Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Aghitsna Waliyaz Zulfa

Ramadan dan Navigasi Batin: Ekspedisi Membuang Bayang, dan Membaca Ontologi Diri

Khazanah | 2026-02-13 23:30:45

Oleh: Aghitsna Waliyaz Zulfa

Menyisir Rimba Nafsu dan Peta Menuju Telaga


شهر رجب شهر للزرع، وشعبان شهر السقي للزرع، ورمضان شهر حصاد الزرع.

Secara filosofis, rajab dan sya'ban dikonstruksi sebagai Virtue Ethics—istilah aristotelian—yaitu kesabaran atas ethos (pembiasaan) kebaikan akan melahirkan manusia berkarakter. Hal ini selaras dengan kata al-Balkhi, bahwa paralel "rajab-sya'ban" adalah eksistensi yang menjadikan manusia suci dengan konsistensi meninggalkan larangan ilahi dan ethos beribadah yang berbuah saat ramadhan.


الْمُسْتَوْرِدُ بْنُ شَدَّادٍ قَالَ: إِنِّي لَفِي الرَّكْبِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ أَتَى عَلَى سَخْلَةٍ مَنْبُوذَةٍ، قَالَ: فَقَالَ: «أَتُرَوْنَ هَذِهِ هَانَتْ عَلَى أَهْلِهَا» قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنْ هَوَانِهَا، أَلْقَوْهَا، أَوْ كَمَا قَالَ: قَالَ: «فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ عَلَى أَهْلِهَا»


Sebelum memasuki ramadhan, dimulai ketika menulis lembar awal bulan rajab dan sya'ban, jangan sampai kita mendefinisikan diri melalui status sosial yang tidak kekal, melainkan melalui kebersihan hati dan persistensi membelenggu hawa nafsu, karena bagi Sang Pencipta, dunia lebih hina dari hinanya bangkai kambing bagi peternaknya—seperti halnya sabda Rasul. Ini bukan sekadar metafora, melainkan alienasi mutlak yang menegaskan bahwa di hadapan sakralitas ramadhan, dunia yang profan harus disingkirkan dari hati perindu—bahkan harus dilakukan jauh sebelum memasuki ramadhan— supaya bangkainya tak menginfeksi orang lain dan tak mendistorsi tatanan hati.


Ilusi Birokrasi Duniawi


Dalam bab filsafat, kita akan mengutip 'Birokrasi Rimba' yang termuat dalam paragraf Will to Power. Jika Nietzsche masih hidup, maka ia akan menganga karena prinsip hierarki yang ditulisnya ini, tertimpa oleh satu kata; Ramadhan. Bagi umat islam di bulan ramadhan, prinsip yang dianut Nietzschean adalah bualan. Sebab membuka bab ramadhan dengan jari orientasi sosial 'berada' tak ada bedanya dengan jari miskin biasa. Karena, bab itu pada akhirnya akan terbaca bagi orang yg sama-sama tidak buta —tidak kafir. Orang miskin dan orang kaya dengan jarinya yang biasa saja dan lentik sempurna akan membuka setiap lembaran ramadhan dan memahami makna yang terbaca; Memperoleh hikmah. Yang membedakan adalah ketika keangkuhan —maksiat, menyetir otak pembaca, maka ia akan meremehkan narasi yang tertulis pada setiap halaman, dan hanya akan membolak balik ramadhan, dari tahun ke tahun berlalu begitu saja tanpa paham hikmah apa yang tertulis di dalamnya.


Berdialog Dengan Bayang: Estetika Khaira Ummah


Mengapa ada bulan ramadhan? secara historis, umat-umat terdahulu hidup dua atau tiga kali lipat lebih lama dari umat Muhammad SAW., fakta ini menarik konklusi yang membuka paradigma atas firman Allah

كُنتُمْ خَيْرَ أَمَّةٍ أَخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

bahwa: Esensi khaira ummah yang tersemat kepada kita oleh nas dipertanyakan oleh kontemplasi kaum penggiat 'refleksi', sebab secara matematis: panjang usia, banyak amal. Pendek usia, amalpun tak semaksimal orang yang berusia lebih panjang.


Namun, islam tak didakwahkan secara matematis, melainkan secara estetis; Satu halaman al-Qur'an yang disenandungkan di malam ramadhan mampu menjadi amal timbangan yang lebih berat dibandingkan amalan-amalan selama seribu bulan (±84 tahun). Inilah hikmah eksistensi ramadhan. Ia menjawab pertanyaan yang selalu digelisahkan kaum reflektif kontemplatif, sebanyak apapun amal umat terdahulu karena panjangnya usia, tidak seberapa dibanding amal kita di bulan ramadhan. Meskipun pada akhirnya timbul pertanyaan dari penulis "bagaimana jadinya jika bahkan di bulan ramadhan pun kita tidak mau beribadah?"


Teleologi Telaga Pembuka: Esensi Membasuh diri


Sufisme melihat ramadhan sebagai kesempatan meniti kembali jalan spiritualitas hidup yang lurus tanpa persimpangan kelalaian. Secara transendensi amali, ia adalah peluang di mana seorang hamba riang mengalunkan wirid ampunan, tanpa beban trauma nada dan simfoni masa lalu. Lailatul bara'ah yang digariskan takdir terjadi sebelumnya, menjadi bukti bahwa bulan ramadhan adalah bait ampunan yang memotivasi hambanya supaya giat merangkai puisi-puisi yang akan bertasbih sepanjang malamnya.


Teleologi Telaga Akhir: Tetesan yang Menjadi Lautan


Salah satu tema paling kuat dalam bulan ramadhan adalah lailatul qadar. Ia adalah malam di mana ibadah dan rayuan tasbih dicatat berkali-kali lipat. Di malam itu, semua sujud lolos tanpa kurasi menjadi antologi amal ibadah yang ditulis bersama rahmat dan doa para malaikat.


Ibnu Katsir dalam tafsirnya menekankan keagungan dan keberkahan malam itu. Dalam ayat yang ditafsirkan olehnya, Ia mengatakan: Karena melimpahnya keberkahan malam itu, Para Malaikat turun ke bumi beriringan dengan turunnya rahmat Tuhan dan keberkahan.


إن الملائكة تلك الليلة في الأرض أكثر من عدد الحصى

Dalam tinjauan moralistik, al-Munawi menuturkan bahwa para malaikat turun ke bumi, hadir dalam majelis-majelis zikir, memintakan ampunan dan mengaminkan doa-doa orang mukmin. Jumlah mereka yang melebihi banyaknya kerikil bukan hitungan realistis, melainkan refleksi agungnya kuasa Allah yang tak tersentuh logika materi.


Menyelam ke dalam Satu Tetesan: Lailatul Qadar dan Kerahasiaan Substansial


قال رسول الله: "تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان"

Secara fenomenologis, semangat mencari lailatul qadar terlahir dari apa yang disebut oleh para sufi sebagai tasywiq ilal 'amal wa targhib fiih, yaitu keimanan bahwa Allah senantiasa mendengar bait-bait pertobatan kita dan undangan cinta dari-Nya selalu sampai melalui cahaya rindu di tengah gelapnya puisi keberadaan.


Dari lensa psikologi ruhani, ini adalah titik krisis eksistensial yang positif. Karena tak ada yang tau pasti kapan lailatul qadar itu, manusia harus sabar menahan sujud tiap malam dan mewiridkannya di sepuluh malam terakhir. Kata Seorang Sufi: "Andai peluang lailatul qadar dalam setahun hanya sekali saja, tentu aku akan bangun salat malam selama satu tahun agar bisa mendapatkannya. Lantas, bagaimanakah menurutmu, jika peluangnya ada di sepuluh malam?"


Memperbanyak sujud di malam itu bukan sekadar formalisasi ritual rutin setahun sekali. Momen itu adalah audit semesta terhadap mewahnya spiritualitas manusia, bukan untuk inspeksi kelalaian, melainkan motivasi amal dengan kontrak afiliasi bersama Malaikat Samawi demi profit pasti; Purifikasi catatan amal dan penyucian diri.


Konstelasi Hakikat diri: Restorasi Identitas


Pada akhirnya, Ramadhan bukan sekedar bulan dalam kalender hijriah; Ia adalah sebuah telaga di ujung rimba belantara. Luka yang mengotori jiwa manusia karena lalainya mereka—sepanjang jalan di hutan kehidupan, terbasuh sembuh oleh segar air telaga. Namun, tak semua merasakan segarnya, telaga menagih persyaratan layaknya angka verifikasi ganda, yang hanya dimiliki oleh calon orang suci: Menjadi hamba yang sujud kepada Sang Pemilik alam semesta dengan memilin nafsu angkara di pohon puasa yang kokoh menjulang; menghadang dosa yang hendak mengotori telaga.


Dan sebelum membasuh hati, tanyakan pada diri: Bagaimanakah aku ini? Apakah aku akan melewatkan ramadhan begitu saja sebab aku bukan hamba yang didefinisikan oleh sujudku, melainkan 'hamba' yang didefinisikan oleh nafsuku?


Referensi


-Al-Qur’an al-Karim.


-Ibn Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim. Tahqiq: M. Hasan Syamsuddin. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1998.


-Ibn Khuzaimah. Sohih Ibn Khuzaimah. Tahqiq: Dr. M. Mustofa al-A’dhomi. Beirut: al-Maktab al-Islami, 2003.


-Ibn Majah. Sunan Ibn Majah. Tahqiq: M. Fuad Abdul Baqi. Mesir: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah.


-Al-Munawi. al-Taisir bi Syarh al-Jami’ al-Saghir. Riyadh: Maktabah al-Imam al-Syafi’i, 1988.


-Ibn Rajab al-Hanbali. Lataif al-Ma’arif. Beirut: Dar Ibn Hazm, 2004.


-Muhammad bin Alwi al-Idrus (Sa’ad). Lailah al-Qadar: Fadluha wa Alamatuha wa Ma Yustahabbu Fi’luhu Fiiha. Cet: Ke-2. 2010.


-Aristotle. (1999). Nicomachean ethics (T. Irwin, Trans., 2nd ed.). Hackett Publishing.


-Nietzsche, F. (1968). The will to power (W. Kaufmann & R. J. Hollingdale, Trans.). Vintage Books. (Original work published 1901).

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image