Nipah: Ancaman Zoonosis yang Perlu Diwaspadai di Banyuwangi
Kabar WHO | 2026-02-02 13:29:24Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis berfatalitas tinggi yang berpotensi menular dari satwa liar ke manusia, dengan risiko meningkat di wilayah berkeanekaragaman hayati tinggi seperti Banyuwangi meskipun belum ada kasus terlapor. Pendekatan One Health melalui peran institusi akademik seperti FIKKIA Universitas Airlangga menjadi kunci dalam penguatan surveilans, edukasi, dan kesiapsiagaan menghadapi potensi spillover.
India telah mengkonfirmasi adanya dua kasus positif terinfeksi virus Nipah pada 12 Januari 2026 di West Bengal. Keduanya merupakan tenaga medis di rumah sakit swasta dan tidak memiliki riwayat keluar wilayah West Bengal. Pasien menunjukkan gejala demam tinggi, ganggunan pernafasan dan saraf sehingga dirawat secara intensif. Investigasi telah dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran virus Nipah. Faktor resiko dan negara-negara di Asia telah mengintensifkan pemeriksaan kesehatan di pintu masuk internasional (WHO, 2026a).
WHO menilai resiko penularan antar manusia maupun hewan ke manusia masih sangat berpotensi terjadi, namun hal tersebut dapat diminalkan melalui penanganan kasus, pelacakan kontak, dan penerapan tatalaksana yang sesuai. WHO merekomendasikan penguatan komunikasi resiko dan tatalaksanan di fasilitas kesehatan. WHO juga menyebutkan bahwa resiko penyebaran lintas negara rendah namun resiko dan ancaman penyakit ini tetap nyata, terutama di kawasan sekitar Asia, termasuk Indonesia, khususnya Banyuwangi (WHO, 2026b).
Sebagai wilayah yang berada di kawasan tropis dengan keanekaragaman hayati tinggi, dan masih terdapat ekosistem liar di sekitar Banyuwangi serta aktivitas manusia yang dekat dengan habitat satwa liar, kita perlu memahami lebih jauh apa itu virus Nipah, bagaimana gejala dan mekanisme penularannya, serta bagaimana mengantisipasinya secara tepat.
Apa itu Virus Nipah?
Virus Nipah (Nipah virus, NiV) merupakan salah satu virus yang memiliki sifat zoonosis yakni penyakit yang berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia. Virus ini tergolong dalam keluarga Paramyxoviridae dan genus Henipavirus, telah menjadi perhatian global karena tingkat penyebarannya yang tinggi serta belum adanya vaksin atau terapi spesifik yang disetujui. Reservoir alami virus ini adalah kelelawar buah (flying fox, genus Pteropus) dimana walapun hewan ini terinfeksi virus Nipah namun tidak ada gejala klinis dan menyebarkannya. Manusia dapat terinfeksi jika mereka melakukan kontak dekat dengan hewan yang terinfeksi atau cairan tubuhnya (seperti air liur atau urin).
Gejala Klinis
Manifestasi gejala klinis dari infeksi virus Nipah pada manusia sangat beragam, mulai dari ringan hingga fatal. Masa inkubasi secara umum berkisar 4-14 hari setelah teinfeksi. Penyakit ini menunjukkan gejala demam, sakit kepala dan disertai gangguan pernafasan seperti batuk, nyeri tenggorokan dan sesak nafas. Pada kasus yang lain menunjukkan gangguan saraf pusat berupa ensefalitis yang ditandai dengan penurunan kesadaran, disorientasi hingga koma. Infeksi ini dapat menimbulkan fatalitas yang tinggi (case fatality ratio (CFR)) 40-75%. Selain itu, penyintas dapat mengalamisekuela neurologis jangka panjang, dan kasus laten dengan kemunculan ulang gejala berbulan hingga beberapa tahun kedepan. Diagnosis laboratorium infeksi virus Nipah dilakukan pada fase akut dan konvalesen menggunakan RT-PCR dari cairan tubuh serta pemeriksaan antibodi dengan ELISA (WHO, 2026b. CDC, 2024a).
Pada Hewan
Pada hewan ternak, khususnya babi, infeksi virus Nipah menimbulkan manifestasi klinis dominan pada sistem pernapasan dan saraf, antara lain demam, dispnea, batuk, tremor otot, ataksia, hingga paresis atau paralisis. Gambaran klinis tersebut bersifat tidak spesifik dan menyerupai berbagai penyakit infeksi lain pada ternak, sehinggadiagnosis sering terlewat tanpa konfirmasi laboratorium.
Selain babi, infeksi virus Nipah juga dilaporkan pada hewan domestik lain seperti kuda, anjing, dan kucing, yang dapat menunjukkan gangguan neurologis akut, perubahan perilaku, kelemahan, hingga kematian mendadak. Sementara itu, kelelawar buah (genus Pteropus) sebagai reservoir alami umumnya tidak menunjukkan gejala klinis, namun mampu mengekresikan virus melalui urin, saliva, dan feses sehingga berperan penting dalam penularan lintas spesies.
Metode diagnosis infeksi virus Nipah pada hewan dalam dokumen FAO meliputi pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi virus dan respons imun. Teknik utama yang digunakan adalah isolasi virus, deteksi materi genetik dengan RT-PCR, serta uji serologis seperti ELISA untuk mendeteksi antibodi. Seluruh prosedur diagnostik harus dilakukan di laboratorium dengan tingkat keamanan hayati tinggi karena risiko penularan yang serius (FAO, 2022)
Cara Penularan
Virus Nipah ditularkan melalui berbagai jalur transmisi yang melibatkan interaksi antara hewan, manusia, dan lingkungan. Penularan dari hewan ke manusia terjadi terutama melalui kontak langsung dengan kelelawar sebagai reservoir alami, termasuk paparan terhadap urin, saliva, atau feses yang mengandung virus, serta melalui konsumsi bahan pangan yang terkontaminasi oleh ekskresi kelelawar, seperti buah atau minuman. Selain itu, hewan ternak yang terinfeksi, khususnya babi, dapat berperan sebagai inang perantara dan menularkan virus ke manusia melalui kontak langsung. Penularan antar manusia juga telah dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan cairan tubuh pasien terinfeksi, termasuk droplet dan sekresi respiratorik. Meskipun kemampuan penularan virus Nipah relative lebih rendah dibandingkan virus pernapasan seperti SARS-CoV-2, infeksi ini memiliki tingkat fatalitas yang tinggi, sehingga tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang serius (WHO, 2026a. WHO, 2026b).
Apakah Banyuwangi Beresiko?
Hingga saat ini belum dilaporkan adanya kasus infeksi virus Nipah pada manusia di Indonesia, termasuk di wilayah Banyuwangi. Namun demikian, kegiatan surveilans satwa liar di sejumlah wilayah Indonesia telah mendeteksi keberadaan antibodi virus Nipah pada populasi kelelawar buah (Pteropus), yang mengindikasikan adanya paparan virus di lingkungan alami. Sebaran kelelawar buah yang luas di Indonesia, termasuk pada ekosistem hutan dan kawasan pegunungan di sekitar Banyuwangi, menempatkan potensi kejadian spillover, yaitu perpindahan virus dari satwa ke manusia, sebagai risiko yang perlu diantisipasi. Risiko tersebut dapat meningkat terutama apabila terjadi gangguan habitat alami akibat aktivitas manusia, yang memperbesar intensitas interaksi antara manusia, hewan domestik, dan satwa liar.
FIKKIA Universitas Airlangga di Banyuwangi memiliki Program Studi Kedokteran, Kedokteran Hewan, Kesehatan Masyarkat dan Aquaculture dimana secara berkesinambungan berorientasi pada pendidikan One Health, yaitu pendekatan terpadu yang mengaitkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam menjawab tantangan penyakit menular, khususnya zoonosis.
Mengingat Banyuwangi berada di kawasan yang beragam secara ekologis dan dekat dengan ekosistem hutan serta potensi satwa liar seperti kelelawar buah, maka kehadiran FIKKIA membantu menguatkan kapasitas lokal dalam pemantauan kesehatan, surveilans penyakit zoonotik, serta kesiagaan respons awal terhadap ancaman kesehatan masyarakat melalui pendidikan, pelatihan, dan kerja sama institusional dengan fasilitas kesehatan di Banyuwangi.
Selain itu, kurikulum dan program pendidikan seperti travel medicine dan kesehatan masyarakat di FIKKIA memperkuat kemampuan tenaga kesehatan lokal untuk memahami risiko spillover dari satwa liar ke manusia, yang merupakan aspek penting dalam mengantisipasi kejadian seperti potensi spillover virus Nipah di Indonesia.
Himbauan untuk Masyarakat
Masyarakat disarankan untuk menghindari kontak langsung dengan hewan yang berpotensi terinfeksi virus Nipah, seperti kelelawar, babi, dan kuda. Apabila kontak tidak dapat dihindari, penggunaan alat pelindung diri (APD) yang sesuai menjadi keharusan. Konsumsi nira atau aren segar langsung dari pohon perlu dihindari karena berisiko terkontaminasi ekskresi kelelawar pada malam hari; oleh karena itu, nira harus dimasak terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Buah-buahan sebaiknya dicuci dan dikupas secara menyeluruh, serta tidak dikonsumsi apabila terdapat tanda gigitan kelelawar. Produk hewan, khususnya daging ternak, harus dikonsumsi dalam kondisi matang sempurna.
Selain itu, penerapan protokol kesehatan dasar perlu diperkuat, meliputi kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, penerapan etika batuk dan bersin, serta penggunaan masker, terutama bagi individu dengan gejala atau kelompok rentan. Pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) harus diterapkan secara konsisten, khususnya oleh tenaga kesehatan, tenaga medis, dan anggota keluarga yang melakukan kontak dengan pasien. Bagi individu yang melakukan perjalanan ke India atau negara terjangkit, dianjurkan untuk mematuhi protokol kesehatan dan imbauan resmi dari otoritas kesehatan setempat. Apabila muncul gejala yang mengarah pada infeksi virus Nipah, seperti demam, batuk, pilek, atau sesak napas, pemeriksaan segera ke fasilitas pelayanan kesehatan sangat dianjurkan (CDC, 2024b).
Penulis: Igo Syaiful Ihsan, drh., M.Si.
Dosen dan Peneliti di Prodi Kedokteran Hewan, Divisi Ilmu Kedokteran Dasar Veteriner
Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
