Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wuri Syaputri

Ketika Kata Viral Mengalahkan Cerita

Gaya Hidup | 2026-02-04 10:53:32

Oleh Wuri Syaputri

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Ilustrasi gambar dibuat oleh AI

Dalam beberapa tahun terakhir, satu kata hampir selalu hadir dalam judul berita dan linimasa media sosial, yaitu viral. Kata ini digunakan untuk berbagai peristiwa, dari kejadian ringan hingga tragedi serius. Begitu sebuah peristiwa disebut viral, perhatian publik pun mengalir deras. Namun, yang jarang dipertanyakan adalah bagaimana kata tersebut membentuk cara kita memahami peristiwa.

Secara kebahasaan, viral merupakan kata pinjaman dari ranah biologi yang merujuk pada sesuatu yang menyebar cepat. Ketika dipindahkan ke ranah media dan komunikasi, kata ini tidak lagi netral. Viral menjadi penanda nilai, bukan sekadar penanda sebaran. Ia memberi isyarat bahwa sebuah peristiwa layak diperhatikan karena ramai dibicarakan, bukan semata karena penting secara sosial.

Dalam kajian bahasa media, pilihan kata seperti ini berfungsi sebagai alat pembingkai realitas. Fairclough (1995) menjelaskan bahwa bahasa media tidak hanya melaporkan kejadian, tetapi juga membentuk cara pembaca memaknainya. Ketika sebuah peristiwa dilabeli viral, fokus pembaca sering bergeser dari apa yang terjadi ke seberapa besar respons publik terhadapnya.

Akibatnya, perhatian tidak lagi tertuju pada peristiwa itu sendiri, melainkan pada keramaian yang mengitarinya. Bahasa memindahkan pusat cerita dari kejadian ke reaksi. Peristiwa menjadi latar, sementara komentar, kemarahan, dan perdebatan publik menjadi panggung utama.

Fenomena ini terlihat jelas ketika kata viral dilekatkan pada peristiwa yang melibatkan individu. Nama seseorang sering berubah menjadi kata kunci. Ia tidak lagi merujuk pada manusia dengan pengalaman personal, tetapi pada kasus atau isu tertentu. Dalam analisis wacana, proses ini disebut reduksi identitas. Individu direpresentasikan melalui satu label yang memudahkan konsumsi informasi, tetapi menghilangkan kompleksitas (van Dijk, 1998).

Bahasa seperti ini menciptakan jarak emosional. Pembaca diposisikan sebagai penonton yang menilai dari luar, bukan sebagai bagian dari masyarakat yang terdampak. Bahasa media membentuk hubungan satu arah antara peristiwa dan publik. Kita menonton, bereaksi, lalu berpindah ke topik berikutnya.

Kata viral juga menyembunyikan agen. Dalam banyak pemberitaan, peristiwa digambarkan seolah menyebar dengan sendirinya. Padahal, ada proses editorial, algoritma media sosial, dan pilihan pengguna yang berperan. Bahasa mengaburkan siapa yang memilih, menyebarkan, dan memperkuat sebuah narasi. Dengan demikian, tanggung jawab sosial menjadi tidak jelas.

Dalam perspektif linguistik kritis, bahasa semacam ini bukan kebetulan. Van Dijk (1998) menekankan bahwa wacana media bekerja melalui penyederhanaan agar informasi cepat dipahami. Namun, penyederhanaan selalu memiliki harga. Kompleksitas sosial dan pengalaman manusia sering kali dikorbankan demi kecepatan dan daya tarik.

Bukan berarti kata viral harus dihindari sepenuhnya. Ia adalah bagian dari praktik komunikasi kontemporer. Namun, penempatannya perlu disadari. Ketika kata ini digunakan sebagai pusat cerita, bahasa berpotensi mengalahkan substansi. Sebaliknya, ketika ia ditempatkan sebagai konteks tambahan, cerita tetap dapat berpusat pada peristiwa dan manusia di dalamnya.

Alternatif bahasa sebenarnya tersedia. Media dapat menekankan dampak, konteks, dan pengalaman warga terdampak sebelum menyebut keramaian respons publik. Perubahan kecil dalam struktur kalimat dan pilihan kata dapat menggeser fokus pembaca dari sensasi menuju pemahaman.

Pada akhirnya, bahasa bukan hanya alat penyampai informasi, tetapi juga alat pembentuk perhatian. Kata viral mengingatkan kita bahwa dalam dunia yang serba cepat, bahasa memiliki kekuatan untuk mempercepat, tetapi juga untuk menjauhkan.

Daftar Pustaka

Fairclough, N. (1995). Media discourse. London: Edward Arnold.

van Dijk, T. A. (1998). Ideology: A multidisciplinary approach. London: Sage Publications.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image