Pentingnya Meraih Hidayah di Zaman Penuh Fitnah
Agama | 2026-01-30 10:28:00
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم
”Allah menjadikan kamu cinta kepada iman dan menghiasinya dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Hujurāt: 7)
Di tengah kehidupan yang semakin penuh fitnah, ketika maksiat dianggap biasa, kebenaran sering dikaburkan, dan nilai agama terasa asing, maka menjaga dan meraih hidayah menjadi semakin sulit sekaligus semakin penting. Fitnah zaman bukan hanya berupa kemaksiatan yang tampak, tetapi juga syubhat yang membingungkan, informasi yang menyesatkan, serta gaya hidup yang menjauhkan manusia dari Allah SWT.
Manusia umumnya sudah terbiasa mengukur nikmat dengan standar ukuran lahiriah seperti banyaknya harta, tingginya jabatan, luasnya ilmu, dan nyamannya kehidupan. Padahal, semua nikmat itu bisa berubah menjadi malapetaka bila tidak disertai dengan taufiq dan hidayah dari Allah SWT.
Harta tanpa hidayah melahirkan kesombongan, ilmu tanpa hidayah melahirkan kesesatan, dan kekuasaan tanpa hidayah melahirkan kezaliman. Sebaliknya, sedikit harta dengan hidayah menghadirkan rasa cukup, sedikit ilmu dengan taufiq melahirkan amal sholih, dan sedikit amal dengan keikhlasan bernilai besar di sisi Allah SWT.
Ayat di awal tulisan ini menegaskan bahwa iman dan hidayah bukan semata hasil kecerdasan, pendidikan, atau lingkungan, melainkan anugerah Allah SWT yang ditanamkan di dalam hati seorang hamba. Ketika seseorang mencintai ketaatan dan membenci kemaksiatan, itulah tanda bahwa Allah SWT telah menganugerahkan kepadanya nikmat yang sangat mahal, yakni taufiq dan hidayah.
Hidayah adalah petunjuk untuk mengenal kebenaran, sedangkan taufiq adalah kemampuan untuk mengamalkannya. Tidak sedikit orang mengetahui mana yang benar, tetapi tidak sanggup melaksanakannya. Karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya menunggu hidayah, melainkan harus menjemputnya dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh.
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”(QS. Al-‘Ankabut: 69)
Ikhtiar meraih hidayah dilakukan dengan menyadari kelemahan diri di hadapan Allah SWT, lalu memohon petunjuk-Nya melalui doa yang terus-menerus, mendekatkan diri kepada Al-Qur’an sebagai sumber cahaya kehidupan, menjaga pergaulan yang menumbuhkan iman, menjauhi dosa yang dapat mengeraskan hati, serta bersabar dalam ketaatan dan istiqomah di tengah derasnya fitnah zaman.
Karena itulah Allah SWT mengajarkan kepada kita doa yang sering dibaca dalam sholat: “Ihdinash shirāthal mustaqīm” (Tunjukilah kami jalan yang lurus).” (QS. Al-Fatihah: 6). Doa ini menunjukkan bahwa hidayah bukan sekali dapat lalu selesai, melainkan sesuatu yang harus terus dimohon dan dijaga, karena hidayah bisa bertambah dan bisa pula dicabut.
Allah SWT menegaskan bahwa hidayah bukan hasil kepintaran, keturunan, ataupun status sosial. Hidayah adalah murni karunia Allah SWT. Ada orang hidup di lingkungan Islam namun jauh dari ketaatan, dan ada pula yang baru mengenal Islam lalu istiqomah dalam ibadah. Semua itu bukan karena kehebatan diri, melainkan karena Allah SWT mengaruniakan cahaya petunjuk ke dalam hatinya.
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada siapa yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”(QS. Al-Qashash: 56)
Di zaman penuh fitnah ini, Ketika kita masih mau sholat, menjaga halal dan haram, takut berbuat dosa, serta ingin selalu memperbaiki diri, sesungguhnya kita sedang berada dalam lindungan hidayah Allah SWT. Karena itu, tugas kita bukan hanya mensyukuri hidayah, tetapi juga menjaganya dan menjemputnya dengan ikhtiar yang terus-menerus.
“Ya Rabb kami, jangan Engkau cabut nikmat iman, Islam, taufiq, dan hidayah dari hati kami. Tetapkanlah kami di atas jalan-Mu hingga Engkau wafatkan kami dalam keadaan husnul khātimah.”
Sahabat,
Selamat menikmati Sayyidul Ayyam, Jum’at penuh berkah.
Semoga taufiq dan hidayah Allah SWT selalu menyertai kita hingga akhir hayat.
آمِيْن يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
