Ideologi Gerakan dan Wasathiyah: Jalan Tengah Peradaban
Khazanah | 2026-02-07 12:21:54Dalam sejarah peradaban dunia, manusia selalu mencari cara pandang yang paling tepat untuk mengelola kehidupan. Pencarian itu melahirkan berbagai ideologi besar yang tidak hanya mempengaruhi sistem ekonomi dan politik, tetapi juga membentuk gerakan sosial dan arah peradaban. Dari sekian banyak ideologi yang pernah mendominasi dunia, terdapat tiga ideologi besar yang sering disebut: kapitalisme, komunisme, dan wasathiyah (Islam).
Kapitalisme: Alat sebagai Pusat Kehidupan
Ideologi kapitalis berpusat pada alat, khususnya modal dan sarana produksi. Dalam kapitalisme, kemajuan diukur dari efisiensi, pertumbuhan, dan akumulasi modal. Manusia kerap Ditempatkan sebagai bagian dari sistem produksi—sering kali diukur dari produktivitas dan nilai ekonominya.
Kapitalisme berhasil melahirkan inovasi dan kemajuan teknologi, namun pada saat yang sama menciptakan jurang ketimpangan. Ketika alat menjadi pusat, manusia berisiko kehilangan makna, berubah dari subjek menjadi objek.
Komunisme: Manusia sebagai Pusat, tapi Terkorbankan
Sebaliknya, ideologi komunis mengklaim berpusat pada manusia. Ia datang dengan narasi besar tentang keadilan, kesetaraan, dan kepastian dari tertentu. Namun dalam praktik sejarahnya, komunisme sering menumbalkan manusia itu sendiri.
Demi cita-cita kolektif, hak individu dihapuskan. Atas nama keadilan, kekerasan dilegitimasi. Ironisnya, ideologi yang mengusung manusia sebagai pusat justru sering mengorbankan kemanusiaan.
Wasathiyah (Islam): Jalan Tengah yang Menyelamatkan
Di antara dua kutub ekstrem itu, Islam hadir dengan konsep wasathiyah—jalan tengah yang menyeimbangkan antara nilai, manusia, dan alat. Islam tidak menafikan peran alat, tidak meniadakan sistem, namun menempatkan semuanya dalam kerangka tauhid dan kemaslahatan.
Dalam pandangan Islam:
Manusia dimuliakan sebagai khalifah
Alat dan sistem menjadi sarana, bukan tujuan
Keadilan tidak ditegakkan dengan mengorbankan kemanusiaan
Kebebasan diarahkan oleh nilai dan tanggung jawab
Wasathiyah bukan sikap setengah-setengah, melainkan posisi sadar yang menolak ekstremitas. Jika dipahami benar, wasathiyah bukan sekedar ideologi, tetapi cara memandang hidup—yang menyelamatkan manusia, menata sistem, dan menjaga nilai.
Kepribadian Muhammadiyah: Penegasan Identitas Gerakan
Dalam konteks gerakan Islam modern di Indonesia, Muhammadiyah menjadi contoh penting penerapan wasathiyah dalam praktik gerakan. Pada sekitar tahun 1960–1962, lahirlah konsep kepribadian Muhammadiyah.
Gagasan ini muncul setelah Kiai Faqih Usman di Madrasah Mu'allimin menyelenggarakan kursus kepemimpinan yang menghimpun pimpinan wilayah Muhammadiyah. Tujuannya bukan sekedar pelatihan teknis, tetapi mempertegas identitas gerakan: siapa Muhammadiyah, bagaimana cara berpikirnya, dan ke mana arah perjuangannya.
Kepribadian Muhammadiyah menjadi landasan ideologis agar gerakan:
Tidak larut dalam pragmatisme
Tidak terjebak dalam ekstremisme
Tetap kokoh pada nilai-nilai Islam yang berkemajuan
Mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri
Penutup
Ideologi bukan sekadar teori, tetapi menentukan arah gerakan dan wajah peradaban. Kapitalisme dan komunisme telah memberi pelajaran berharga tentang bahaya ekstremitas. Islam melalui wasathiyah menawarkan jalan yang lebih utuh—menjaga manusia, menata sistem, dan menghidupkan nilai
Dalam konteks inilah, penegasan ideologi gerakan seperti yang dilakukan Muhammadiyah menjadi sangat relevan: agar gerakan tetap hidup, dihilangkan, dan memberi manfaat nyata bagi umat dan kesejahteraan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
