Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image

Small is Beautiful

Agama | 2026-02-27 15:05:47

Kecil itu indah. Sepintas sederhana, namun jika kita hayati ungkapan tersebut memiliki makna yang dalam. Dalam teori organizational development, kita diajarkan untuk terus bertumbuh (growth). Tidak ada yang salah dengan pertumbuhan. Namun, permasalahannya terkadang kita lupa bertanya apakah pertumbuhan itu kebutuhan untuk memperluas manfaat ataukah ambisi dan syahwat untuk menjadi nomor satu?

Dua hal itu memang beda tipis. Jika kita memang memiliki kapasitas, sistem, sumberdaya, tata kelola, dan budaya organisasi yang siap untuk terus growth, maka mengejar pertumbuhan adalah kebutuhan untuk memperluas kebermanfaatan. Walakin, jika kita belum memiliki kapasitas, sistem, sumberdaya, tata kelola dan budaya organisasi yang mapan, mengejar pertumbuhan terkadang lebih menunjukan ambisi dan syahwat.

Selain itu, pada satu sisi semakin membesarnya sebuah organisasi, secara otomatis pada sisi lain akan memperkecil peluang organisasi sejenis untuk membesar. Karena itu, terkadang kita perlu berpikir ke dalam diri, rasanya kita perlu bersikap arif, memberikan kesempatan kepada organisasi lain untuk berkembang. Tidak memaksakan semua hal harus kita yang kelola. Karena, kita merasa yang paling kompeten dan ahli.

Small is beautiful memberikan pengertian kepada kita tentang merasa cukup sesuai dengan kapasitas kita dan memberikan kesempatan kepada yang lain untuk turut bertumbuh bersama secara harmoni. Small is beautiful menunjukan kita memang kecil, namun kita memiliki kendali penuh atas semua sistem dan tata kelola organisasi, sehingga tidak ada ruang bottleneck dan potensi disharmonisasi lainnya dalam organisasi, seperti tumpang tindih peran, fungsi, dan jabatan.

Pada akhirnya, pertumbuhan memerlukan kearifan. Dalam skala yang lebih besar, sebuah negara yang bernafsu mengejar pertumbuhan ekonomi, alih-alih memperbaiki semua sistem dan birokrasi di dalam negaranya yang coreng moreng, negara itu malah jor-joran mengakses utang luar negeri meski taruhannya beban utang luar negeri yang harus ditanggung generasi setelahnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image