Kita Merasa Bebas, Padahal Media Sosial Menentukan Apa yang Kita Anggap Penting
Teknologi | 2026-01-08 20:09:20Di era media sosial sekarang, kita sering merasa punya kendali penuh atas informasi yang kita konsumsi. Kita bisa memilih mau melihat konten apa, mengikuti siapa, dan melewati unggahan yang tidak menarik. Kebebasan ini membuat kita merasa bebas menentukan sendiri apa yang penting dalam hidup kita. Bagi generasi muda, media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian, mulai dari mencari hiburan, informasi, sampai referensi gaya hidup. Namun tanpa disadari, banyak hal yang kita anggap penting justru terbentuk dari apa yang terus muncul di linimasa kita setiap hari. Fenomena ini sesuai dengan Teori Agenda Setting, salah satu teori komunikasi yang masih sangat relevan hingga sekarang.
Secara sederhana, agenda setting berarti “pengaturan agenda” atau penentuan isu apa yang dianggap penting. Teori ini dikembangkan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw pada tahun 1972, berangkat dari pemikiran bahwa media tidak secara langsung memaksa orang untuk berpikir tertentu, tetapi media menentukan topik apa yang sering dilihat dan diperhatikan publik. Melalui penekanan dan pengulangan isu, media secara perlahan membentuk fokus perhatian masyarakat. Dengan kata lain, apa yang sering ditampilkan media akan dianggap penting, sementara yang jarang muncul akan terlupakan (Efendi et al., 2023).
Pada awalnya, teori ini banyak dibahas dalam konteks media massa seperti koran, radio, dan televisi. Media pada masa itu memiliki peran besar dalam menentukan isu apa yang menjadi sorotan utama masyarakat. Berita yang muncul di halaman depan atau disiarkan pada jam tayang utama biasanya dianggap sebagai isu paling penting. Namun seiring perkembangan teknologi, peran tersebut kini bergeser ke media sosial. Konten yang viral, trending topic, dan unggahan yang terus muncul di beranda perlahan membentuk fokus perhatian publik, termasuk generasi muda sebagai pengguna aktif media digital.
Kita bisa melihat contohnya ketika isu selebriti atau gosip tertentu ramai dibicarakan selama berhari-hari. Linimasa dipenuhi oleh potongan berita, komentar, hingga meme tentang isu tersebut. Banyak orang akhirnya lebih sibuk mengikuti perkembangan gosip itu dibandingkan membahas hal-hal yang sebenarnya berdampak besar, seperti pendidikan, kebijakan publik, lingkungan, atau masalah sosial lainnya. Bukan karena isu-isu tersebut tidak penting, tetapi karena jarang muncul dan tidak banyak dibahas di media digital.
Bagi generasi muda, kondisi ini sering terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Topik yang ramai di media sosial sering kali menjadi bahan obrolan di tongkrongan, di grup chat, atau di kolom komentar. Tanpa sadar, apa yang kita bicarakan dan anggap penting sering kali mengikuti apa yang sedang viral, bukan berdasarkan kebutuhan atau kepentingan bersama.
Fenomena agenda setting ini sangat terasa di TikTok. Melalui sistem For You Page (FYP), TikTok menampilkan jenis konten tertentu secara berulang sesuai dengan kebiasaan penggunanya. Konten yang sering ditonton, disukai, dan dibagikan akan terus muncul kembali dalam bentuk serupa. Lama-kelamaan, konten tersebut membentuk cara pandang penggunanya terhadap kehidupan.
Mulai dari tren hidup produktif versi TikTok, standar kecantikan tertentu, gambaran hubungan yang dianggap ideal, sampai cerita tentang kesuksesan cepat di usia muda, semua itu terus muncul secara berulang. Banyak generasi muda kemudian menjadikan hal-hal tersebut sebagai gambaran kehidupan ideal. Tidak sedikit yang mulai merasa tertinggal, merasa kurang produktif, atau merasa hidupnya tidak sebaik orang lain hanya karena sering melihat konten tersebut di media sosial.
Padahal, apa yang muncul di FYP bukanlah gambaran lengkap dari kehidupan nyata. Konten tersebut dipilih oleh sistem berdasarkan algoritma, bukan berdasarkan kenyataan yang utuh. Video yang terlihat rapi, sukses, dan menyenangkan sering kali hanya menampilkan sisi terbaik, sementara proses panjang, kegagalan, dan masalah jarang ditampilkan. Namun karena konten tersebut terus muncul, kita menganggap itulah standar yang normal dan penting.
Di sinilah agenda setting bekerja dengan sangat halus. Ketika satu jenis konten terus ditampilkan, sementara sudut pandang lain jarang muncul, pengguna akan menganggap bahwa itulah hal yang paling penting dalam kehidupan. Tanpa disadari, perhatian generasi muda diarahkan pada isu-isu tertentu, sementara isu lain perlahan tersisih dari perhatian.
Hal ini tentu tidak berarti semua tren di TikTok atau media sosial bersifat negatif. Banyak juga konten yang bermanfaat, menghibur, dan menginspirasi. Ada konten edukasi, motivasi belajar, hingga berbagi pengalaman hidup yang bisa memberi dampak positif. Namun masalah muncul ketika perhatian publik hanya terfokus pada satu jenis isu atau gaya hidup tertentu, sementara isu lain yang tidak kalah penting justru jarang dibicarakan.
Menariknya, di era media sosial, pembentukan agenda tidak hanya dilakukan oleh media besar. Content creator, influencer, bahkan pengguna biasa juga bisa memengaruhi perhatian publik lewat konten yang viral. Satu video sederhana bisa menyebar luas dan memengaruhi cara banyak orang berpikir. Namun tetap saja, algoritma memiliki peran besar dalam menentukan konten mana yang sering muncul dan mana yang jarang terlihat.
Akibatnya, kita sering merasa melihat banyak informasi setiap hari. Linimasa penuh, notifikasi terus berdatangan, dan konten muncul tanpa henti. Namun di sisi lain, kita tidak benar-benar memahami suatu isu secara mendalam. Kita tahu banyak hal, tetapi hanya sebatas permukaannya saja. Kita tahu apa yang sedang ramai, tetapi tidak selalu tahu konteks, dampak, dan kenyataan di balik isu tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa agenda setting di era digital bukan hanya soal apa yang dibagikan, tetapi apa yang terus diulang dan ditampilkan. Isu yang sering muncul akan terasa dekat dan penting, sementara isu yang jarang muncul akan terasa jauh dan tidak mendesak, meskipun sebenarnya berdampak besar bagi banyak orang.
Sebagai generasi muda, kondisi ini seharusnya menjadi bahan refleksi. Generasi muda dikenal sebagai agen perubahan dan penerus masa depan. Namun jika perhatian kita terlalu mudah diarahkan oleh media sosial, peran tersebut bisa melemah. Kita bisa menjadi sibuk mengikuti hal-hal yang viral, tetapi kurang peduli pada isu-isu penting di sekitar kita.
Karena itu, sebagai pengguna media sosial, kita perlu lebih sadar dan kritis. Dengan memahami teori Agenda Setting, kita bisa mulai bertanya pada diri sendiri: mengapa konten ini sering muncul di linimasa saya? Mengapa isu ini ramai dibicarakan? Dan isu apa yang justru jarang muncul, padahal sebenarnya penting untuk diketahui dan dibahas?
Kesadaran ini penting agar generasi muda tidak hanya menjadi penikmat konten, tetapi juga mampu memilih dan menyaring informasi. Media sosial memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan saat ini. Namun kita tetap punya kendali untuk mencari sumber lain, membaca dari berbagai sudut pandang, dan tidak hanya bergantung pada apa yang sedang viral.
Pada akhirnya, media lama maupun media sosial akan selalu memengaruhi cara kita melihat dunia. Hal tersebut tidak bisa dihindari. Namun keputusan untuk berpikir kritis tetap ada di tangan kita. Dengan menyadari bagaimana perhatian kita dibentuk, generasi muda tidak hanya menjadi penonton di tengah arus informasi, tetapi juga mampu menentukan sendiri hal-hal yang benar-benar layak mendapat perhatian.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
