Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Zaqi Armada Putra

Chat atau Telepon, Mana yang Lebih Nyaman?

Gaya Hidup | 2026-01-11 21:56:52
Ilustrasi chatting (Sumber: Shutterstock)

Berbeda dengan percakapan lisan yang menuntut respons spontan, chat memberi ruang jeda. Kita bisa berpikir, menghapus, mengedit, lalu mengirim pesan dengan versi terbaik dari diri kita. Dalam chat, kesalahan bisa diminimalkan, emosi bisa diredam, dan kata-kata bisa disusun lebih hati-hati.

Tak Semua Orang Nyaman Didengar, Tapi Ingin Dipahami. Berbicara langsung menuntut keberanian. Ada rasa takut disalahpahami, dipotong pembicaraannya, atau dinilai dari nada suara. Chat menghilangkan sebagian besar kecemasan itu. Pesan tertulis terasa lebih “netral” dan tidak menghakimi.

Dalam chat, seseorang bisa menyampaikan isi hati tanpa harus berhadapan langsung dengan reaksi lawan bicara. Ini membuat komunikasi terasa lebih personal sekaligus aman secara emosional.
Chat juga selaras dengan gaya hidup modern yang serba cepat. Notifikasi bisa dibalas kapan saja tanpa harus berhenti dari aktivitas lain. Tak perlu mencari waktu yang tepat untuk menelepon atau memastikan lawan bicara sedang luang.

Bagi banyak orang, chat adalah solusi praktis di tengah jadwal yang padat. Komunikasi tetap berjalan tanpa mengganggu ritme harian.

Berbicara berarti membuka diri secara penuh. Suara bisa bergetar, emosi bisa terbaca, dan kejujuran kadang sulit disembunyikan. Chat memberi jarak emosional yang nyaman. Kita bisa tetap terhubung tanpa harus sepenuhnya telanjang secara perasaan. Namun, di sisi lain, terlalu bergantung pada chat juga berisiko. Banyak nuansa emosi yang hilang, dan kesalahpahaman justru bisa muncul karena pesan dibaca tanpa konteks nada.

Preferensi terhadap chat bukan berarti manusia tak lagi butuh berbicara. Ini lebih tentang memilih medium yang dirasa paling aman dan nyaman. Di era digital, komunikasi bukan lagi soal mana yang benar, melainkan mana yang paling manusiawi bagi masing-masing individu.

Mungkin, pada akhirnya, chat bukan pengganti suara—melainkan jembatan bagi mereka yang ingin didengar, tetapi belum siap untuk bersuara.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image