Antara Skandal Epstein dan Thufan Al Aqsha
Politik | 2026-02-22 11:38:59
Oleh Rahmawati Ayu Kartini
Pemerhati Sosial
Penting juga kita membahas file Epstein, bahkan para ulama pun membahasnya. File Epstein adalah dokumen hukum, kesaksian, dan catatan pengadilan yang berkaitan dengan Jeffrey Epstein, seorang miliarder Amerika yang terlibat jaringan kejahatan terorganisir.
Dokumen-dokumen ini mencakup nama-nama tokoh berpengaruh secara internasional, catatan perjalanan, komunikasi, serta kesaksian korban yang menunjukkan bahwa kejahatan Epstein bukan tindakan individu, melainkan bagian dari jaringan elit yang saling melindungi.
Yang membuat file ini penting bukan sekadar unsur skandalnya, tapi pola kedzaliman sistematis berkaitan dengan zionisme yang terbuka darinya: bagaimana kekuasaan, uang, media, dan hukum bisa mereka kuasai untuk menutupi kejahatan besar selama puluhan tahun.
Banyak korban dibungkam, pelaku dilindungi, dan kebenaran ditunda sampai akhirnya sebagian dokumen dipaksa terbuka ke publik.
Pandangan Para Ulama
Banyak ulama yang membahasnya di media sosial: Syaikh Hatim Al Huwaini, Syaikh Ahmad Yusuf Sayyid, hingga anggota penting jaringan ulama sedunia, Dr. Muhammad Ash Shugayyir.
Tak sedikit warga Gaza yang mengikuti berita ini juga dan merespon. Hampir semua berpendapat sama: segala puji bagi Allah atas nikmat Islam yang telah melindungi manusia dari nafsu hewan!
Bahkan adik kandung dari sang jubir legendaris Abu Ubaidah, Shuhaib Al Kahlout menulis: "Terungkapnya berkas-berkas Epstein ke publik merupakan tanda yang jelas atas runtuhnya peradaban Barat dan siapapun yang menggantungkan diri padanya. Masa depan adalah milik Islam dengan prinsip, nilai, dan akhlaknya."
Seorang ulama dari Mauritania, Syaikh Muhammad Mukhtar Asy Syinqithi menjelaskan 3 sebab utama, mengapa skandal Epstein akan mengguncang Barat: pertama, batas antara manusia dan hewan di barat menghilang. Sifat-sifat kebinatangan ini akan digeneralisasikan kepada umat manusia.
Kedua, kaum zionis telah memperbudak elit Barat dan menjerumuskan mereka kedalam penyembahan hawa nafsu.
Ketiga, kaum muslimin adalah harapan terakhir umat manusia untuk menyelamatkan dari keterpurukan moral ini.
Peradaban Barat: 'kompas moral' dunia?
Sudah 2 abad belakangan ini, peradaban Barat didengungkan menjadi 'kompas moral' dunia. Mereka mengklaim diri sendiri paling toleran, rasional, terbuka pada perubahan dan paling manusiawi.
Namun 3 tahun belakangan ini dunia makin banyak mempertanyakan Barat. Ada 2 peristiwa yang merobohkan citra mereka, yaitu Thufan Al Aqsha dan skandal Epstein.
Kekejaman Barat di Gaza yang diwakili Amerika dan Israel, diluar nalar manusia. Bahkan mereka menggunakan bom dengan suhu sangat tinggi 3500 derajat Celcius, penyebab ribuan jenazah warga Gaza menguap tidak berbekas akibat saking panasnya.
Klaim superioritas moral Barat yang mengaku polisi dunia, pelan-pelan mulai runtuh. Ini karena Thufan Al Aqsha membuka wajah politik mereka. Sementara file Epstein membuka wajah elit Barat. Dunia mulai berhenti percaya.
Tak heran, karena ideologi kapitalisme sekuler yang mereka anut menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kepuasan dalam hidup. Sampai harus mengorbankan naluri manusiawinya. Yang tersisa kemudian hanya 'naluri binatang'nya.
Islam Rahmat bagi Seluruh Alam
Tak layak Barat menjadi 'role model' dalam kehidupan manusia. Fakta-fakta di atas mestinya memantik kesadaran kita, tidak layak aturan manusia diterapkan di muka bumi ini. Karena hanya menghasilkan kerusakan dan kegelisahan.
Hanya aturan Allah sajalah sebagai pencipta manusia, yang layak kita terapkan. Karena Allah tahu apa yang terbaik untuk hamba-nya. Aturan Allah terbukti membawa rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana firman-nya:
"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al Anbiya: 107)
Kalau bukan karena diutusnya Nabi Muhammad Saw, niscaya kita akan menjadi orang-orang yang tersesat, terombang-ambing dalam kegelapan dunia yang liar dan menakutkan ini!
Wallahualam bissawab
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
