Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Suwardi Rosyid A

Waspada 'Investasi' Dosa di Alam Barzakh

Agama | 2026-03-02 09:53:59

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita hidayah. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Hadirin yang dirahmati Allah, dalam perjalanan hidup ini kita sering kali sangat bersemangat mengejar sedekah jariyah sebagai tabungan abadi. Namun, di sisi lain, ada sebuah bahaya besar yang sering luput dari pengamatan kita, yakni Dosa Jariyah. Jika sedekah jariyah adalah investasi pahala yang terus mengalir meski raga telah menyatu dengan tanah, maka dosa jariyah adalah warisan keburukan yang "pahalanya" berupa dosa terus ditransfer kepada pelakunya di alam kubur karena ia telah meninggalkan jejak maksiat yang terus diikuti atau dimanfaatkan oleh orang lain.

Ketakutan akan hal ini bukanlah tanpa alasan, sebab Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa setiap gerak-gerik dan dampak dari perbuatan kita akan dicatat dengan rapi. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Yasin ayat 12:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ

"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan."

Para ulama menafsirkan kata "Atsar" atau bekas-bekas tersebut bukan hanya tentang langkah kaki menuju masjid, melainkan juga tentang tradisi buruk, pemikiran sesat, atau sarana kemaksiatan yang ditinggalkan seseorang dan tetap lestari meskipun sang pembuatnya telah tiada.

Peringatan ini dipertegas oleh Rasulullah SAW melalui lisan mulianya agar kita tidak menjadi pelopor dalam keburukan. Beliau bersabda dalam sebuah hadits shahih:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

"Barangsiapa yang memulai dalam Islam suatu tradisi yang buruk (sunnah sayyi'ah), maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." (HR. Muslim Nomor Hadits: 1017 dalam Kitab Az-Zakat)

Hadits ini menjadi pengingat keras bagi kita yang hidup di era digital. Betapa mudahnya hari ini seseorang menanam benih dosa jariyah; cukup dengan mengunggah konten yang membuka aurat, menyebarkan fitnah atau hoaks, hingga mengajarkan cara-cara bermaksiat melalui media sosial. Selama video atau tulisan tersebut masih ada, ditonton, dan diikuti oleh orang lain, maka selama itu pula "keran" dosa terus mengalir kepada kita, bahkan saat kita sudah tidak lagi bernapas.

Hal inilah yang mendasari kekhawatiran para sahabat Nabi. Abdullah bin Mas’ud RA pernah memberikan peringatan yang sangat menyentuh hati dengan berkata, "Celakalah bagi orang yang mati, namun dosanya tidak ikut mati."

Kalimat ini mengajak kita untuk bermuhasabah; apakah jejak digital kita hari ini akan menjadi saksi yang meringankan atau justru menjadi beban yang menyengsarakan di barzakh nanti? Kita tidak ingin menjadi orang yang meski jasadnya sudah diam, namun catatan amal buruknya tetap berjalan karena meninggalkan sarana maksiat atau menjadi inisiator keburukan bagi generasi setelahnya.

Oleh karena itu, selagi nyawa masih dikandung badan, marilah kita bersihkan jejak-jejak buruk yang pernah kita buat. Hapuslah segala konten negatif yang pernah diunggah dan gantilah dengan ajakan-ajakan kepada kebaikan. Jangan sampai jemarimu menjadi saksi bisu yang mengirimkan siksa ke liang lahatmu; pastikan apa yang kau tinggalkan di dunia adalah tangga menuju surga, bukan tali yang menyeretmu ke neraka. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita dari segala bentuk dosa yang mengalir dan menjadikan kita pribadi yang hanya meninggalkan jejak kebaikan bagi dunia ini.

Kata Mutiara:

"Jangan sampai jemarimu menjadi saksi bisu yang mengirimkan siksa ke liang lahatmu; pastikan apa yang kau tinggalkan di dunia adalah tangga menuju surga, bukan tali yang menyeretmu ke neraka."

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image