Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Cahya Putri Awaliya

Karier yang Tepat untuk Generasi Z di Tengah Perubahan Zaman

Bisnis | 2026-01-07 21:22:37

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Rabu(07/01/2026) – Artikel berjudul “Karier yang Tepat untukGenerasi Z di Tengah Perubahan Zaman” ini ditulis oleh Cahya Putri Awaliya yang sehari-harinya sebagai mahasiswaUniversitas Pamulang (UNPAM), Serang, Provinsi Banten.

Pernyataan dari Prof. Dr. Rhenald Kasali, Ph.D. Beliau dikenalluas sebagai pakar manajemen dan SDM, Guru Besar FakultasEkonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, menekankan bahwapekerjaan konvensional 9–5 beserta struktur karier tradisionalsemakin langka, terutama di kalangan generasi muda. Ia melihatfenomena seperti switching culture (terus ganti pekerjaan) sebagai respons terhadap kebutuhan akan fleksibilitas di era digital dan bukan semata masalah komitmen saja.

Pernyataan ini menunjukkan bagaimana Generasi Z yang tumbuh dengan teknologi punya keuntungan, tetapi Prof. Rhenald menegaskan pentingnya adaptasi berkelanjutan: kemampuan belajar sepanjang hidup (lifelong learning), keterampilan teknologi (contoh: memahami algoritma, digital literacy), serta kombinasi antara teknologi dan etos kerja yang kuat akan menentukan keberhasilan karier mereka di masa depan.

Pertama, Selain keterampilan teknis, Prof. Rhenaldmengingatkan bahwa hal-hal seperti kecerdasan sosial, ketangguhan mental, dan etos kerja tetap sangat penting dalamdunia kerja yang kompetitif. Ia mengkritik kecenderungangenerasi muda yang terlalu “rapuh” atau kurang siapmenghadapi tekanan yang ia sebut sebagian sebagai fenomenaStrawberry Generation dan menilai bahwa disiplin dan mental tangguh adalah modal utama untuk karier yang sustainable.

Ia juga melihat bahwa bukan hanya generasi Z yang harusberubah, tetapi perlu sinergi antara generasi tua dan muda: generasi muda membawa kemampuan teknologi dan kreativitas, sementara generasi senior punya pengalaman serta etika kerjatradisional yang berharga. Kolaborasi ini akan memperkuatproduktivitas di tempat kerja.

Kedua, kritik Fenomena “Strawberry Generation” dan kurangnya ketahanan mental , Prof. Rhenald menyoroti bahwabeberapa generasi muda saat ini cenderung mudah menyerahsaat menghadapi tekanan atau tantangan. Ia menyebut fenomenaini sebagai bagian dari Strawberry Generation mereka yang “manis di luar tapi rapuh di dalam”. Kritiknya: jika Generasi Z ingin sukses di era perubahan cepat, mereka perlu membangunketahanan mental, disiplin, dan etos kerja.

Menurut pandangan yang dikaitkan dengan pesan Prof. Rhenaldmenekankan bahwa generasi ini perlu dilatih menghadapitekanan, tantangan, dan kegagalan sejak dini.Pesannya: janganhanya fokus pada kenyamanan; sukses membutuhkan disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan untuk bertahan di situasi sulit.Contoh praktis: menumbuhkan budaya “trial and error” di sekolah, kampus, atau tempat kerja agar terbiasa gagal dan bangkit lagi.

Ketiga, salah satu perwakilan kementrian ketenagakerjaanmenyatakan bahwa Gen Z perlu menyesuaikan sikap dan karakter mereka dengan kebutuhan pekerjaan yang akan dijalani, bukan sebaliknya. Artinya, generasi muda diharapkan bersikaplebih adaptif dan responsif terhadap tuntutan dunia kerja. Ini merupakan respons langsung terhadap stereotip “Strawberry Generation” yang sering dipandang kurang tahan terhadaptekanan tradisional dalam pekerjaan.

Terakhir, Kemnaker juga sering mengajak generasi mudamempersiapkan diri menghadapi perubahan signifikan di dunia kerja akibat AI & digitalisasi, transisi hijau (green transition), dan perubahan ekonomi global, dengan memperkuatketerampilan relevan.

Prof. Rhenald menekankan bahwa karier sukses bukan hanyasoal kemampuan teknis, tetapi juga ketangguhan menghadapitekanan, kegagalan, dan tantangan. Saran praktis: terbiasamenghadapi kesulitan, disiplin dalam bekerja, dan konsistenmenuntaskan tanggung jawab.

Sementara itu, Kemnaker menyarankan agar Gen Z tidakmemaksakan pekerjaan sesuai preferensi pribadi semata, tetapiharus memahami dan menyesuaikan sikap dengan kebutuhannyata di tempat kerja. Ini penting karena karakteristik Gen Z yang ingin kerja yang bermakna kadang membuat mereka cepatberpindah jika merasa tidak cocok. Belajar bersikap adaptifterhadap budaya kerja, tuntutan profesional, dan peran yang digariskan perusahaan

Kritis tetapi Mendukung : Fenomena Strawberry Generationyang muncul pada Gen Z didukung oleh realitas perubahandunia kerja yang sangat cepat. Generasi ini tumbuh di era digital dan globalisasi, sehingga terbiasa dengan akses informasi instan, fleksibilitas, dan inovasi. Namun, mereka sering belum terbiasamenghadapi tekanan kerja nyata, kegagalan, atau konflikinterpersonal, yang menimbulkan kesan “rapuh”. Selain itu, sistem pendidikan dan lingkungan keluarga modern cenderungprotektif, memberikan kenyamanan berlebih, sehingga Gen Z kurang terlatih menghadapi risiko.

Peran Pemerintah: melalui Kementerian Ketenagakerjaan(Kemnaker), mengadakan program reskilling dan upskilling untuk meningkatkan kompetensi generasi muda agar siapmenghadapi perubahan industri dan tuntutan kerja modern. Program ini membantu Gen Z mengatasi kesenjangan soft skills dan adaptasi terhadap dunia kerja. Contohnya adalah Balai Latihan Kerja dan pelatihan berbasis sertifikasi kompetensi..

Mengedepankan Kepentingan Nasional: Gen Z perludiarahkan mengembangkan keterampilan, etos kerja, inovasi, dan fleksibilitas agar aspirasi pribadi selaras denganproduktivitas, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunanberkelanjutan Indonesia.[Cahya Putri Awaliya]

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image