Menyelami Hikmah dan Ketulusan di Atas Sungai Nil
Risalah | 2026-03-20 01:43:17Kairo — Bayangkan menaiki kapal pesiar di Sungai Nil, bukan bersama wisatawan, melainkan 100 mahasiswa penyandang disabilitas, sebagian tunanetra, sebagian dengan keterbatasan fisik. Mereka adalah peserta Grand Ifthar Al-Azhar pada 3 Maret 2026, yang digelar di atas Silver Nile Cruise.
Program ini diselenggarakan oleh Universitas Al-Azhar bekerja sama dengan MyFundAction Middle East, NGO internasional yang fokus pada pengembangan pemuda melalui kepemimpinan, kewirausahaan, dan akademik berlandaskan nilai-nilai Islam. Kegiatan ini melibatkan 20 relawan mahasiswa Indonesia serta relawan dari beberapa negara lain.
Tantangan di Balik Layar
Koordinasi lintas budaya, bahasa, dan kebutuhan peserta menjadi ujian tersendiri. “Kami harus memastikan 100 mahasiswa dengan berbagai keterbatasan dapat naik ke kapal dengan aman sebelum azan Maghrib,” ujar salah seorang panitia. Beberapa peserta saling berpegangan karena tidak dapat melihat, sementara yang lain membutuhkan bantuan penuh untuk menaiki titian kapal. Arahan dalam bahasa Arab, Melayu, dan Inggris kerap bersilangan, menuntut kesabaran dan ketelitian relawan.
Ammar Yassir, mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah, menegaskan, “Tantangan terbesar kami adalah memastikan setiap ‘Pahlawan Surga’ ini dirayakan dengan penuh kemuliaan tanpa kesulitan teknis.”
Dari Memberi Menjadi Menerima
Ketegangan itu luluh saat azan Maghrib berkumandang dan kapal mulai bergerak menyusuri Nil. Acara dibuka dengan pembacaan Al-Qur’an oleh salah satu mahasiswa berkebutuhan khusus. Ifthar berlangsung syahdu, diikuti persembahan nasyid dan pembagian mushaf Al-Qur’an.
“Kami datang untuk memberi, tapi justru kami yang menerima kekuatan dari mereka,” ungkap salah satu relawan. “Mereka mengajarkan bahwa kegelapan mata bukan penghalang cahaya ilmu.”
Lebih dari Sekadar Ifthar
Acara ini menjadi simbol diplomasi kemanusiaan antara Indonesia dan Mesir. Mahasiswa Indonesia menunjukkan bahwa mereka bukan hanya penuntut ilmu, tetapi agen perubahan yang mampu memimpin, beradaptasi, dan menyalurkan empati lintas budaya.
Di atas Sungai Nil malam itu, batas antara “yang memberi” dan “yang menerima” hilang. Yang tersisa hanyalah ketulusan—mengalir bersama arus Nil, menjadi saksi bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
