Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Faika

Jarang Dibahas, Inilah Pesantren Tertua di Sulsel yang Melahirkan Banyak Ulama

Agama | 2026-01-18 17:38:11

Kalau membicarakan pendidikan Islam di Sulawesi Selatan, nama pesantren sering kali hanya lewat sekilas. Padahal, jauh sebelum sekolah modern berkembang, pesantren sudah lebih dulu menjadi pusat pembelajaran agama sekaligus pembentukan karakter masyarakat. Salah satu yang memiliki peran besar, namun jarang dibahas secara luas, adalah Pesantren As’adiyah Sengkang.

Pesantren ini didirikan oleh Anregurutta Haji Muhammad As’ad pada awal abad ke - 20. Di masa itu, akses pendidikan masih sangat terbatas dan tidak semua orang bisa belajar agama secara mendalam. As’adiyah hadir sebagai ruang belajar terbuka bagi masyarakat yang ingin memahami Islam dengan cara yang lebih mendalam dan berlandaskan tradisi keilmuan klasik. Sejak awal berdirinya, Pesantren As’adiyah dikenal konsisten mengajarkan kitab-kitab kuning sebagai rujukan utama. Namun, yang diajarkan bukan hanya soal hukum atau teori keagamaan, melainkan juga adab, kedisiplinan, dan sikap hidup sederhana.

Santri tidak hanya didorong untuk pintar, tetapi juga untuk berakhlak dan bertanggung jawab di tengah masyarakat. Dari pesantren inilah lahir banyak ulama besar dan tokoh agama yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur. Ada yang menjadi pendakwah di daerah terpencil, ada pula yang mendirikan pesantren dan lembaga pendidikan baru, jejak keilmuannya menyebar luas, meski sering kali tidak dibarengi dengan popularitas.

Yang menarik, pengaruh Pesantren As’adiyah tidak hanya terasa di lingkungan pesantren, tetapi juga di kehidupan sosial masyarakat sekitar. Nama As’adiyah sering disebut dengan penuh penghormatan, terutama ketika membicarakan sosok ulama yang dianggap alim, rendah hati, dan dekat dengan umat. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya institusi pendidikan, tetapi juga penjaga nilai dan moral.

Di tengah arus modernisasi, pesantren tua seperti As’adiyah kerap dipandang sebagai simbol masa lalu. Padahal, justru dari pesantren inilah fondasi pendidikan Islam di Sulawesi Selatan dibangun. Tanpa keberadaan pesantren-pesantren awal seperti ini, perkembangan keilmuan dan dakwah Islam di daerah ini mungkin tidak akan sekuat hingga sekarang. Bagi saya, membahas Pesantren As’adiyah Sengkang adalah cara untuk mengingat bahwa kemajuan hari ini tidak datang secara instan.

Ada proses panjang, ketekunan, dan pengabdian yang dilakukan oleh para ulama terdahulu. Mereka bekerja dalam sunyi, tanpa mengejar sorotan, tetapi hasilnya masih bisa kita rasakan hingga saat ini. Pesantren As’adiyah mengajarkan satu hal penting yaitu, bahwa ilmu yang bermanfaat tidak selalu lahir dari tempat yang megah dan terkenal, melainkan dari niat yang lurus dan proses yang konsisten. Mungkin karena itu, meski jarang dibahas, peran pesantren ini tetap hidup dalam ingatan dan praktik keagamaan masyarakat Sulawesi Selatan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image