Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daffa Nabil Mubarak

Luluh di Ujung Pena

Sastra | 2026-01-21 19:58:46

Cerpen ini mengisahkan perjuangan Baskara, seorang mahasiswa jurusan bahasa yang perfeksionis, dalam mempertahankan integritas kaidah bahasa Indonesia di tengah fenomena common mistake (salah kaprah kolektif) yang telah mengakar di masyarakat. Konflik bermula ketika Baskara harus mengerjakan tugas makalah mata kuliah Bahasa Indonesia Formal secara individu karena jumlah mahasiswa yang ganjil. Di saat teman-temannya, seperti Aris dan Rere, lebih memilih menggunakan kata tidak baku "mencontek" dengan alasan lebih familiar dan tidak kaku, Baskara tetap teguh pada prinsip morfologi bahwa kata dasar yang benar adalah sontek, yang jika bertemu imbuhan meN- akan luluh menjadi menyontek.

Melalui perdebatan sengit di dalam kelas melawan arus sosiolinguistik yang mengutamakan "kebiasaan" daripada "kebenaran", Baskara menghadapi tantangan besar untuk membuktikan bahwa bahasa yang baku tidaklah harus terdengar arkais. Cerita ini memuncak pada dedikasi Baskara dalam menyusun karya ilmiah yang flawless di bawah standar penilaian tinggi dosennya, Bu Rahmi, meskipun harus menghadapi kendala teknis dan skeptisisme dari lingkungan sekitarnya.

Luluh di Ujung Pena bukan sekadar drama akademik, melainkan sebuah refleksi tentang pentingnya menjaga marwah bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa di era digital. Cerpen ini menekankan bahwa mencintai bahasa nasional berarti menghormati standarisasi dan logika gramatikal yang terkandung di dalamnya—sebuah bentuk patriotisme modern yang sering kali terlupakan.

Riuh rendah suara mahasiswa di koridor Gedung F sore itu seakan menjadi latar musik yang kontradiktif dengan keheningan di dalam Ruang 302. Di sana, Baskara masih terpaku menatap layar proyektor yang menampilkan daftar pembagian kelompok mata kuliah Bahasa Indonesia Formal. Namanya berada di baris paling bawah, sendirian, tanpa pasangan.

“Nasib angka ganjil, Bas. Sabar, ya,” celetuk Aris sembari menepuk bahu Baskara dengan gaya simpatik yang dibuat-buat.

Baskara hanya mendengus, jemarinya sibuk merapikan letak kacamata yang sedikit merosot. “Bukan masalah sendirinya, Ris. Tapi standar penilaian Bu Rahmi itu setinggi langit. Salah meletakkan koma saja, nilai bisa terjun bebas dari A ke B minus.”

“Alah, jangan terlalu perfeksionis. Yang penting isinya masuk akal. Lagipula, siapa juga yang bakal teliti membaca setiap kata di makalahmu?” Aris tertawa, lalu menoleh ke arah teman-temannya yang lain. “Eh, kalian sudah bagi tugas? Siapa yang bagian mencontek materi dari jurnal, dan siapa yang bagian merangkai kalimat?”

Mendengar kata itu, dahi Baskara langsung mengernyit. Seolah ada alarm yang berbunyi di kepalanya setiap kali mendengar kosakata yang tidak presisi.

“Bukan mencontek, Ris. Menyontek,” koreksi Baskara datar.

Aris menghentikan tawanya, menatap Baskara dengan tatapan heran. “Hah? Apa bedanya? Ya ampun, Bas, mau mencontek atau menyontek, semua orang juga tahu maksudnya itu mengambil karya orang lain secara curang. Jangan jadi polisi bahasa di jam pulang begini, deh.”

“Ini bukan soal polisi bahasa, tapi soal kaidah,” Baskara mulai membuka laptopnya, jemarinya bergerak lincah membuka aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V. “Dengar ya, dalam bahasa Indonesia, kata dasar yang diawali huruf k, t, s, dan p itu harus luluh jika bertemu imbuhan meN-. Jadi, kata dasarnya itu sontek, bukan contek. Maka bentuk bakunya adalah menyontek.”

Rere, yang sejak tadi menyimak sambil memoleskan lipstik, ikut menyahut, “Sontek? Serius? Kedengarannya aneh banget di telinga. Kayak kata dari bahasa asing atau malah terdengar kayak soundtrack film. Kamu yakin nggak salah baca, Bas?”

“Itu masalahnya, Re. Kita terlalu terbiasa dengan yang salah sampai yang benar pun terdengar asing,” balas Baskara serius. Matanya kembali menatap layar laptop yang menampilkan entri kata sontek. “Kalau kita cari kata contek di KBBI, hasilnya nihil. Itu kata tidak baku. Sebagai mahasiswa jurusan bahasa, kita punya beban moral untuk menjaga diksi agar tetap berada di relnya. Ingat Sumpah Pemuda? Menjunjung bahasa persatuan bukan cuma soal bicara, tapi soal menulis dengan martabat.”

Aris memutar bola matanya, merasa kalah telak namun enggan mengakui. “Oke, Bapak Pujangga. Selamat berjuang dengan makalah soliter-mu. Aku duluan, ya. Hati-hati, jangan sampai kamu menyunting makalahmu sampai subuh cuma gara-gara satu huruf s yang luluh.”

Baskara hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Kini, di ruangan yang mulai menggelap itu, ia hanya ditemani oleh cahaya dari layar laptop dan tumpukan referensi. Menulis makalah secara individu memang berat, namun baginya, ini adalah kesempatan pembuktian. Ia harus menyusun sebuah karya tulis ilmiah yang tidak hanya kuat secara substansi, tetapi juga estetis dan patuh secara gramatikal. Baginya, setiap kata adalah prajurit, dan ia adalah sang panglima yang harus memastikan tak ada satu pun prajuritnya yang salah mengenakan seragam di medan perang literasi.

Seminggu telah berlalu sejak pengumuman itu, dan meja belajar Baskara telah berubah menjadi medan perang. Tumpukan jurnal cetak, buku-buku morfologi, dan tiga tab peramban yang menampilkan KBBI Daring, PUEBI, serta Sipebi memenuhi ruang pandangnya. Sebagai mahasiswa tunggal yang mengerjakan makalah bertajuk "Anomali Morfofonemik dalam Dialek Urban", Baskara merasa memikul beban seluruh sejarah bahasa Indonesia di pundaknya.

Ketegangan memuncak saat sesi diskusi kelas di hari Kamis. Bu Rahmi, dosen dengan tatapan setajam elang yang mampu mendeteksi kesalahan tipografi dalam jarak lima meter, sedang mengulas draf kasar milik mahasiswa.

"Kelompok Aris," suara Bu Rahmi memecah keheningan. "Di halaman ketiga, Anda menuliskan istilah mencontek sebanyak lima kali. Bisa jelaskan mengapa Anda memilih diksi tersebut?"

Aris berdiri dengan percaya diri, meskipun Baskara bisa melihat keringat dingin di pelipis temannya itu. "Izin menjawab, Bu. Kami menggunakan kata tersebut karena lebih familiar bagi pembaca. Jika kami menggunakan kata menyontek, apalagi menyebut kata dasarnya adalah sontek, kami khawatir pembaca malah bingung karena kata itu terdengar sangat arkais atau tidak lazim di masyarakat."

Baskara menarik napas tajam. Ia tidak tahan untuk tidak menginterupsi. "Izin berpendapat, Bu," potong Baskara dengan sopan namun tegas. "Justru di situlah peran kita sebagai akademisi. Kalau kita terus melanggengkan kesalahan dengan alasan 'kebiasaan', maka bahasa Indonesia yang baku akan mati tergilas slang dan salah kaprah. Huruf 's' pada kata sontek itu harus luluh saat bertemu awalan meN-. Sama seperti kata sapu menjadi menyapu, bukan mensapu atau menyapukan tanpa aturan."

Aris mendengus, menoleh ke arah Baskara. "Tapi Bas, bahasa itu dinamis. Kalau mayoritas orang Indonesia bilang mencontek, kenapa kita harus memaksakan sontek yang terdengar asing? Jangan sampai kita terlalu sibuk membenarkan ejaan sampai lupa bahwa fungsi utama bahasa adalah komunikasi, bukan sekadar mematuhi template kaku."

"Masalahnya, Ris," balas Baskara, suaranya naik satu oktav, "ini adalah karya ilmiah, bukan caption di media sosial. Di dalam ranah formal, kita tidak bicara soal 'rasa' atau 'kebiasaan', tapi soal standarisasi. Menggunakan kata contek sebagai kata dasar itu seperti mencoba memasukkan kepingan puzzle yang salah secara paksa. Tidak akan pernah pas secara logika morfologi."

Suasana kelas memanas. Beberapa mahasiswa mulai berbisik-bisik. Rere menyenggol lengan Baskara dari kursi sebelah. "Bas, sudah. Kamu jadi terlihat seperti kamus berjalan yang sedang marah-marah. Lagipula, apa gunanya sih ngotot soal satu kata itu?"

Baskara terdiam sejenak, namun jemarinya mengepal di atas meja. "Bukan soal satu kata, Re. Ini soal integritas. Kalau kita kompromi pada hal kecil seperti peluluhan huruf k, t, s, p, lama-lama kita akan kompromi pada seluruh kaidah penulisan skripsi kita nanti. Bagaimana kita bisa dipercaya menulis laporan atau jurnal internasional kalau dasar bahasa kita sendiri masih berantakan?"

Bu Rahmi mengetuk meja dengan pulpennya, menghentikan perdebatan. "Baskara benar secara kaidah. Namun, Aris juga menunjukkan realitas sosiolinguistik kita. Tugas kalian—terutama kamu, Baskara, yang bekerja sendirian—adalah membuktikan bahwa bahasa yang benar itu tidak harus terdengar kaku. Saya akan melihat bagaimana kamu mengaplikasikan teori peluluhan ini dalam makalahmu minggu depan. Ingat, satu saja kata tidak baku yang lolos, nilai kamu saya potong sepuluh poin."

Tantangan itu seperti petir di siang bolong. Baskara pulang dengan kepala berdenyut. Di kamar kostnya yang sempit, ia mulai menyisir kembali setiap kalimat. Ia menemukan betapa sulitnya menjaga konsistensi. Saat ia menulis kalimat: "Banyak siswa yang melakukan tindakan menyontek...", ia tergoda untuk menggantinya menjadi menjiplak atau menyalin agar tidak perlu berurusan dengan perdebatan kata sontek.

Namun, ia menggeleng. "Tidak," gumamnya pada diri sendiri. "Kalau aku menghindar, aku sama saja dengan pengecut yang malu pada identitas bahasanya sendiri."

Konflik batinnya semakin menjadi ketika ia menemukan referensi dari sebuah blog populer yang ditulis oleh seorang pesohor yang bersikeras bahwa mencontek lebih tepat karena berasal dari dialek tertentu yang sudah diserap. Baskara mulai meragukan dirinya sendiri. Ia membuka kembali buku Linguistik Umum dan memelototi bab morfologi.

"K, T, S, P luluh jika diikuti huruf vokal..." ia mengeja pelan.

"Sontek" diawali huruf 's' dan diikuti vokal 'o'. Maka hukumnya wajib luluh menjadi menyontek.

"Ini bukan cuma soal nilai dari Bu Rahmi," bisiknya sambil menatap layar laptop yang menampilkan kursor yang berkedip-kedip seperti detak jantung. "Ini soal bagaimana aku menghargai Sumpah Pemuda. Bagaimana mungkin aku mengklaim menjunjung bahasa persatuan kalau aku sendiri malu menggunakan kata yang baku?"

Tiba-tiba, listrik padam. Layar laptopnya menghitam karena baterainya yang sudah bocor tidak mampu bertahan tanpa daya listrik. Baskara mengerang frustrasi di tengah kegelapan. Draf makalahnya belum sempat disimpan secara otomatis untuk bagian tiga paragraf terakhir yang membahas tentang etika kepenulisan. Dalam kegelapan itu, ia merasa seolah-olah seluruh dunia sedang menertawakan idealismenya. Apakah perjuangannya untuk satu kata sontek ini benar-benar sebanding dengan kerja kerasnya sendirian?

Kegelapan di kamar kost itu terasa seperti mencekik leher Baskara. Di tengah keheningan, ia hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu melawan rasa panik. Tiga paragraf krusial tentang etika kepenulisan—bagian di mana ia mengintegrasikan teori peluluhan morfofonemik dengan integritas akademik—raib ditelan layar hitam. Baskara menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit kamar yang temaram oleh cahaya lampu jalan dari balik jendela.

"Apa aku menyerah saja?" bisiknya lirih. Suara Aris kembali terngiang, mengejek idealismenya sebagai "polisi bahasa". Mungkin benar, dunia tidak akan kiamat hanya karena ia mengganti kata menyontek menjadi mencontek demi kecepatan kerja, atau sekadar menggunakan sinonim yang lebih aman.

Namun, bayangan Bu Rahmi yang menatapnya tajam di kelas tadi kembali muncul. Ini bukan lagi sekadar tugas makalah individu. Ini adalah ujian bagi ego dan prinsipnya sebagai mahasiswa bahasa. Jika ia sendiri goyah saat menghadapi kendala teknis, maka semua argumennya di kelas tadi hanyalah omong kosong belonjong.

Dua jam kemudian, listrik kembali menyala. Tanpa membuang waktu, Baskara menyambar laptopnya. Beruntung, fitur autosave menyelamatkan sebagian besar kerangkanya, meski bagian penutup yang paling emosional tetap hilang. Ia menarik napas dalam-dalam, jemarinya kini menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Ia tidak lagi sekadar menulis; ia sedang berperang.

"Kata dasar: sontek. Awalan: meN-. Hasil: menyontek," ia menggumamkan rumus itu berkali-kali seperti sebuah mantra.

Pagi harinya, suasana di depan Ruang 302 tampak tegang. Hari ini adalah tenggat pengumpulan makalah cetak. Aris tampak santai dengan bundel makalahnya, sementara Rere sibuk merapikan jilidan miliknya yang berwarna merah jambu. Ketika Baskara datang dengan lingkaran hitam di bawah mata, Aris segera menghampirinya.

"Gimana, Bas? Masih kuat mempertahankan si sontek itu? Aku dengar tadi malam mati lampu di area kostmu. Jangan bilang makalahmu jadi korban gara-gara kamu terlalu sibuk mengurus peluluhan huruf 's'?"

Baskara hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kelelahan sekaligus kepercayaan diri. Ia menyerahkan bundel makalahnya yang berjudul "Luluh di Ujung Pena: Melacak Akar Morfologi dan Etika Formal dalam Penulisan Akademik" kepada Bu Rahmi.

Bu Rahmi menerima makalah itu, mengenakan kacamata bacanya, dan langsung menuju bab analisis. Suasana kelas mendadak senyap. Hanya terdengar bunyi lembaran kertas yang dibalik. Ketegangan mencapai puncaknya saat Bu Rahmi berhenti di satu halaman, matanya terpaku pada paragraf yang membahas tentang penggunaan kata menyontek.

"Baskara," suara Bu Rahmi memecah kesunyian, dingin dan datar. "Kemari."

Baskara melangkah maju, kakinya terasa lemas. Aris menyeringai kecil di baris belakang, menyangka Baskara akhirnya melakukan kesalahan fatal.

"Kamu menuliskan di sini bahwa kesalahan penggunaan kata mencontek bukan sekadar masalah salah ketik atau typo, melainkan bentuk kegagalan kita dalam menghargai proses standarisasi bahasa yang telah diperjuangkan sejak 1928. Kamu juga dengan berani membedah mengapa kata sontek terasa asing namun secara gramatikal adalah satu-satunya kebenaran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia."

Bu Rahmi melepas kacamatanya, menatap Baskara lurus ke mata. "Banyak orang memilih jalan mudah dengan mengikuti arus yang salah. Mereka menyebutnya 'fleksibilitas bahasa'. Tapi kamu, kamu memilih jalan yang terjal, sendirian, untuk menjaga sebuah prinsip."

Tiba-tiba, Bu Rahmi mengambil pulpen merahnya. Di pojok kanan atas makalah Baskara, ia menuliskan sebuah huruf besar yang tegas: A.

"Ini adalah makalah individu terbaik yang saya baca tahun ini," ucap Bu Rahmi dengan nada yang sedikit melunak. "Bukan hanya karena teknis penulisanmu yang flawless, tapi karena kamu memiliki keberanian untuk mempertahankan kebenaran di tengah mayoritas yang menganggap kebenaran itu aneh. Kamu membuktikan bahwa kata sontek tidaklah aneh, ia hanya sedang menunggu untuk dicintai kembali oleh pemiliknya."

Aris ternganga. Rere berhenti memoles lipstiknya. Baskara merasakan beban di pundaknya luruh seketika, jauh lebih melegakan daripada peluluhan huruf 's' yang ia bela mati-matian. Ia menyadari bahwa di ujung penanya, egonya telah luluh, berganti dengan rasa bangga yang murni sebagai penjaga bahasa.

Setelah kelas berakhir, riuh rendah suara kursi yang bergeser memenuhi ruangan. Aris dan Rere segera menghampiri meja Baskara, tempat di mana pemuda itu masih terduduk lemas, menatap huruf A besar dengan tinta merah yang seolah menyala di atas kertas manila.

"Bas, aku angkat topi," ujar Aris sambil menyodorkan tangan, kali ini tanpa nada meremehkan. "Ternyata bukan cuma soal font atau layout, ya. Bu Rahmi benar-benar terkesan sama penjelasanmu tentang peluluhan itu. Aku tadi sempat mengintip makalahmu, paragraf penutupnya... gila, puitis tapi logis."

Baskara menyambut jabat tangan itu dengan senyum tulus. "Terima kasih, Ris. Aku cuma merasa kalau kita terus-terusan pakai kata mencontek, lama-lama kita bakal lupa kalau bahasa kita punya sistem yang presisi. Menghargai kata sontek itu sama saja dengan menghargai jati diri kita sebagai mahasiswa bahasa."

"Tapi beneran, deh," sela Rere sambil memasukkan alat riasnya ke dalam tas tote bag-nya yang modis. "Tadi pas Bu Rahmi bilang kalau kata sontek itu sedang menunggu untuk dicintai kembali, aku langsung merinding. Ternyata selama ini kita ini 'selingkuh' ke kata yang tidak baku hanya karena merasa lebih nyaman, ya?"

Baskara tertawa kecil, rasa kantuknya menguap. "Itu fenomena fossilization dalam linguistik, Re. Kesalahan yang sudah membatu karena dianggap benar secara kolektif. Padahal, kalau kita buka lagi Kamus Besar Bahasa Indonesia, aturannya sudah jelas. Huruf /s/ itu harus luluh jika bertemu awalan /meN-/. Itu harga mati secara morfologis."

"Oke, oke, Bapak Polisi Bahasa," Aris terkekeh, kali ini dengan nada apresiasi. "Jadi, sekarang apa rencana selanjutnya? Mau menyontek—eh, maksudku menyalin—makalahmu ini ke blog atau dikirim ke jurnal?"

"Aku akan mengunggahnya ke portal literasi kampus," jawab Baskara mantap sambil merapikan laptopnya ke dalam tas. "Aku ingin orang-orang tahu bahwa tidak ada yang aneh dengan kata sontek. Kata itu terdengar asing hanya karena kita jarang 'bertegur sapa' dengannya di ruang publik. Kita sering terjebak dalam common mistake yang dianggap lumrah, padahal sebagai generasi digital, kita punya alat untuk mengecek kebenaran dalam satu klik lewat aplikasi KBBI Daring."

Saat mereka melangkah keluar dari Ruang 302, koridor kampus sudah mulai sepi. Cahaya matahari senja yang berwarna jingga masuk melalui celah-celah jendela, menciptakan bayangan panjang di lantai. Baskara merasa pikirannya jauh lebih ringan. Tugas individu yang awalnya ia anggap sebagai beban, kini terasa seperti sebuah misi penyelamatan identitas.

"Bas," panggil Rere tepat sebelum mereka berpisah di parkiran. "Berarti besok-besok kalau aku bilang 'tolong contekkan tugasmu', kamu bakal marah, ya?"

Baskara menggeleng sambil memakai helmnya. "Aku nggak akan marah, Re. Aku cuma akan mengoreksinya dengan sabar sampai telingamu terbiasa mendengar kata sontek. Karena menjaga bahasa itu bukan dengan amarah, tapi dengan kebiasaan yang benar. Ingat, language is a habit."

Baskara memacu motornya membelah kemacetan kota. Di kepalanya, ia sudah menyusun rencana untuk tulisan berikutnya. Ia menyadari bahwa di era post-truth ini, kebenaran gramatikal pun sering kali digugat oleh arus popularitas. Namun, selama masih ada ujung pena yang berani menuliskan kata baku, bahasa Indonesia tidak akan pernah kehilangan marwahnya. Huruf 's' pada kata sontek mungkin luluh dalam proses morfologi, namun integritasnya sebagai pengguna bahasa justru menguat dalam setiap kata yang ia susun dengan jujur.

Malam itu, Baskara tidak langsung mengistirahatkan jemarinya yang masih terasa kaku. Di depan meja belajar yang kini lebih rapi, ia menatap layar gawai. Diunggahnya esai pendek bertajuk "Mengapa Kita Malu pada Kata Sontek?" ke portal literasi kampus dan akun media sosial pribadinya. Ia tahu, di dunia serba cepat ini, sebuah koreksi gramatikal sering kali dianggap sebagai angin lalu atau, lebih buruk lagi, dianggap sebagai sikap pedantic yang menyebalkan.

Namun, kejutan datang hanya beberapa jam kemudian. Notifikasi di ponselnya bergetar tanpa henti.

"Bas, lihat ini!" Sebuah pesan singkat dari Rere masuk, menyertakan tangkapan layar unggahan Baskara yang mulai dibagikan oleh banyak orang. "Ternyata banyak yang baru tahu kalau mencontek itu salah. Bahkan ada dosen dari fakultas lain yang ikut berkomentar!"

Baskara tersenyum, lalu jemarinya bergerak membalas komentar di unggahannya. Salah satu pengikutnya bertanya dengan nada sangsi, "Kenapa harus serumit itu, Kak? Bukankah yang penting lawan bicara paham?"

Baskara menarik napas, lalu mengetikkan jawaban yang telah mengendap di kepalanya sejak kelas Bu Rahmi berakhir:

"Bahasa bukan sekadar alat transfer informasi, tapi juga identitas yang memiliki struktur. Jika kita membiarkan satu batu bata dalam struktur itu hancur karena alasan 'kebiasaan', maka perlahan bangunan identitas kita sebagai bangsa akan roboh. Common mistake yang dibiarkan akan menjadi kebenaran yang palsu."

Tak lama kemudian, Aris ikut muncul di kolom komentar dengan nada khasnya yang kini lebih menghargai. "Siap, Bapak Panglima Bahasa! Mulai hari ini, aku hapus kata 'contek' dari kamus pribadiku. Besok bantu aku cek typo di artikel unit kegiatan mahasiswaku, ya?"

Baskara terkekeh pelan. Ia menyadari bahwa perjuangannya tidak berhenti di meja dosen. Di era digital ini, ketika slang dan istilah asing lebih sering diagungkan, menjaga kemurnian bahasa Indonesia adalah bentuk patriotisme baru yang sunyi namun krusial.

Ia teringat kembali pada diktum language is a habit yang ia ucapkan pada Rere. Bahasa adalah kebiasaan. Jika masyarakat lebih akrab dengan kata yang tidak baku, itu karena para pemegang pena—termasuk mahasiswa—terlalu malas untuk menyuarakan kebenaran.

"Tidak boleh ada lagi yang merasa asing dengan kata sontek," gumamnya pada kesunyian kamar.

Baskara mematikan laptopnya. Sebelum beranjak tidur, ia membuka kembali catatan kecil di buku sakunya, sebuah kutipan yang ia ambil dari sejarah Sumpah Pemuda 1928. Ia menuliskan sebuah kalimat penutup di sana dengan pena tinta hitam yang mantap:

Di ujung pena ini, aku tidak hanya merangkai kata. Aku sedang merawat martabat bangsa. Karena ketika huruf 's' pada kata sontek itu luluh, ia tidak hilang; ia sedang melebur ke dalam aturan yang membuat bahasa kita tetap terhormat di mata dunia.

Malam semakin larut, namun semangat Baskara baru saja benderang. Baginya, setiap tulisan adalah sebuah masterpiece yang harus dijaga dari cacat logika dan gramatikal. Ia tahu, perjalanan meluruskan salah kaprah ini masih panjang, namun ia tidak lagi merasa sendirian. Di luar sana, ribuan kata sedang menunggu untuk "dicintai kembali" oleh para pemiliknya.

Kisah Baskara bukan sekadar drama di dalam ruang kelas atau perjuangan mendapatkan nilai A dari dosen yang perfeksionis. Perjalanannya adalah refleksi dari kondisi literasi kita saat ini. Sering kali, kita lebih memilih kenyamanan dalam kekeliruan daripada bersusah payah mencari kebenaran yang dianggap "asing". Kita terjebak dalam fenomena common mistake yang dilakukan secara kolektif, sehingga ketika aturan baku seperti peluluhan huruf /s/ pada kata sontek muncul, kita justru menghakiminya sebagai sesuatu yang aneh. Padahal, bahasa Indonesia adalah bangunan yang disusun dengan logika morfologi yang presisi.

Amanat yang tertinggal dari ujung pena Baskara sangatlah jelas: mencintai bahasa Indonesia tidak cukup hanya dengan menggunakannya sebagai alat komunikasi sehari-hari, tetapi juga dengan menjaga martabatnya melalui penggunaan kaidah yang benar. Di tengah gempuran slang, istilah intermezzo yang tak keruan, serta tren code-mixing yang serampangan di era digital, pengetahuan akan kata baku adalah benteng pertahanan terakhir identitas bangsa. Kita tidak boleh membiarkan kemalasan intelektual membuat kita abai terhadap standarisasi yang telah ditetapkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Melalui kasus kata menyontek, kita belajar bahwa kebenaran memang terkadang terasa sunyi dan tidak populer. Namun, sebagai kaum intelektual, kita memiliki tanggung jawab moral untuk melakukan self-correction dan edukasi secara konsisten. Jangan sampai kita menjadi asing di rumah sendiri, gagap berbicara dan menulis dalam bahasa ibu hanya karena kita terlalu malas untuk membuka kamus. Integritas seorang penulis atau akademisi tidak hanya dilihat dari seberapa dalam ide yang ia tuangkan, tetapi juga dari seberapa hormat ia memperlakukan tata bahasa yang menjadi wadah ide tersebut.

Mari kita jadikan penggunaan bahasa yang baik dan benar sebagai sebuah lifestyle dan habit yang membanggakan, bukan beban yang kaku. Sebab, setiap kali kita meluluhkan huruf /k, t, s, p/ pada tempatnya, kita sebenarnya sedang merawat warisan Sumpah Pemuda. Bahasa Indonesia adalah ruh persatuan, dan cara terbaik untuk menghormati ruh tersebut adalah dengan tidak membiarkannya cacat oleh salah kaprah yang terus dipelihara. Biarlah ego kita yang luluh demi tegaknya marwah bahasa, karena di balik ketelitian setiap huruf, terdapat harga diri sebuah bangsa yang besar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image