Isra Mi'raj : Peristiwa Spiritual dan pesan Politik
Agama | 2026-02-03 19:24:10
_Oleh : Euis Eva Nurbaniasih_
Peristiwa Isra Mi‘raj merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam. Isra Mi‘raj bukan hanya peristiwa spiritual yang sarat mukjizat. Isra Mi‘raj juga mengandung pesan politik dan peradaban yang sangat mendalam, yakni ideologi yang memimpin kehidupan manusia secara menyeluruh di bawah kepemimpinan global.
Kewajiban shalat lima waktu merupakan salah satu pesan inti Isra Mi‘raj dan satu-satunya ibadah yang Allah SWT wajibkan secara langsung kepada Rasulullah ﷺ di Sidratul Muntaha tanpa perantara. Hal ini menunjukkan kedudukan shalat sebagai fondasi utama pembentukan manusia bertakwa yang layak memikul amanah besar kepemimpinan global. Allah SWT berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
" _Mintalah kalian pertolongan dengan sabar dan shalat (TQS al-Baqarah [2]: 45)."_
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa shalat adalah amal pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat. Shalat sekaligus menjadi pembeda antara iman dan kufur. Selain itu, al-Quran juga menegaskan “fungsi sosial” shalat:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
" _Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (TQS al-‘Ankabut [29]: 45)."_
Dengan demikian shalat tidak hanya membentuk kesalehan individual. Shalat juga melahirkan manusia yang baik secara sosial seperti memiliki sifat jujur, amanah dan adil. Ini adalah di antara sifat-sifat yang diperlukan bagi kepemimpinan Islam.
Tampak jelas ketika Rasulullah ﷺ memimpin shalat para nabi di Masjid al-Aqsha. Peristiwa ini bukan simbol kosong. Ia adalah isyarat ilahiyah tentang kepemimpinan Islam atas seluruh umat manusia dan seluruh risalah sebelumnya
indikasi politik yang sangat kuat tentang kepemimpinan umat Islam atas dunia.
Kepemimpinan Islam atas seluruh agama dan bangsa setelah beliau diutus sebagai rasul terakhir ,terwujud secara konkret setelah Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah saat beliau menegakkan Negara Islam. Negara Islam tersebut memimpin masyarakat majemuk yang terdiri dari kaum Muslim dan non-Muslim.
Setelah era Negara Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah ﷺ, kepemimpinan Islam global mencapai bentuk institusionalnya dalam wujud Khilafah Islam.
Akan tetapi, tragedi besar menimpa umat Islam ketika Khilafah dihancurkan pada 28 Rajab 1342 H (3 Maret 1924 M).
Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan fungsi vital kepemimpinan Islam:
الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
"_Imam (Khalifah) itu adalah perisai (pelindung); orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dia (HR al-Bukhari dan Muslim)._ "
Tanpa perisai ini, umat Islam terpecah menjadi puluhan negara lemah yang mudah dikendalikan, diintervensi bahkan dijajah.
Itulah yang terjadi sejak Khilafah Islam diruntuhkan hingga saat ini. Palestina yang dijajah Yahudi selama puluhan tahun hingga hari ini hanyalah salah satu contohnya. Padahal dulu, selama ratusan tahun, Palestina aman dan damai di bawah kekuasaan Khilafah Islam .
Dunia hari ini hidup di bawah teror hegemoni globalisasi kapitalistik sehingga memperparah kemiskinan, ketidakstabilan politik dan ketimpangan sosial di banyak negara berkembang,pasar bebas tanpa kendali, moral dan keadilan hanya menguntungkan segelintir elit global, juga membuktikan secara empiris bahwa kapitalisme modern secara sistematis memperlebar antara si kaya dan si miskin.
Islam tentu berbeda, dalam Islam, penguasa adalah pelayan umat dan penjaga hukum-hukum Allah SWT. Maka dari itu, ideologi Islam dengan kepemimpinan global Khilafah bukan sekadar alternatif, melainkan solusi peradaban yang rasional, historis dan manusiawi karena berbasis wahyu, bukan hawa nafsu. Selama Kapitalisme memimpin dunia, keadilan sejati hanyalah slogan kosong.
Khilafahlah—yang menerapkan syariah Islam secara kâffah—yang bakal mampu (sebagaimana dulu) mewujudkan keadilan sejati sekaligus memimpin manusia menuju kesejahteraan dan keridhaan Allah SWT.
Wallâhu a‘lam bish-shawâb.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
