Ketika Kata Plot Twist Masuk ke Kehidupan Sehari-hari
Gaya Hidup | 2026-02-04 10:55:01Oleh Wuri Syaputri
Dosen Universitas Andalas
Dalam beberapa waktu terakhir, satu istilah semakin sering muncul di linimasa dan percakapan sehari-hari: plot twist. Awalnya, istilah ini hidup di dunia sastra dan film untuk menandai perubahan arah cerita yang tidak terduga. Namun kini, ia dipakai untuk menceritakan pengalaman hidup. “Eh, plot twist.” “Hidup gue plot twist banget.” Bahasa sastra masuk ke bahasa keseharian.
Fenomena ini menarik karena menunjukkan bagaimana bahasa naratif merembes ke cara kita memahami realitas. Kehidupan tidak lagi sekadar dialami, tetapi juga diceritakan seolah-olah sebuah cerita. Kata plot twist memberi bingkai bahwa kejadian tak terduga bukan sekadar musibah atau kebetulan, melainkan bagian dari alur.
Dalam linguistik, ini berkaitan dengan konsep narativisasi pengalaman. Jerome Bruner (1991) menjelaskan bahwa manusia memahami dunia melalui cerita. Pengalaman yang acak dan kompleks disusun ulang dalam bentuk narasi agar terasa masuk akal. Dengan menyebut suatu kejadian sebagai plot twist, penutur sedang menata ulang peristiwa agar sesuai dengan logika cerita.
Menariknya, plot twist tidak selalu digunakan untuk peristiwa besar. Hal-hal kecil pun sering diberi label ini. Rencana yang batal, pertemuan tak sengaja, atau kabar mendadak bisa disebut plot twist. Bahasa memperbesar makna kejutan dan membuatnya layak diceritakan.
Istilah ini juga memperlihatkan pergeseran cara kita memberi makna pada ketidakpastian. Alih-alih menyebutnya kesialan atau kebetulan, plot twist memberi nuansa ringan dan bahkan menghibur. Bahasa bekerja sebagai peredam. Kejutan hidup dilunakkan dengan istilah yang terasa akrab dari dunia hiburan.
Dalam kajian wacana, penggunaan istilah populer lintas ranah seperti ini disebut recontextualization. Istilah berpindah dari satu domain ke domain lain dan membawa serta makna baru. Fairclough (1995) menjelaskan bahwa proses ini lazim terjadi dalam budaya media, ketika bahasa hiburan menjadi rujukan untuk memahami realitas sosial.
Penggunaan plot twist juga menciptakan jarak emosional. Dengan menyebut peristiwa hidup sebagai bagian dari cerita, penutur mengambil posisi sebagai narator, bukan sekadar pelaku. Bahasa memberi ruang untuk melihat diri sendiri dari luar. Ini membuat pengalaman terasa lebih bisa dikendalikan, meskipun sebenarnya tidak.
Namun, ada konsekuensi dari kebiasaan ini. Ketika semua kejutan disebut plot twist, pengalaman hidup berisiko direduksi menjadi konten. Sesuatu yang seharusnya direnungkan bisa berubah menjadi bahan cerita singkat. Bahasa membantu kita bercerita, tetapi juga bisa menipiskan kedalaman.
Di media sosial, kecenderungan ini semakin kuat. Kehidupan sering dipresentasikan sebagai rangkaian episode. Bahasa seperti plot twist membantu menjaga narasi tetap menarik. Tidak ada cerita yang datar, karena selalu ada kemungkinan belokan.
Dari sudut pandang bahasa, ini menunjukkan bahwa kosakata bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga alat pengorganisasi pengalaman. Kata yang kita pilih menentukan bagaimana peristiwa ditempatkan dalam ingatan. Plot twist membuat kejutan terasa bermakna, bukan sekadar mengganggu.
Namun, penting juga menyadari bahwa hidup tidak selalu mengikuti logika cerita. Tidak semua kejutan punya klimaks atau penjelasan. Bahasa bisa membantu kita memahami, tetapi tidak selalu mampu menjelaskan semuanya. Di sinilah batas bahasa bekerja.
Pada akhirnya, popularitas kata plot twist menunjukkan bagaimana budaya cerita memengaruhi cara kita berbicara tentang diri sendiri. Kita hidup, lalu menceritakannya kembali dengan bahasa yang tersedia. Dan hari ini, bahasa itu banyak dipinjam dari dunia hiburan.
Daftar Pustaka
Bruner, J. (1991). The narrative construction of reality. Critical Inquiry, 18(1), 1–21.
Fairclough, N. (1995). Media discourse. London: Edward Arnold.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
