Relevansi Isra Miraj di Era Peradaban Digital: Refleksi Iman dan Moral Bangsa
Agama | 2026-01-17 13:57:54
Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu momentum paling fundamental dalam sejarah Islam yang sarat dengan nilai teologis, spiritual, dan peradaban. Isra Miraj bukan sekadar kisah perjalanan luar biasa Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha, melainkan sebuah peristiwa transformatif yang membawa pesan abadi bagi umat manusia lintas zaman. Di tengah era peradaban digital yang ditandai dengan percepatan teknologi, disrupsi informasi, dan perubahan pola hidup generasi milenial, relevansi Isra Miraj justru semakin menemukan maknanya.
Era digital menghadirkan paradoks peradaban. Di satu sisi, teknologi memudahkan akses pengetahuan, komunikasi, dan produktivitas. Namun di sisi lain, ia juga memunculkan tantangan serius berupa krisis spiritual, degradasi moral, serta melemahnya nilai-nilai kemanusiaan. Generasi milenial dan generasi Z tumbuh dalam dunia serba cepat, instan, dan visual, yang sering kali menjauhkan manusia dari ruang kontemplasi dan kedalaman makna. Dalam konteks inilah, Isra Miraj hadir sebagai sumber refleksi iman dan moral bangsa yang sangat relevan untuk dibumikan kembali.
Penguatan Iman dan Tauhid
Isra Miraj menegaskan posisi tauhid sebagai fondasi utama kehidupan manusia. Perjalanan Rasulullah SAW merupakan bukti kekuasaan Allah SWT yang melampaui hukum ruang dan waktu, sekaligus menguji keimanan umat. Di era digital, iman sering kali diuji bukan melalui penindasan fisik, tetapi melalui banjir informasi, relativisme kebenaran, dan glorifikasi rasionalitas semata. Banyak nilai agama dipertanyakan, bahkan direduksi menjadi sekadar simbol tanpa substansi.
Bagi generasi milenial, penguatan iman dan tauhid menjadi kebutuhan mendesak agar tidak kehilangan arah di tengah arus globalisasi digital. Isra Miraj mengajarkan bahwa iman tidak cukup berhenti pada keyakinan, tetapi harus terinternalisasi dalam sikap hidup, cara berpikir, dan cara bertindak. Tauhid menjadi kompas moral yang menjaga manusia agar tidak terjebak pada “tuhan-tuhan baru” berupa popularitas, materi, dan validasi digital semata.
Shalat sebagai Mi‘raj Spiritual
Salah satu pesan paling monumental dari peristiwa Isra Mi’raj adalah diwajibkannya shalat lima waktu. Shalat bukan sekadar ritual formal, melainkan mi‘raj spiritual bagi setiap muslim. Dalam shalat, manusia diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, termasuk dunia digital, untuk membangun relasi vertikal dengan Allah SWT. Di tengah budaya multitasking dan distraksi notifikasi yang nyaris tanpa jeda, shalat menjadi ruang jeda (pause) yang sangat berharga.
Bagi generasi milenial, shalat dapat dimaknai sebagai sarana menjaga kesehatan mental dan spiritual. Ketika tekanan hidup, tuntutan produktivitas, dan kecemasan sosial meningkat akibat paparan media digital, shalat menghadirkan ketenangan, fokus, dan kesadaran diri. Shalat mengajarkan disiplin waktu, kerendahan hati, serta keseimbangan antara dunia dan akhirat, nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern.
Kepemimpinan dan Cahaya Peradaban
Isra Miraj juga menyimpan pesan penting tentang kepemimpinan profetik. Rasulullah SAW tidak hanya menerima perintah shalat untuk dirinya sendiri, tetapi membawa amanah tersebut untuk seluruh umat. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang berangkat dari kedalaman spiritual dan orientasi kemaslahatan. Dalam konteks bangsa, krisis kepemimpinan seringkali berakar pada rapuhnya moral dan integritas.
Di era digital, kepemimpinan tidak lagi terbatas pada jabatan formal. Setiap individu, khususnya generasi milenial, memiliki ruang kepemimpinan melalui media sosial, komunitas digital, dan ruang publik virtual. Nilai-nilai Isra Miraj mendorong lahirnya kepemimpinan yang beretika, jujur, dan berorientasi pada kebenaran, bukan sekadar popularitas atau pencitraan digital. Cahaya peradaban lahir dari pemimpin-pemimpin yang mampu mensinergikan kecerdasan teknologi dengan kedalaman spiritual.
Relevansi Isra Miraj di Era Digital
Relevansi Isra Miraj di era peradaban digital terletak pada kemampuannya memberikan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai kemanusiaan. Teknologi sejatinya adalah alat, bukan tujuan. Tanpa landasan iman dan moral, teknologi berpotensi menjadi instrumen dehumanisasi. Isra Miraj mengingatkan bahwa kemajuan sejati adalah kemajuan yang mendekatkan manusia kepada Tuhan dan sesama manusia.
Bagi bangsa Indonesia yang menjunjung nilai religius dan kebhinekaan, spirit Isra Miraj dapat menjadi sumber inspirasi dalam membangun peradaban digital yang beradab. Literasi digital perlu disertai literasi moral dan spiritual agar ruang digital tidak menjadi ladang konflik, hoaks, dan ujaran kebencian. Generasi milenial memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang mampu membumikan nilai-nilai Isra Miraj dalam kehidupan nyata maupun virtual.
Pada akhirnya, Isra Miraj bukan hanya peristiwa masa lalu yang diperingati secara seremonial, tetapi pesan transhistoris yang relevan sepanjang zaman. Ia mengajarkan tentang iman yang kokoh, ibadah yang membumi, kepemimpinan yang mencerahkan, dan peradaban yang berorientasi pada nilai. Di tengah derasnya arus digitalisasi, refleksi atas Isra Miraj menjadi upaya penting untuk menjaga arah perjalanan bangsa agar tetap berada di jalur kemanusiaan dan ketuhanan.
Dengan menjadikan Isra Miraj sebagai sumber inspirasi, generasi milenial tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penjaga nilai. Inilah esensi refleksi iman dan moral bangsa yang perlu terus dirawat agar peradaban digital Indonesia tumbuh tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga matang secara spiritual dan berkeadaban.
Penulis: Dr. Heri Solehudin Atmawidjaja
(Pemerhati Sosial Politik Uhamka Jakarta, Wakil Ketua Forum Doktor Sosial Politik UI, Wakil Ketua PDM Depok, Tokoh Mayarakat Ciamis).
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
