Dinamika Perkotaan Dalam Bingkai Ramadan
Agama | 2026-03-01 09:54:21JAKARTA – Suasana khidmat mewarnai Masjid Al-Furqan, Slipi, Kota Bambu, Palmerah, Jakarta Barat. Usai pelaksanaan salat Isya berjamaah, jamaah menyimak kuliah Ramadan yang disampaikan oleh ustadz H. Rasidi, S.Pd., seorang da’i yang ditugaskan oleh Biro Dikmental Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan Baznas (Bazis) DKI Jakarta.
Dalam ceramahnya yang mengangkat tema "Hikmah Ramadan dan Isu Perkotaan," Ustadz Rasidi menekankan tiga poin krusial bagi warga Jakarta, dan tetap relevan dengan kota-kota lainnya.
1. Kesabaran di Tengah Kompleksitas Kota.
H. Rasidi, S.Pd yang mengenakan baju Koko berlogo pemprov DKI itu menyoroti Jakarta sebagai kota yang sangat kompleks, di mana strata sosial dan perilaku masyarakat sangat beragam. "Di Jakarta semua ada, dari yang paling kaya hingga yang paling miskin, dari yang sholeh hingga yang belum sholeh. Menghadapi ini butuh kesabaran ekstra, dan puasa adalah madrasah terbaik untuk itu," ujarnya. Beliau mencontohkan budaya antri di fasilitas publik sebagai wujud nyata praktik kesabaran warga kota. "Fasilitas yang harus membayar saja perlu antri, apalagi yang gratis," tandasnya.
2. Menghindari Kemubadziran dan Empati Global.
Ustadz Rasidi mengingatkan jamaah agar tidak lapar mata saat berburu takjil. Beliau berpesan agar makanan yang dibeli atau diperoleh tidak dibuang sia-sia. "Jangan sampai hanya digigit sedikit lalu dibuang. Jika berlebih, manfaatkan untuk sahur. Ingat, saudara-saudara kita baik di dalam negeri maupun di luar negeri khususnya Palestina masih sangat kekurangan pasokan pangan," tegasnya.
3. Kedewasaan Menyikapi Perbedaan.
Terkait perbedaan awal puasa antara Muhammadiyah dengan NU dan Pemerintah, beliau meminta masyarakat untuk tetap tenang dan saling menghargai. "Ini hal biasa. Kita harus dewasa dan jangan mau diadu domba. Malam ini adalah bukti nyata silaturahmi antara warga NU dan Muhammadiyah, meneladani persahabatan antara KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari yang akrab meski berbeda pandangan, mereka berteman baik dan saling bersilaturahmi," tambahnya.
Kegiatan pada Senin, 23 Februari 2026 itu dihadiri langsung oleh Ketua DKM Al-Furqon, Bapak Achmadin, beserta jajaran pengurus masjid. Setelah rangkaian kuliah Ramadan selesai, acara dilanjutkan dengan pelaksanaan salat tarawih berjamaah yang diikuti dengan antusias oleh warga. (Editor: Joko Susanto)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
