Tadabbur Malam (030) Pulang dengan Hati yang Tenang
Khazanah | 2026-02-12 17:39:44Pada akhirnya, semua perjalanan akan berujung pada satu kepulangan. Sejauh apa pun langkah kita melangkah, ia tetap menuju satu titik yang sama. Al-Qur’an mengingatkan bahwa setiap jiwa akan kembali kepada Allah, membawa apa yang ia tanam selama hidupnya.
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”
(QS. Al-‘Ankabut: 57)
Kematian bukan sekadar akhir usia, tetapi awal dari perjumpaan. Maka yang terpenting bukan seberapa lama kita hidup, melainkan bagaimana hati kita bersiap pulang.
Ketenangan tidak lahir dari dunia yang rapi dan tanpa masalah. Ia tumbuh dari hati yang siap—siap menerima takdir, siap melepaskan yang dicintai, dan siap menghadap tanpa membawa kesombongan. Karena itu Allah memanggil jiwa yang tenang dengan panggilan yang begitu lembut:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 27–28)
Ayat itu bukan sekadar janji, tetapi harapan yang menenangkan. Bahwa ada kepulangan yang tidak menakutkan, jika hati telah belajar tunduk dan percaya.
Tadabbur malam bukan hanya rutinitas sunyi, melainkan latihan pulang. Melatih hati agar tidak terlalu melekat pada dunia, melatih jiwa agar tidak terlalu takut kehilangan, dan melatih iman agar tetap menyala hingga akhir.
Kematian tidak bisa ditunda, tetapi kepanikan bisa dikurangi. Hati yang dilatih untuk taat hari ini akan lebih mudah tenang saat waktunya kembali.
Jika kelak kita dipanggil, semoga kita tidak membawa penyesalan yang berat, melainkan hati yang telah terbiasa berserah. Hati yang tidak sempurna, tetapi jujur dalam taat dan sungguh dalam berharap.
Malam menutup dengan bisikan yang lembut: pulanglah kepada-Nya dengan hati yang damai.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
