Kecelakaan Kapal Berulang, Pengamat Nilai Pengawasan Keselamatan Masih Lemah
Info Terkini | 2026-02-13 19:47:58Jakarta,12 Februari 2026 Kecelakaan kapal kembali terjadi di sejumlah perairan Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Insiden tersebut kembali memunculkan sorotan terhadap sistem keselamatan pelayaran nasional, terutama pada kapal penumpang dan kapal rakyat yang masih banyak digunakan sebagai sarana transportasi antarpulau.
Sejumlah kecelakaan laut yang terjadi menunjukkan pola penyebab yang relatif serupa. Faktor cuaca kerap disebut sebagai pemicu awal, namun di balik itu terdapat persoalan mendasar terkait kondisi teknis kapal, kelebihan muatan, serta lemahnya pengawasan keselamatan sebelum kapal berlayar.
Pengamat maritim Jeriko Silalahi menilai bahwa cuaca buruk sering kali dijadikan alasan utama, padahal banyak kecelakaan sebenarnya dapat dicegah sejak tahap awal pemeriksaan kapal.
“Dalam banyak kasus, kecelakaan kapal di Indonesia bukan semata-mata disebabkan faktor cuaca. Persoalan utamanya justru terletak pada aspek teknis kapal dan pengawasan keselamatan yang belum berjalan optimal,” kata Jeriko saat dihubungi, Selasa (—).
Ia menjelaskan, masih ditemukan kapal yang tetap dioperasikan meski kondisi struktur dan stabilitasnya tidak lagi ideal. Praktik kelebihan muatan serta distribusi beban yang tidak seimbang turut meningkatkan risiko kecelakaan di laut.
“Masalah klasik yang terus berulang adalah overload, kondisi kapal yang tidak laik, serta inspeksi yang hanya bersifat administratif. Ini sangat berbahaya, terutama untuk kapal penumpang,” ujarnya.
Selain aspek teknis, Jeriko juga menyoroti faktor sumber daya manusia. Menurutnya, keputusan awak kapal dalam menentukan kelayakan pelayaran menjadi kunci penting dalam mencegah kecelakaan.
“Awak kapal harus memahami batas kemampuan kapal. Jika kondisi cuaca atau kapal tidak memungkinkan, seharusnya ada keberanian untuk menunda pelayaran demi keselamatan,” katanya.
Jeriko menilai pengawasan keselamatan pelayaran tidak cukup hanya mengandalkan kelengkapan dokumen. Pemeriksaan fisik kapal, termasuk kondisi lambung, mesin, dan alat keselamatan, perlu dilakukan secara ketat dan konsisten.
“Selama pengawasan masih sebatas dokumen tanpa inspeksi teknis yang menyeluruh, risiko kecelakaan akan terus ada dan berulang,” jelasnya.
Ia menegaskan, sebagai negara maritim, Indonesia tidak bisa terus bereaksi setelah kecelakaan terjadi. Menurutnya, setiap insiden seharusnya menjadi peringatan serius untuk melakukan perbaikan sistem keselamatan pelayaran secara menyeluruh.
“Keselamatan laut harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar formalitas. Jangan sampai kita terus belajar dari tragedi yang menelan korban jiwa,” pungkas Jeriko.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
