Hari Raya, Gaza Terus Didera Nestapa
Agama | 2026-03-26 08:38:28
Fakta rakyat Gaza terus menderita akibat ulah Zionis Israel sudah tidak terbantahkan lagi. Meski gencatan senjata dan perjanjian damai sudah diinisiasi PBB kekejaman Israel terus berlanjut. Di bulan Ramadan Masjid Al Aqsha ditutup Israel, aktivitas rutin selama bulan Ramadan terutama dalam rangka meraih kemuliaan di malam lailatul qadar dilarang dilaksanakan, dan tak berhenti sampai di sini. Di hari raya idul fitri pun Israel terus berulah, menyerang rakyat Gaza. Sejak awal Ramadan, Zionis Israel sudah menewaskan rakyat Gaza. "Serangan Israel menewaskan sedikitnya dua warga Palestina dalam insiden terpisah di Jalur Gaza pada hari pertama Ramadhan, Rabu. Aljazirah melaporkan di seorang anak dibunuh di utara Gaza dengan tembakan pesawat tak berawak Israel. Serangan itu menargetkan anak-anak dalam perjalanan mereka untuk memeriksa rumah mereka yang hancur di daerah tersebut."(https://www.republika.id/posts/59872/israel-kembali-nodai-ramadhan-hari-pertama-di-gaza)
Di hari pebaran, kembali 4 orang meninggal dunia karena serangan Israel.
Sungguh ironi, resolusi PBB sudah dikeluarkan, solusi dia negara sudah digaungkan, BoP sudah dibentuk, Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia juga bergabung dalam BoP, namun nyatanya rakyat Gaza terus didera nestapa, meski itu di hari bahagia, hari kemenangan Idul Fitri. Lebih memprihatinkan lagi, dua miliar penduduk muslim dunia tidak bisa menolong saudaranya di Gaza.
Diamnya dua miliar umat Islam memang bukan tanpa sebab, dan bisa jadi secara individu mereka sudah membantu sesuai kemampuan, tapi tetap saja rakyat Gaza terus menderita, Zionis Israel terus menyerang Palestina.
Jumlah umat islam memang sangat banyak, namun mereka tersekat dalam negara bangsa, mereka terkungkung oleh kebijakan penguasa khianat, penguasa pengekor Amerika Serikat (AS) yang ciut nyalinya ketika diancam agar tidak membantu Palestina. Dan yang paling berpengaruh adalah tidak adanya institusi pemersatu umat Islam, sebagaimana umat Islam pada masa Rasulullah, masa Khulafaur Rasyidin hingga terakhir khilafah Utsmaniyah.
Khalifah Umar bin Khattab pertama kali memasuki Palestina, Shalahuddin Al Ayubi kembali mengembalikan Al Quds ke pangkuan umat Islam, semuanya terjadi saat khilafah masih tegak berdiri. Begitu pula yang dibutuhkan rakyat Gaza saat ini, pasukan tentara terbaik yang dipimpin seorang khalifah, mengusir Zionis yang telah merampas tanah Palestina, menghukum Zionis yang telah membunuh jutaan umat Islam.
Persatuan umat Islam dalam naungan khilafah adalah kewajiban sekaligus kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi. Menghadapi Zionis Israel yang didukung negara adidaya AS tidak cukup dengan kecamatan, bantuan sporadis apalagi berharap pada BoP bentukan AS, umat Islam butuh negara adidaya, negara itu adalah negara khilafah. Oleh karena itu, perjuangan untuk mengembalikan tegaknya khilafah adalah perkara yang penting pula. Saatnya umat islam terus mendakwahkan kewajiban berjuang menegakkan sistem Islam, terus berjuang dan bergabung bersama jamaah dakwah yang menyerukan persatuan umat Islam, menyerukan penerapan islam kaffah dalam naungan khilafah, yang akan membantu perjuangan rakyat Palestina, menjadi pelindung umat Islam di seluruh dunia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.(Āli ‘Imrān [3]:103)
Wallahu a' lam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
