi itu tentang bertahan hidup di dunia nyata dan fatamorgana. Ini adalah analogi yang sangat dalam. Bagi penyandang epilepsi, batas antara kesadaran penuh dan "kekosongan" sangat tipis.

Agar tetap kuat menjalani bulan Ramadan ini jangan merasa bersalah jika ritme kerja berbeda dengan rekan yang lain. Tubuh orang dengan epilepsi itu sedang bekerja dua kali lipat dari orang sehat, satu untuk urusan kantor, satu lagi untuk mengelola efek samping obat anti-epilepsi (OAE) yang membuat darah "terkontaminasi" dan kepala oleng.

Dalam Islam, kesehatan adalah amanah. Jika kondisi berpuasa tersebut membahayakan keselamatan ODE saat bekerja atau berkendara, perlu konsultasikan dengan dokter mengenai penyesuaian dosis atau jadwal minum obat selama berpuasa.

Sabar itu memang perlu, tapi memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merasa "tidak baik-baik saja" juga adalah bentuk kekuatan. Kalian tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Ramadan adalah bulan penuh berkah yang membawa ketenangan bagi jiwa. Bagi teman-teman pejuang epilepsi, menjalani ibadah di bulan ini mungkin memiliki tantangan tersendiri, namun ingatlah bahwa niat tulusmu adalah ibadah yang sangat berharga di mata-Nya.

"Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tapi tentang menguatkan jiwa. Untuk pejuang epilepsi, setiap detik kesabaranmu adalah zikir. Tetaplah semangat, jaga pola tidur dan asupanmu, karena menjaga amanah tubuh juga merupakan bentuk ketaatan. Selamat menunaikan ibadah puasa!"

Ingat kawanku senasib sepenanggungan bahwa tidak berpuasa karena alasan kesehatan (jika disarankan dokter) tidak mengurangi kemuliaan kita sebagai Muslim.

Tetap disiplin minum obat dan menjaga jam tidur meski jadwal berubah. Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 286. Artinya, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

Lantas, Nikmat Tuhan mana lagi yang kalian dustakan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image