Belajar Sampai ke Negeri China
Ekspresi | 2026-01-05 19:08:10
Siapa yang tidak familiar dengan China? Salah satu negara berkembang terbesar di dunia, sekaligus destinasi tujuan bagi banyak orang. Negara yang dikenal dengan kemajuan teknologi dan ekonominya, dengan jumlah sumber daya manusia yang besar di hampir setiap segmen. Dan sebuah negara yang kerap terlihat begitu sempurna dalam berbagai aspek.
Sebuah kesempatan luar biasa jika mampu berkunjung ke negeri tersebut, dan itulah yang dialami oleh temanku pada liburan akhir tahun ini.
Ada rasa bangga dalam diriku memiliki teman yang pernah menginjakkan kaki di sana, dan tentu sebuah keberuntungan baginya karena sempat merasakan hidup, meski sementara—di “Negeri Tirai Bambu”.
Aku menanyakan satu hal mendasar kepadanya, “Bagaimana di sana? Ia menjawab, “Everything is good, and so fun”. Lalu ia menambahkan, “Tapi ada satu problem ketika aku di sini—mayoritas orang China tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi, aku sering menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi dengan mereka.”
Ia bercerita begitu detail tentang berbagai hal baru yang ia temukan. Hingga pada satu titik, ceritanya mampu membuatku terinspirasi untuk mengangkat pengalaman itu menjadi sebuah narasi.
Dari “Negeri Tirai Bambu”, ia memetik satu pelajaran sederhana namun bermakna: mengapa banyak masyarakat China tidak menggunakan bahasa Inggris? Mungkin karena kecintaan mereka yang besar terhadap budaya sendiri—yang dijadikan sebagai sumber kekuatan dan persatuan.
China merupakan negara yang mengikuti perkembangan zaman, tanpa terbawa arus oleh zaman. Mereka adaptif, tapi tidak agresif. Mereka prospektif, tanpa menghapuskan retrospektif. Mereka konsumtif, tapi tidak mengurangi kepentingan kolektif. Dan mereka progresif, demi perubahan yang kualitatif. Semua hal tersebut terlukiskan dalam satu cita-cita leluhur mereka, yaitu—mewujudkan kesejahteraan kolektif.
Itu semua tidak terlepas dari peran langsung pemerintah China dalam membuat suatu kebijakan. Karena, resolusi yang tepat dalam memilih suatu kebijakan, akan melahirkan banyak kebajikan. Dan itu terbukti dengan berkembang pesatnya peradaban China di dunia, yang melahirkan cukup banyak teknokrat dan intelektual, sehingga mampu menjadikan China sebagai pusat perkembangan teknologi dan ekonomi terbesar pada klasemennya.
Salah satu contohnya adalah kebijakan China yang memblokir sejumlah platform media sosial populer di dunia dan menggantikannya dengan platform domestik. Sehingga hal ini berhasil mendorong laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Kebijakan ini tidak hanya bersifat regulatif, tetapi juga solutif.
Jadi dapat diinterpretasikan bahwa, China tidak hanya sekadar membuat aturan, melainkan juga menyiapkan jalan keluar. Sebuah pelajaran penting bagi bangsa ini: jangan mempersulit diri untuk terus membuat regulasi, tapi dengan mudah melupakan solusi.
Bayangkan Indonesia—sebuah negara yang kaya akan budaya, bahkan dalam banyak hal melampaui China. Namun, mengapa kita justru tertinggal? Mengapa kita tidak mampu melangkah seperti China?
Coba bayangkan jika Indonesia berani melakukan apa yang dilakukan China. Mungkin kita belum perlu membayangkan untuk melebihi mereka, tetapi setidaknya kita berada pada satu garis horizontal yang sama—sejajar dengan China, bahkan Amerika.
Kini, kita berada di fase dimana terjadi degradasi identitas dan jati diri. Bahkan dapat dibilang, kita berada di masa-masa kritis, sebelum benar-benar kehilangan sesuatu yang fundamental bagi eksistensi sebuah negara, yakni *karakteristik*.
Dan barangkali saja, pertanyaan terbesar kita hari ini bukanlah bagaimana menjadi seperti China, melainkan bagaimana kembali menjadi Indonesia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
