Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Nabil Mubarak

Momen Kebahagiaan di Detik-detik Terakhir

Sastra | 2026-01-22 05:34:15

Cerpen ini mengisahkan momen berharga yang dialami penulis pada hari ulang tahunnya yang bertepatan dengan ujian sekolah dan bulan Ramadan. Setelah melewati masa sekolah yang penuh tantangan akibat pandemi, akhirnya ia bisa merasakan suasana ulang tahun bersama teman-temannya di Sekolah Menengah Kejuruan. Dalam cerita ini, ia berbagi pengalaman mulai dari menerima ucapan selamat ulang tahun, menghadapi ujian dengan perasaan bahagia, hingga merayakan hari spesialnya dengan berbuka puasa bersama komunitas 'Sobat Industri'.

Meskipun sempat mengalami kendala dalam perjalanan menuju tempat buka bersama, kebersamaan dengan teman-teman membuat hari itu menjadi kenangan tak terlupakan. Cerpen ini menggambarkan betapa berharganya momen-momen sederhana yang dipenuhi dengan rasa syukur, kebersamaan, dan kebahagiaan sebelum masing-masing melangkah ke masa depan.

***

Perkenalkan, namaku Daffa. Dalam hidupku, ada satu momen bahagia sekaligus krusial yang bisa dikatakan sebagai keberuntungan. Aku merasa beruntung karena merasakan satu momen bahagia di detik-detik terakhir.

Pada 4 April 2023 lalu, aku pertama kali merasakan suasana hari ulang tahun saat duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan. Itu menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir atau satu-satunya. Sejatinya, aku mulai duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan sejak 2020. Namun, saat kelas 10 dan 11, kami belum bisa mencicipi suasana belajar tatap muka secara penuh karena masih dalam masa pandemi Covid-19. Belum lagi, saat kelas 11 semester 2, kami harus menjalani Praktik Kerja Lapangan meskipun pandemi Covid-19 sudah mulai mereda. Barulah saat kelas 12, kami bisa mencicipi belajar tatap muka sepenuhnya.

Bertepatan dengan Ujian Sekolah mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Kewarganegaraan, hatiku diiringi dengan suasana ulang tahun yang kian menciptakan vibes terbaik sepanjang bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan. Aku berangkat ke sekolah dengan rasa semangat dan bahagia. Saat tiba di sekolah, aku disambut dengan obrolan hangat dari teman-teman. Tak lupa juga mereka mengucapkan "HBD" kepadaku. Sebagai informasi, HBD merupakan bahasa gaul yang merupakan kependekan dari 'Happy Birthday'. Berkat vibes terbaikku itu, suasana ujian di sekolah terasa lebih cerah dan tenang. Apalagi saat itu juga bertepatan dengan bulan puasa, sehingga suasana terkesan damai dan religius.

Usai ujian, aku bersama teman-teman satu komunitas yang bernama 'Sobat Industri' berkumpul di ruang industri untuk membahas rencana buka bersama nanti sore. Kami mengumpulkan uang sesuai dengan harga paket makanan yang sudah dipesan sebelumnya kepada Bintang. Namun, aku tidak memiliki uang pas, sehingga kembalian akan dibayar oleh Bintang saat di tempat buka bersama nanti sore, yaitu di rumah Sef Danny. Tak lupa juga, teman-teman mengucapkan "HBD, Fa." Ucapan itu membuatku semakin menikmati vibes terbaik saat bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan. Sepulang sekolah, aku beristirahat sejenak untuk melepas rasa lelah setelah menjalani ujian Bahasa Indonesia dan Pendidikan Kewarganegaraan.

Pada sore hari atau pukul 15.00 WIB, salah satu teman sekomunitasku yang bernama Rengga datang ke rumah untuk menjemputku. Kami bersiap-siap berangkat ke tempat buka bersama, yaitu di rumah Sef Danny. Sebelum berangkat, aku dan Rengga mengobrol terlebih dahulu di ruang tamu rumahku. Tak lupa, obrolan kami juga diiringi dengan gelak tawa agar suasana tidak terkesan kaku dan monoton.

Setelah obrolan dirasa cukup, aku dan Rengga langsung berangkat ke rumah Sef Danny. Aku pun berpamitan dengan ibu. Kemudian Rengga bertanya kepadaku, "Ini yang membaca Google Maps siapa, aku atau kamu?"

"Kamu saja, Reng," jawabku.

Kami pun langsung berangkat bersama dengan naik motor sendiri-sendiri.

Diiringi dengan suasana ceria, aku dan Rengga menikmati perjalanan yang ditemani sinar mentari sore. Kendaraan berlalu-lalang di jalan raya, suara klakson turut menambah suasana perjalanan kami. Namun, perjalanan kami sejatinya tidak berjalan dengan mulus. Rengga sempat kesulitan membaca Google Maps. Beberapa kali, kami mengambil jalan yang salah dan hampir tersesat.

"Bagaimana kalau nanti kita kehabisan bensin karena berputar-putar terus seperti ini?" kataku dalam hati.

Hari semakin sore, dan Rengga masih kesulitan membaca Google Maps, membuat kami beberapa kali harus berkeliling kompleks dan sesekali berhenti.

"Bagaimana dengan teman-teman yang sudah sampai dan sedang menunggu?" pikirku lagi.

Akhirnya, Rengga menyerah membaca Google Maps dan memasrahkan kepadaku untuk menemukan arah tujuan. Kini, aku yang membaca Google Maps.

Berbeda dengan Rengga, aku mampu membaca Google Maps dengan tanggap dan cekatan, meskipun sesekali harus berhenti. Itu wajar karena kami hanya memiliki dua tangan, di mana kedua tangan sudah digunakan untuk memegang setang motor, sehingga tidak mungkin memegang ponsel sambil membaca Google Maps saat motor sedang berjalan. Aku terus menunjukkan arah kepada Rengga melalui Google Maps. Aku juga berkata kepadanya, "Kenapa sejak awal tidak aku saja yang membaca Google Maps?"

"Lha tadi kamu meminta aku yang membacanya," jawab Rengga.

Aku pun tertawa kecil menanggapi hal itu.

Setelah beberapa kali mencari arah jalan melalui Google Maps, akhirnya aku dan Rengga tiba di rumah Sef Danny. Teman-teman pun menyambut kami dengan perasaan lega. Aku dan Rengga kemudian masuk ke rumahnya. Kami duduk melingkar, dan di tengahnya tersaji makanan, salah satunya tentu berupa paket nasi dan ayam yang sudah kami pesan sebelumnya. Paket nasi dan ayam itu pun dibagikan oleh Bintang sesuai dengan pesanan masing-masing.

Sambil menunggu azan Magrib, kami berbincang sejenak. Salah satu topik yang kami perbincangkan adalah bagaimana aku dan Rengga hampir tersesat dan salah jalan. Namun, kami menganggap itu sebagai bagian dari tantangan atau permainan untuk memeriahkan hari ulang tahunku.

Azan Magrib pun berkumandang. Kami segera menatap santapan berbuka yang sudah tersaji. Sebelum itu, tentu kami berdoa terlebih dahulu yang dipimpin oleh Bintang. Di sinilah ada satu momen yang membuatku terharu. Dalam doa yang dipimpinnya, Bintang juga menyebut, "Berhubung teman kita ada yang ulang tahun, mari kita doakan semoga panjang umur, sehat selalu, dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi."

"Aamiin," ucap semua teman-teman.

Hal itu tentu membuatku bahagia sekaligus terharu. Setelah itu, kami langsung menyantap makanan berbuka dengan penuh rasa nikmat. Hari ulang tahunku secara tidak langsung dirayakan bersama 'Sobat Industri' dengan berbuka bersama.

Aku pun memposting momen bahagia ini di status WhatsApp, Facebook, dan Instagram. Itu juga menjadi momen pertama dan terakhir saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan. Sebentar lagi, kami akan menjalani kehidupan masing-masing. Ada yang melanjutkan kuliah, bekerja, atau berwirausaha. Salah satu teman onlinemu asal Bali pun mengomentari statusku dengan candaan. Dia menulis, "Aku tidak diundang."

"Ya sudah, kita virtual saja. Kalau kamu ke sini, nanti makanannya sudah habis," jawabku.

"Dihabiskan saja, menikmati hari spesial," balasnya.

Berbuka puasa telah usai. Kami pun segera menunaikan salat Magrib, kemudian dilanjutkan dengan salat Isya dan Tarawih.

Sepulang dari rumah Sef Danny, rasa puas, bahagia, dan terharu mengiringi perjalananku. Aku merasa beruntung karena bisa merayakan hari ulang tahun bersama teman-teman satu komunitas dengan berbuka bersama. Tak lupa, aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Meskipun sadar bahwa bertambah usia berarti masa hidupku telah berkurang, aku tetap berharap diberikan umur panjang, kesehatan lahir dan batin, rezeki yang lancar, serta menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sesampainya di rumah, aku menghayati momen terbaik hari itu sambil mendengarkan lagu "Kehilanganmu Berat Bagiku" ciptaan Kangen Band di kamar. Tak lupa, rasa syukur juga mengiringinya.

***

Hari itu akan selalu terpatri dalam ingatanku sebagai salah satu momen terbaik di masa sekolah. Kebahagiaan yang sederhana, namun begitu bermakna. Waktu terus berjalan, dan kehidupan membawa kami ke jalan masing-masing. Namun, kenangan tentang tawa, perjalanan yang hampir tersesat, dan doa dari teman-teman akan tetap hidup dalam ingatanku.

Aku menyadari bahwa bukan tentang seberapa besar perayaan yang dilakukan, melainkan tentang dengan siapa kita berbagi kebahagiaan itu. Dan di hari ulang tahunku yang terakhir di Sekolah Menengah Kejuruan, aku beruntung bisa merayakannya bersama orang-orang yang berharga. Kini, langkah baru menanti di depan, namun kenangan ini akan selalu menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah salah satu hadiah terbaik dalam hidup.

Kadang, momen terbaik dalam hidup bukan tentang seberapa besar perayaannya, tapi dengan siapa kita berbagi kebahagiaan itu---karena kenangan bersama merekalah yang akan selalu abadi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image