Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nabila Khoiriyah Az-Zahro

Etika Muamalah: Fondasi Karakter Anak di Dunia Digital

Parenting | 2026-01-18 21:16:33

ETIKA DI BALIK LAYAR: Membangun Prinsip Muamalah dalam Pergaulan Anak Masa Kini

Di era digital saat ini, interaksi sosial tidak lagi dibatasi oleh ruang fisik. Layar digital, terutama ponsel, telah bertransformasi menjadi “panggung utama” bagi generasi muda untuk membangun interaksi, komunikasi, transaksi, hingga mengekspresikan diri. Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan moral yang besar. Anonimitas di media sosial seringkali membuat generasi muda melupakan batasan adab.

Fenomena cyberbullying atau perundungan digital melalui media sosial, game online, maupun pesan singkat, sudah semakin marak dengan tujuan menyakiti, mengancam, hingga menjatuhkan martabat orang lain. Selain itu, penyebaran berita bohong (hoax) oleh pihak tidak bertanggung jawab seringkali menyesatkan masyarakat, terutama kalangan orang tua yang cenderung mudah percaya tanpa melakukan verifikasi (tabayyun) terlebih dahulu.

Masalah lain muncul dalam aspek ekonomi digital, seperti transaksi yang tidak transparan di mana barang yang diterima pembeli tidak sesuai dengan deskripsi penjual. Rentetan masalah ini mengindikasikan adanya krisis etika digital, oleh karena itu, revitalisasi prinsip muamalah sangat dibutuhkan sebagai pedoman etika di balik layar.

Dalam perkembangannya, istilah muamalah memiliki pengertian secara khusus dan umum. Dalam arti khusus, muamalah adalah aturan-aturan yang ditetapkan Allah SWT untuk mengatur hubungan antar manusia dalam memenuhi kebutuhan jasmani, seperti hukum terkait makanan, minuman, pakaian, dan kepemilikan barang. Sedangkan secara umum, muamalah adalah peraturan Allah SWT yang wajib dipatuhi dalam hubungan kemasyarakatan demi menjaga fitrah dan kepentingan manusia dalam urusan duniawi, di tengah pergaulan sosial yang semakin kompleks.

Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa manusia adalah makhluk sosial. Merujuk pada QS. Al-Hujurat: 13, Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, yang dalam konteks masa kini mencakup pergaulan di ruang siber. Jadi, muamalah tidak hanya berkutat pada pertukaran barang dan jasa semata, tetapi juga mencakup seluruh adab hubungan kemasyarakatan.

• Tantangan Penggunaan Teknologi pada Anak

Sayangnya, penggunaan ponsel saat ini seringkali tidak dibatasi, bahkan bagi anak usia dini, Padahal, orang tua memiliki kewajiban penuh untuk mengawasi penggunaan teknologi tersebut. Ponsel ibarat pisau bermata dua; ia memiliki sisi positif bisa sebagai sarana belajar, dapat mengakses informasi yang ingin dicari dengan cepat, namun juga memiliki sisi negatif yang destruktif jika tidak diawasi, seperti kecanduan game, video kekerasan tanpa sensor, dll. Tanpa pendampingan, anak-anak dapat terpapar konten buruk yang merusak karakter mereka tanpa disadari oleh orang tua.

• Peran Pendidikan dan Masyarakat dalam Menjaga Etika Digital

Selain keluarga, lingkungan pendidikan dan masyarakat memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai muamalah. Sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu (transfer of knowledge), tetapi juga ruang pembentukan akhlak (transfer of values). Pendidik bertanggung jawab mengintegrasikan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan saling menghormati dalam penggunaan teknologi. Hal ini sejalan dengan konsep QS. Al-Ahzab: 70 yang memerintahkan manusia untuk selalu berkata benar (qaulan sadida). Masyarakat juga berperan sebagai kontrol sosial melalui budaya amar ma’ruf nahi munkar. Kritik dan nasihat yang disampaikan secara santun di ruang digital akan membantu menciptakan ekosistem yang sehat. Dengan demikian, media sosial tidak lagi menjadi ruang bebas nilai, melainkan tetap berada dalam koridor norma Islam.

• Muamalah sebagai Landasan Etika Bermedia Sosial

Implementasi nilai-nilai muamalah seperti kejujuran (ṣidq), keadilan (‘adl), tanggung jawab (amanah), dan saling ridha (antarāḍin) sangat relevan diterapkan dalam aktivitas digital. Setiap unggahan dan komentar adalah bentuk interaksi sosial yang akan dimintai pertanggungjawaban. Hal ini sejalan dengan pesan mendalam dari Rasulullah SAW mengenai kriteria seorang muslim yang ideal. Beliau menegaskan bahwa identitas keislaman seseorang tercermin dari kemampuannya untuk menjamin keamanan orang lain, di mana sesama Muslim harus merasa selamat dari gangguan lisan maupun tangannya (HR. Bukhari). Dalam konteks kekinian, “lisan” tersebut terwakili melalui kolom komentar dan status, sementara “tangan” mewakili setiap ketikan serta klik yang kita lakukan di balik layar ponsel. Kesadaran akan prinsip muamalah menjadi kunci untuk menekan ujaran kebencian, penipuan daring, dan penyebaran informasi palsu. Tidak semua hal yang viral layak dibagikan, dan tidak semua opini perlu disampaikan tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.

• Keluarga: Laboratorium Pertama Karakter

Keluarga adalah tempat pertama komunikasi diajarkan, orang tua adalah pendidik utama yang bertanggung jawab memahat karakter anak. Model komunikasi yang ideal adalah model interaksional, di mana terjadi dialog aktif, reflektif, dan kreatif antara orang tua dan anak. Penggunaan pola asuh demokratis sangat penting agar anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan memiliki kontrol diri yang kuat. Hal ini merupakan bekal agar anak tidak mudah terbawa arus tren negatif atau FOMO (Fear of Missing Out) di internet.

Namun, terdapat hambatan seperti kesibukan orang tua (internal) dan pengaruh buruk lingkungan serta gadget (eksternal) yang seringkali menghalangi dialog berkualitas. Menanamkan Muamalah dalam Keseharian, untuk mengimplementasikan muamalah secara nyata, diperlukan beberapa langkah: - Keteladanan: Orang tua harus memberi contoh nyata secara konsisten dalam berakhlak mulia didunia nyata maupun di media sosial. - Pemberian Tanggung Jawab: Melatih kejujuran dan integritas anak melalui kepercayaan yang diberikan, seperti pemberian tugas untuk diselesaikan anak, agar melatih sikap tanggung jawab dalam dirinya, tugas disesuaikan dengan usia anak saat itu. - Mendengarkan dengan Simpati: Membangun komunikasi yang peka terhadap perasaan lawan bicara, mengajarkan anak bukan hanya untuk bisa menyampaikan pendapat dengan baik, tetapi juga belajar diam dan mendengarkan saat orang lain berbicara.

Anak adalah amanah yang akan menjadi penerus bangsa dan agama, membawa prinsip muamalah ke balik layar berarti memastikan setiap interaksi didasari oleh cinta, kasih sayang, dan tanggung jawab kepada Allah SWT. Karakter kuat yang dibangun dalam keluarga akan menjadi kompas terbaik bagi anak muda dalam menavigasi dunia digital yang tanpa batas.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image