Ketika Syukur Menjadi Jalan Berbuat Baik
Khazanah | 2026-01-12 16:49:22Setiap hari yang kita jalani sejatinya adalah nikmat besar. Mata yang masih bisa melihat, napas yang terus mengalir, dan kesempatan melanjutkan hidup—semuanya bukan peristiwa biasa. Rasulullah mengajarkan doa sebagai pengakuan sederhana namun mendalam: hidup adalah anugerah, dan kelak kita akan kembali kepada-Nya.
Syukur bukan sekadar ucapan, tetapi sikap batin yang menenangkan hati dan membuka pintu keberkahan. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu” (QS. Ibrahim: 7). Sebaliknya, keluh kesah yang terus dipelihara sering kali menutup mata kita dari nikmat yang jauh lebih banyak daripada musibah yang dirasakan.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa dosa dapat menjadi penghalang rezeki. Barangkali ini menjelaskan mengapa hati yang enggan bersyukur mudah lelah, mudah iri, dan sulit merasa cukup. Kita lebih sibuk menghitung kekurangan daripada mensyukuri karunia yang terus mengalir.
Al-Qur’an mengajarkan doa indah melalui Nabi Sulaiman dalam QS. An-Naml ayat 19. Doa itu bukan hanya permohonan agar mampu bersyukur, tetapi juga agar dituntun untuk beramal saleh dan kelak dikumpulkan bersama orang-orang yang saleh. Menurut tafsir Ibnu Katsir, doa ini dipanjatkan Nabi Sulaiman saat menyadari nikmat besar yang Allah berikan—bukan hanya kekuasaan, tetapi iman dan kepekaan hati.
Syukur sejati selalu berujung pada amal. Allah Maha Mensyukuri kebaikan hamba-Nya, bahkan yang tampak kecil di mata manusia. Seperti tetesan air yang menumbuhkan pohon rindang, atau rumput sederhana yang menguatkan tubuh hewan besar, demikian pula amal yang ikhlas—sedikit namun dilipatgandakan manfaatnya oleh Allah.
Karena itu, jangan remehkan kesempatan berbuat baik. Saat melewati kotak amal di masjid, ketika ada peluang wakaf, atau ketika ada orang membutuhkan pertolongan—ambil kesempatan itu. Bukan besar kecilnya amal yang menentukan nilainya, melainkan keikhlasan di dalamnya.
Kita mungkin tak pernah tahu amal mana yang kelak menjadi penyelamat. Namun satu hal yang pasti, tidak ada kebaikan yang sia-sia di hadapan Allah. Semoga kita termasuk hamba yang pandai bersyukur, ringan berbuat baik, dan diridhai setiap langkah amalnya. Aamiin.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
