Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ragil Angga Prastiya, drh., M.Si.

Outbreak Virus Nipah: Ancaman Laten di Balik Bayang-Bayang Zoonosis

Info Terkini | 2026-02-02 11:16:57

Oleh: Ragil Angga Prastiya, drh., M.Si., Dosen Reproduksi Veteriner, Program Studi Kedokteran Hewan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA), Universitas Airlangga, Banyuwangi

Publikasi ilmiah: Branda et al. (2025) dalam https://doi.org/10.3390/microorganisms13010124

Sejak wabah pertama di Malaysia pada akhir 1990-an, virus Nipah (Nipah virus atau NiV) terus menunjukkan dirinya bukan sekadar isu kesehatan tersendiri, melainkan cerminan kegagalan kita memahami interaksi kompleks antara manusia, hewan, dan lingkungan. Baru-baru ini, laporan wabah di Negara Bagian West Bengal, India, menarik perhatian lintas benua karena dua tenaga kesehatan dikonfirmasi terinfeksi dan memicu respons darurat oleh otoritas kesehatan beberapa negara Asia. Meski otoritas India menyatakan wabah tersebut berhasil dikendalikan melalui pelacakan kontak dan pengujian intensif, kewaspadaan tetap tinggi mengingat sejarah panjang NiV dengan tingkat fatalitas yang mengkhawatirkan.

Virus Nipah adalah patogen zoonotik RNA dari keluarga Paramyxoviridae yang menyerang manusia dan hewan, terutama melalui reservoir utama yaitu kelelawar buah (genus Pteropus). Transmisi ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh sekresi hewan, serta melalui kontak dekat antarmanusia, terutama dalam pengaturan perawatan kesehatan. Karena sifatnya yang dapat menyebabkan ensefalitis fatal dan pneumonia berat, Nipah memiliki tingkat kematian kasus (case fatality rate) yang sangat tinggi, berkisar antara 40 % hingga 75 % tergantung pada respons klinis lokal dan kapasitas perawatan. Hingga kini, belum ada vaksin atau terapi khusus yang disetujui secara luas untuk manusia maupun hewan.

Fenomena spillover yaitu melompatnya patogen dari hewan ke manusia yang menjadi karakteristik Nipah bukan sekadar kasus epidemiologis tersendiri, melainkan alarm ekologis. Perubahan penggunaan lahan, fragmentasi habitat, serta peningkatan kontak antara populasi manusia dan fauna liar memfasilitasi interaksi yang sebelumnya terisolasi. Kelelawar buah Pteropus, yang tersebar ekstensif di kawasan tropis Asia termasuk Indonesia, tampil sebagai reservoir tanpa gejala klinis sendiri, namun mampu menyimpan dan menyebarkan virus dengan cara yang sangat rumit. Studi surveilans terbaru di Indonesia bahkan mengonfirmasi adanya Nipah virus RNA pada populasi kelelawar di Kalimantan, menunjukkan sirkulasi virus di wilayah yang ecologically relevant bagi potensial spillover.

Konteks Indonesia membuat semua ini lebih dari sekadar risiko teoretis. Negara kepulauan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, habitat kelelawar yang luas, serta interaksi manusia-hewan yang intens, terutama di daerah pedesaan dan peri-urban. Distribution kelelawar buah dalam perkampungan dan agroforestri, serta praktik budaya yang mungkin melibatkan konsumsi produk tumbuhan yang berpotensi terkontaminasi, membentuk kondisi yang ideal bagi spillover zoonotik serupa yang telah terjadi di Bangladesh dan India. Di Bangladesh, misalnya, penyakit ini secara tahunan muncul dalam bentuk wabah terkait konsumsi nira yang terkontaminasi, data epidemiologis ini mencatat lebih dari 300 kasus dengan fatalitas di atas 70 %, membuktikan virulensi virus yang tinggi dan risiko sosial yang nyata.

Walau transmisi nipah antarmanusia selama ini relatif kurang efisien dibandingkan virus pernapasan seperti influenza atau SARS-CoV-2, sifat laten dan lama masa inkubasi hingga beberapa minggu meningkatkan tantangan dalam deteksi dini. Interaksi dalam sistem pelayanan kesehatan yang tidak dilindungi dengan ketat telah menempatkan tenaga kesehatan pada risiko tinggi, sebagaimana terlihat dari kasus terbaru di India. Ini menggarisbawahi bahwa meskipun penyebaran berskala besar belum terlihat, tidak berarti sistem kesehatan dan masyarakat boleh lengah.

Dalam lanskap ancaman ini, peran dokter hewan dan pendekatan kesehatan berbasis One Health menjadi sangat krusial. One Health adalah paradigma integratif yang menyatukan sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan ekologi lingkungan dalam respons kolaboratif terhadap ancaman penyakit zoonotik. Dokter hewan berada di garis depan dalam memantau dan mengelola risiko pada populasi hewan yang berpotensi menjadi reservoir atau perantara penularan virus. Mereka adalah ujung tombak dalam tugas surveilans, diagnosis, dan mitigasi, mulai dari pemeriksaan kesehatan satwa liar dan ternak, pengendalian penyakit pada populasi hewan, hingga kontribusi pada sistem informasi epidemiologi gabungan lintas sektor. Tanpa pemantauan yang efektif terhadap kesehatan hewan, terlebih dalam hubungan lintas spesies, kita hanya akan bereaksi setelah manusia menjadi korban berikutnya.

Pendekatan ini harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan konkret yang memperkuat kapasitas laboratorium diagnostik veteriner di berbagai wilayah, meningkatkan ketersediaan dan akurasi uji molekular untuk deteksi awal virus, serta menjamin integrasi data antara sektor kesehatan manusia dan hewan. Investasi dalam sumber daya manusia vokasional veteriner juga perlu diimbangi oleh pelatihan in situ yang memperluas keterampilan klinis dan epidemiologis dalam konteks penyakit emerging zoonotic. Integrasi ini bukan sekadar idealisme akademik, melainkan kebutuhan praktis untuk memperkecil peluang wabah zoonosis eskalatif di masa mendatang.

Lebih jauh lagi, edukasi publik yang berbasis bukti tentang perilaku yang meningkatkan risiko paparan, seperti kontak tidak terlindungi dengan satwa liar atau konsumsi makanan yang mungkin terkontaminasi, harus diperluas sebagai bagian dari strategi pencegahan berbasis komunitas. Pendekatan yang hanya bergantung pada deteksi pasca gejala manusia tidak akan efektif dalam mencegah spillover. Perubahan perilaku sejak akar (melalui pendidikan kesehatan masyarakat, pengelolaan habitat satwa, dan praktik sanitasi yang baik) akan memperkuat ketahanan sosial terhadap ancaman zoonotik.

Kalau kita bisa refleksi terhadap pengalaman global, terutama saat pandemi COVID-19 tahun 2020-2022, kesiapsiagaan epidemiologis yang baik bukan sekedar respons terhadap kejadian, tetapi perencanaan strategis berkelanjutan yang mengintegrasikan data ilmiah, kebijakan publik, dan kerjasama komunitas. Dalam kejadian Nipah, peluang untuk bertindak sekarang masih terbuka. Sejatinya Indonesia tidak hanya perlu waspada terhadap deteksi kasus pertama, tetapi harus memimpin dalam intervensi preventif yang terkoordinasi. Melalui penguatan peran dokter hewan dalam kerangka One Health, negara ini dapat memperkecil celah antara manusia dan patogen yang menjulang di horizon kesehatan global.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image