Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Sabilurrohman

Tadabbur Malam (029) Dosa yang Perlahan Membuat Hati Gelap

Khazanah | 2026-02-11 18:06:26

Tidak semua dosa terasa berat di awal. Sebagian hadir kecil, berulang, dan dibiarkan. Ia tidak datang dengan gemuruh, melainkan dengan bisikan yang terasa sepele. Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa apa yang terus dilakukan manusia akan meninggalkan jejak di hati—hingga hati perlahan mengeras dan semakin sulit menerima kebenaran.

Cahaya kecil di tengah sunyi malam, mushaf yang terbuka, dan tasbih yang terdiam—pengingat bahwa hati masih bisa kembali terang, selama ia mau didekatkan pada cahaya-Nya.

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan telah menutupi hati mereka.”

(QS. Al-Muthaffifin: 14)

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap dosa meninggalkan titik hitam di hati. Jika seorang hamba bertaubat, hatinya dibersihkan. Namun jika ia terus mengulang tanpa penyesalan, noda itu bertambah hingga menutup cahaya. Hati pun kehilangan kepekaan—tidak lagi mudah tersentuh oleh nasihat, ayat, atau peringatan.

Yang membuatnya berbahaya bukan semata dosanya, tetapi kebiasaan merasa baik-baik saja. Dosa yang diakui melahirkan penyesalan. Dosa yang dibenarkan justru mematikan rasa bersalah. Dari situlah gelap mulai menetap, bukan karena Allah menjauh, tetapi karena hati menutup diri.

Tadabbur malam menjadi ruang aman untuk jujur pada diri sendiri. Saat dunia diam, alasan-alasan runtuh, dan topeng tak lagi dibutuhkan. Di hadapan Allah, kita tak perlu tampak kuat—cukup mengakui bahwa hati ini lelah menanggung beban dosa yang dipendam.

Allah membuka pintu taubat seluas-luasnya, bahkan sebelum kita meminta. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar hamba-Nya yang berbuat dosa di siang hari kembali, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar yang berbuat dosa di malam hari bertaubat. Pintu itu selalu ada, tetapi tak akan kita masuki jika kita merasa tidak perlu kembali.

Dosa yang paling berbahaya bukan yang besar, tetapi yang dibiarkan. Sebab ia perlahan menggelapkan hati, tanpa terasa, hingga kebenaran tampak biasa dan kesalahan terasa wajar.

Malam mengingatkan dengan lirih: membersihkan hati jauh lebih penting daripada sibuk merawat citra. Karena hati yang bersih lebih berharga daripada terlihat baik di mata manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image