Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Endang Rosdiana

Dunia, Rest Area Menuju Akhirat

Agama | 2026-02-08 10:01:13
Rest area dunia

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم

“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Dan persiapkanlah dirimu sebagai penghuni kubur.” (HR. Ibnu Umar r.a.).

Hadits ini mengajarkan kepada kita cara memandang dunia dengan sudut pandang yang benar. Kita tidak diminta membenci dunia, tetapi diajarkan agar tidak menjadikannya sebagai tujuan akhir. Dunia bukan rumah tinggal, melainkan tempat singgah. Dunia bukan kampung halaman, melainkan persinggahan sementara. Jika dianalogikan, dunia laksana sebuah rest area dalam perjalanan panjang menuju akhirat.

Seorang musafir yang menempuh perjalanan jauh tentu akan berhenti sejenak di rest area. Ia beristirahat, makan dan minum, lalu melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhirnya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk menetap di sana. Ia sadar bahwa rest area hanyalah tempat persinggahan, bukan tujuan.

Seorang musafir tidak akan membawa sesuatu yang justru akan membuat payah dalam perjalanannya. Tidak membangun rumah permanen di rest area atau tempat persinggahan karena kelak akan ditinggalkan dan tidak akan kembali lagi. Tidak menjadikan dunia sebagai pusat ambisi, akan tetapi sebagai zona ladang amal sholih untuk bekal menuju akhirat.

Demikian pula hakikat hidup manusia. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa pun, dan kelak akan meninggalkannya tanpa membawa apa pun kecuali amal perbuatan. Lahir, tumbuh, dewasa, menua, lalu wafat, itulah rangkaian perjalanan hidup. Setelah itu, kita berpindah menuju alam kubur dan kemudian menuju kehidupan akhirat yang kekal. Maka sungguh keliru bila dunia diperlakukan sebagai tempat tinggal selamanya.

Al-Qur’an menegaskan kefanaan dunia ini. Allah SWT berfirman:

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia, betapapun tampak penting dan menyita perhatian, pada hakikatnya hanyalah fase singkat. Ia ibarat tempat singgah sebelum sampai pada kehidupan yang sebenarnya, yaitu akhirat. Karena itu, dunia sejatinya adalah tempat mengisi bekal, bukan tempat berlama-lama menikmati persinggahan.

Namun, sering kali manusia terbalik dalam memahami fungsi dunia. Rest area justru dijadikan tujuan. Manusia sibuk menghias dunia, mengumpulkan harta, mengejar jabatan, dan memburu kenikmatan, seakan-akan tidak ada kehidupan setelah mati. Dunia diperlakukan seperti rumah abadi, sementara akhirat seolah hanya cerita jauh yang tak perlu dipikirkan. Padahal, kematian dapat datang kapan saja, tanpa menunggu kesiapan kita.

Seorang mukmin sejati adalah musafir yang sadar arah. Ia memanfaatkan dunia, tetapi tidak diperbudak olehnya. Ia bekerja, tetapi hatinya tidak bergantung sepenuhnya pada hasil duniawi. Ia memiliki harta, tetapi hartanya tidak memiliki dirinya. Dunia berada di tangannya, bukan di hatinya. Ia menikmati rezeki Allah dengan syukur, namun tetap mengingat bahwa semua itu hanyalah sarana untuk beribadah dan berbuat kebaikan.

Karena itu, di “rest area dunia” ini, ada bekal yang harus disiapkan. Bekal itu bukanlah rumah mewah atau kekayaan melimpah, tetapi iman yang kokoh, amal sholih yang ikhlas, serta akhlak yang mulia. Sholat, sedekah, kejujuran, kesabaran, dan kepedulian kepada sesama adalah perbekalan yang akan menyertai kita ketika dunia ditinggalkan. Semua yang lain akan tertinggal.

Perhentian berikutnya setelah dunia adalah kubur. Kubur bukan akhir perjalanan, melainkan gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya. Di sanalah harta dan jabatan tak lagi bernilai. Yang ditanya bukan seberapa tinggi kedudukan kita di dunia, tetapi seberapa tulus iman kita kepada Allah SWT dan seberapa banyak amal yang kita persembahkan.

Maka patutlah kita bertanya kepada diri sendiri: selama berada di rest area dunia ini, apakah kita sedang mengisi bekal atau justru larut dalam kesenangan? Apakah dunia masih kita perlakukan sebagai tempat singgah, atau sudah kita anggap sebagai kampung halaman?

Renungan ini penting agar kita tidak terjebak dalam ilusi dunia. Islam tidak melarang menikmati kehidupan, tetapi mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Kita boleh bekerja dan merencanakan masa depan, selama semuanya tidak membuat kita lupa bahwa ada perjalanan yang lebih panjang setelahnya.

Akhirnya, marilah kita jadikan dunia ini sebagai tempat singgah yang bermakna. Kita manfaatkan usia untuk memperbanyak amal, kita gunakan rezeki untuk menolong sesama, dan kita isi hari-hari dengan ketaatan kepada Allah SWT. Jangan sampai kita keluar dari dunia ini sebagai orang yang sibuk menikmati persinggahan, tetapi lupa menyiapkan tujuan.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang sadar bahwa dunia hanyalah rest area, dan akhirat adalah kampung halaman sejati. Semoga kita diberi kemampuan untuk memanfaatkan dunia sebagai bekal, bukan sebagai tujuan. Dan semoga saat tiba waktu melanjutkan perjalanan, kita termasuk orang-orang yang pulang kepada Allah SWT dalam keadaan husnul khotimah.

آمِيْن يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image