AI di Perguruan Tinggi: Peluang Digital atau Ancaman Kritis bagi Mahasiswa Sistem Informasi?
Eduaksi | 2026-02-06 18:54:17
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini bukan lagi sekadar jargon teknologi, melainkan kekuatan nyata yang mengubah hampir semua aspek kehidupan manusia — termasuk dunia pendidikan. Dari bantuan otomatis menilai tugas hingga asisten virtual dalam perkuliahan, AI menawarkan kelimpahan efisiensi. Namun pada saat yang sama, adopsi teknologi ini menimbulkan tantangan serius yang belum sepenuhnya diantisipasi oleh mahasiswa maupun institusi pendidikan tinggi.
Pertama, AI berpotensi mencederai proses pembelajaran yang sejatinya menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Ketergantungan pada generative AI untuk menyusun makalah, analisis kasus, atau bahkan menulis kode telah menggusur proses pembelajaran mendalam yang seharusnya dialami mahasiswa. Fenomena ini tidak hanya mengancam integritas akademik, tetapi juga mengikis kemampuan fundamental mahasiswa dalam *problem solving* dan pemahaman konseptual yang mendalam — kompetensi inti lulusan Sistem Informasi. ([Analisis AI & Crypto Terbaru][1])
Selain itu, AI memperbesar risiko pelanggaran privasi dan keamanan data. Sistem AI yang dipakai di dalam pendidikan sering memproses data mahasiswa mulai dari nilai, pola belajar, hingga preferensi pribadi untuk memberi rekomendasi atau penilaian otomatis. Tanpa kerangka keamanan yang kuat, data ini dapat bocor atau disalahgunakan. Risiko semacam ini nyata terjadi di berbagai institusi pendidikan tinggi global — di mana platform belajar online dan *Student Information System (SIS)* menjadi target ancaman siber. ([Jurnal Teknologi Edukasi][2])
Kendati begitu, sisi positifnya tak boleh diabaikan. AI bisa mempercepat proses analisis data riset, memperluas akses pembelajaran melalui rekomendasi cerdas, dan membantu lembaga pendidikan mengevaluasi proses akademik dengan real-time analytics. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana kita menyeimbangkan manfaat AI tanpa mengorbankan aspek etika, privasi, dan kualitas pembelajaran.
Mahasiswa Sistem Informasi harus memimpin dialog ini, bukan hanya sebagai pengguna teknologi, melainkan sebagai pemikir kritis yang mampu mengevaluasi dampak sosial-ekonomi dan konsekuensi etis dari AI. Tanpa kesadaran kritis dan regulasi kuat dari kampus, AI justru berpotensi mereduksi kualitas pendidikan yang seharusnya mengasah intelektualitas secara holistik.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
