Di Balik Pertanyaan Kenapa: Beragam Hikmah dari Penetapan Allah SWT
Agama | 2026-01-09 08:48:45Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap diliputi pertanyaan “kenapa”. Kenapa Allah menetapkan sesuatu dengan cara tertentu, dan kenapa tidak dibuat lebih mudah dipahami oleh manusia. Pertanyaan semacam ini muncul karena manusia dibekali akal dan rasa ingin tahu. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, penting untuk memahami apa yang dimaksud dengan hikmah. Dalam konteks keimanan, hikmah bukan sekadar alasan logis yang dapat langsung dipahami, melainkan kebaikan dan tujuan yang Allah tetapkan di balik setiap keputusan-Nya, meskipun terkadang tersembunyi dari pandangan manusia.
Kesadaran akan makna hikmah membantu manusia memahami keterbatasannya. Akal manusia hanya mampu menangkap sebagian kecil dari realitas, sementara Allah SWT Maha Mengetahui keseluruhan perjalanan hidup manusia. Karena itu, ketika suatu ketetapan terasa sulit dipahami, hal tersebut bukan tanda ketidakadilan, melainkan isyarat bahwa hikmah di baliknya belum sepenuhnya tersingkap.
Salah satu ketetapan Allah yang sering menimbulkan pertanyaan adalah mengapa dosa manusia tidak ditampakkan secara nyata. Jika setiap perbuatan buruk langsung terlihat, misalnya sebagai tanda hitam di tubuh, hampir seluruh manusia akan hidup dalam stigma. Manusia akan saling menjauh, memberi label, dan mudah menghakimi. Kehidupan sosial pun akan kehilangan empati dan ruang untuk saling memahami.
Gambaran ini dapat dibayangkan melalui kisah seperti dalam film S Line produksi Korea, yang menunjukkan bahwa tanda dosa yang terlihat justru merusak hubungan antarmanusia. Dari sini tampak bahwa dengan menyembunyikan dosa, Allah SWT sedang menjaga kehormatan hamba-Nya. Ketetapan ini membuka kesempatan bagi manusia untuk bertobat, memperbaiki diri, dan berubah tanpa harus kehilangan martabat di hadapan sesama.
Hal serupa berlaku pada dirahasiakannya waktu kematian. Ketetapan ini berkaitan erat dengan kondisi batin manusia. Jika seseorang mengetahui secara pasti kapan ia akan meninggal, hidupnya akan dipenuhi kegelisahan. Kesadaran akan batas waktu yang jelas akan melahirkan rasa takut dan cemas yang berkepanjangan, sehingga manusia sulit menjalani hidup dengan tenang.
Keadaan ini dapat dianalogikan seperti seseorang yang menunggu ujian. Ketegangan sering kali sudah muncul jauh sebelum ujian dimulai. Demikian pula jika waktu kematian diketahui, manusia akan hidup dalam tekanan batin yang terus menghantui. Dengan merahasiakan waktu kematian, Allah SWT mendidik manusia agar selalu siap, memperbaiki amal, dan tidak menunda kebaikan, tanpa harus hidup dalam ketakutan.
Melalui berbagai ketetapan tersebut, dapat dipahami bahwa Allah SWT tidak hanya mengatur kehidupan, tetapi juga mendidik manusia secara spiritual. Ketetapan Allah membentuk cara manusia bersikap, berpikir, dan memaknai hidup. Di sinilah hikmah bekerja, bukan selalu dengan penjelasan yang gamblang, tetapi melalui proses kesadaran dan perenungan.
Dengan demikian, pertanyaan “kenapa” seharusnya tidak berhenti pada rasa ragu, melainkan menjadi jalan menuju kedewasaan iman. Ketika manusia belajar melihat ketetapan Allah dengan kacamata hikmah, apa yang semula terasa membingungkan perlahan berubah menjadi keyakinan bahwa setiap keputusan Allah SWT selalu mengandung kebaikan bagi hamba-Nya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
