AI dan Penjajahan Digital: Ketika Kita Hanya Menjadi Penonton di Tanah Sendiri
Teknologi | 2026-02-06 17:50:25Oleh: Maziyah Zahroul Wardah
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kerap dipromosikan sebagai simbol kemajuan zaman. Teknologi ini menjanjikan efisiensi, kecepatan, dan kemudahan dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Namun di balik narasi kemajuan tersebut, tersembunyi persoalan serius yang jarang dibicarakan: AI berpotensi menjadi bentuk penjajahan baru di era digital.
Jika kolonialisme klasik dilakukan melalui penguasaan wilayah dan sumber daya alam, penjajahan digital berlangsung lebih halus—melalui penguasaan data dan teknologi. Setiap aktivitas masyarakat digital, mulai dari pencarian informasi hingga interaksi di media sosial, menjadi bahan baku bagi sistem AI global. Ironisnya, data yang dihasilkan masyarakat lokal justru diolah dan dimonetisasi oleh perusahaan teknologi besar dari luar negeri.
Dalam situasi ini, negara berkembang, termasuk Indonesia, sering kali hanya berperan sebagai pengguna, bukan pencipta teknologi. Platform, algoritma, dan standar AI sebagian besar dirancang dengan perspektif dan kepentingan pihak luar. Akibatnya, kita tidak memiliki kendali penuh atas perkembangan teknologi yang justru sangat mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.
Fenomena ini dikenal sebagai kolonialisme digital, ketika kekuasaan siapa lagi diukur dari senjata, tetapi dari yang menguasai data, algoritma, dan infrastruktur teknologi. Tanpa pengawasan digital yang kuat, negara berisiko kehilangan posisi tawar dalam ekonomi global serta membiarkan nilai ekonomi dan pengetahuan mengalir keluar.
Bagi Indonesia, tantangan ini menjadi krusial. Tanpa kebijakan data yang tegas, investasi serius pada riset AI lokal, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia, bangsa ini berisiko tertinggal di tanahnya sendiri. Teknologi yang seharusnya menjadi alat jaminan justru dapat berubah menjadi instrumen ketergantungan.
Pada akhirnya, persoalan utama bukan sekedar seberapa canggih AI digunakan, melainkan siapa yang menguasai dan menentukan arah teknologi tersebut. Jika kita terus pasif, maka masa depan digital Indonesia hanya akan diisi oleh peran sebagai penonton—menyaksikan kemajuan, tetapi tidak ikut menentukan arah permainan di era kecerdasan buatan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
