Merawat Palestina dengan Suara, Pena, dan Empati
Khazanah | 2026-03-03 18:30:44
Oleh: Irawan (Manager Operasional QUPRO Sumsel & Koordinator Gerakan #IndonesiaJagaNyalaPalestina area Sumatera)
Dalam lembaran Sirah Nabawiyah, ada satu fragmen sejarah yang selalu relevan ketika kita berbicara tentang makna pembelaan. Ketika medan tempur memanggil, nyatanya tidak semua sahabat Rasulullah mengangkat pedang. Ada sosok Hassan bin Thabit. Ia tidak berada di garis depan dengan zirah besi, melainkan berdiri tegak di mimbar Masjid Nabawi. Senjatanya adalah rangkaian kata. Bait-bait syairnya tajam menyuarakan kebenaran, membela kehormatan Islam, sekaligus meruntuhkan mental lawan. Rasulullah SAW bahkan menyebut bahwa kalimat Hassan memiliki dampak yang setara dengan hujan anak panah.
Kisah Hassan bin Thabit menitipkan satu pesan fundamental bagi kita hari ini: medan perjuangan memiliki banyak cara, dan setiap orang memegang perannya masing-masing.
Hari ini, setiap kali kita membaca kabar Palestina, mata kita sering kali tertuju murni pada konflik bersenjata dan genosida di lapangan. Kehadiran fisik di sana tentu sebuah kemuliaan besar. Namun, seiring berjalannya waktu dan bergantinya tren, ancaman tersembunyi bagi perjuangan di sana adalah kelupaan publik. Bisingnya rutinitas harian sering kali membuat isu kemanusiaan perlahan memudar dari ingatan kolektif. Di titik kritis inilah, peran-peran layaknya Hassan bin Thabit masa kini harus mengambil tempat.
Membela Palestina tidaklah selalu harus hadir di medan konflik. Menjaga agar nafas perjuangan mereka tetap berdenyut di hati masyarakat Indonesia dan dunia adalah kewajiban kita yang berada ribuan kilometer jauhnya. Pembelaan itu bisa kita wujudkan dengan bersuara menyuarakan kebenaran. Di tengah arus informasi yang sering kali anomali, perkataan yang jujur adalah penunjuk arah bagi ummat dan bangsa.
Pembelaan juga dapat kita hidupkan melalui pena yang mencerahkan kesadaran. Tulisan-tulisan mencerahkan yang terus diproduksi akan menjaga akal sehat ummat dan bangsa agar konsisten menolak "mati rasa" saat melihat penderitaan yang lebih identik dengan genosida. Di ruang-ruang digital, para kreator harus tampil di atas panggungnya sendiri. Mereka meracik karya visual dan narasi untuk menyebarkan empati, mengubah layar gawai menjadi ruang kepedulian yang mengetuk pintu hati banyak orang.
Turun ke lapangan, kemudian energi positif ini diterjemahkan oleh para relawan yang memberi manfaat nyata. Keringat mereka yang ikhlas menghimpun dukungan adalah urat nadi gerakan kemanusiaan. Sementara itu, di ruang-ruang kelas, para pendidik mengambil tugas jangka panjang menanamkan nilai-nilai keadilan. Mereka memastikan generasi penerus kita tumbuh dengan kompas moral yang berpihak pada kemanusiaan.
Pada akhirnya, seluruh ikhtiar ini bermuara pada satu titik: bagaimana kita mampu menjadi pemimpin yang membawa pengaruh baik di lingkungan terdekat kita masing-masing. Entah itu di meja makan keluarga, circle pertemanan, maupun circle pekerjaan.
Merawat ingatan tentang Palestina adalah cara kita merawat nilai kemanusiaan di dalam diri sendiri, ummat dan bangsa. Mari pastikan sejarah mencatat bahwa kita menolak lupa. Teruslah bersuara, menulis, berkarya, mendidik, dan menebar pengaruh baik di lingkungan kita. Karena dari langkah-langkah konsisten inilah, pelukan hangat untuk Palestina akan selalu menyala. Indonesia Jaga Nyala Palestina! Allaahu Akbar!
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
