Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Maryam Sakinah

Ketika Game Online Memicu Kekerasan Anak

Kolom | 2026-01-01 21:53:57
ilustrasi by Generate ChatGPT

Belakangan ini, ruang publik kembali diguncang oleh rentetan kasus kekerasan yang melibatkan anak dan remaja. Satu benang merah yang tak bisa diabaikan adalah inspirasi yang didapat dari game online.

Seorang anak perempuan di Medan tega membunuh ibunya sendiri dengan menusukkan pisau berpuluh kali. Awalnya, publik meragukan dugaan bahwa pelakunya anak berusia 12 tahun. Namun, keterangan dari pihak berwajib membuat publik terhenyak sekaligus bertanya-tanya. Apa yang mendorong sang anak melakukannya?

Salah satu penyebabnya, pelaku yang masih di bawah umur ini kecanduan game online dengan unsur kekerasan. Game ini dihapus oleh ibunya. Dia juga kerap menonton anime dengan adegan pembunuhan menggunakan pisau.

Di Depok, seorang mahasiswa ditetapkan sebagai tersangka teror bom terhadap sepuluh sekolah. Kasus-kasus ini bukan insiden tunggal, melainkan potongan mozaik dari krisis yang lebih besar, yakni rusaknya generasi di tengah derasnya arus digital tanpa kendali.

Bercermin dari dua kasus yang menghentak kesadaran publik ini, game online dengan unsur kekerasan dan anime serupa tidak bisa diabaikan peredarannya. Namun, sejauh ini, narasi yang kerap dibangun bernada simplistik. Game hanyalah hiburan, pelaku yang salah. Cara pandang seperti ini justru menutup mata dari persoalan yang lebih struktural dan sistemik.

Kekerasan yang Dikemas sebagai Hiburan

Faktanya, berbagai riset dan laporan menunjukkan korelasi antara paparan konten kekerasan dalam game online dengan gangguan emosi, penurunan empati, agresivitas, hingga gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja. Game online hari ini bukan sekadar permainan iseng. Ia adalah industri raksasa dengan desain psikologis yang canggih hingga memberi efek adiktif, kompetitif ekstrem, dan sarat normalisasi kekerasan.

Yang lebih problematik, game-game ini sangat mudah diakses oleh anak-anak, nyaris tanpa proteksi berarti. Rating usia kerap menjadi formalitas. Orang tua dibiarkan berjuang sendiri, sementara negara seolah cukup puas dengan imbauan normatif.

Platform Digital Tidak Pernah Netral

Analisis yang jujur harus dimulai dari satu kesadaran mendasar bahwa platform digital tidak pernah netral. Di balik visual menarik, alur cerita heroik, dan mekanisme reward, tertanam nilai-nilai tertentu, yakni individualisme, glorifikasi kekerasan, dan kosong dari nilai moral. Apabila seorang anak terpapar oleh game seperti ini setiap harinya, secara perlahan akan terbentuk pola pikir dan pola merespons realitas.

Ruang digital hari ini adalah ladang subur bagi kapitalisme global. Tujuannya satu, mengejar keuntungan semata. Selama sebuah game laku di pasar, dampak sosial yang terjadi di lapangan bukan prioritas. Kerusakan mental, krisis empati, bahkan hilangnya nyawa manusia dianggap sebagai faktor eksternal yang tak perlu dipertanggungjawabkan.

Dalam sistem seperti ini, anak-anak tidak diposisikan sebagai generasi yang harus dilindungi, melainkan sebagai pasar potensial.

Absennya Negara dalam Melindungi Generasi

Lebih menyedihkan lagi, negara tampak gagap atau enggan menghadapi bahaya ini secara serius. Regulasi konten digital longgar, penegakan hukum lemah, dan kedaulatan digital nyaris menjadi jargon kosong. Negara kalah cepat dan kalah kuat dari korporasi global.

Padahal, membiarkan konten kekerasan bebas dikonsumsi anak-anak sama saja dengan membiarkan kerusakan generasi berlangsung secara sistematis. Bila negara berpikir strategis, hal ini tentu akan dicegah.

Islam dan Kewajiban Menjaga Generasi

Dalam Islam, menjaga akal (hifzh al-‘aql) dan jiwa (hifzh al-nafs) adalah kewajiban syar’i. Negara sebagai raa’in (pengurus urusan rakyat) wajib melindungi generasi dari segala bentuk kerusakan, baik fisik, mental, maupun moral. Islam tidak menoleransi sistem yang secara nyata merusak manusia, apalagi anak-anak.

Islam tidak menyerahkan perlindungan generasi pada mekanisme pasar atau kesadaran individu semata. Ia menuntut hadirnya negara yang kuat, berdaulat, dan berpihak pada kemaslahatan manusia, bukan kepentingan korporasi.

Melawan Hegemoni Digital Kapitalisme

Hegemoni ruang digital oleh kapitalisme global harus dilawan dengan kedaulatan digital. Negara tidak cukup menjadi regulator pasif, tetapi harus menjadi aktor aktif dalam menyaring konten, menutup akses terhadap game yang merusak, serta membangun ekosistem digital yang sehat dan bermoral.

Lebih jauh, kerusakan generasi hanya bisa ditangkal secara komprehensif melalui tiga pilar utama.

Pertama, ketakwaan individu yang dibangun dengan pendidikan berbasis akidah.

Kedua, kontrol masyarakat berupa budaya amar ma'ruf nahi mungkar. Masyarakat merasa ikut bertanggung jawab atas masa depan generasi hingga secara aktif turut membersamai pemerintah dalam upaya menyelamatkan generasi.

Ketiga, perlindungan negara melalui sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial, dan budaya yang berlandaskan Islam.

Penutup

Menyelamatkan generasi membutuhkan perubahan sistemik. Tanpa perubahan sistem, tragedi demi tragedi akan terus berulang, sementara kita sibuk mencari kambing hitam di level individu dan keluarga.

Kasus kekerasan yang terinspirasi game online sejatinya adalah alarm keras. Ada yang salah dengan sistem yang kita biarkan bekerja. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah game online berbahaya, melainkan sampai kapan negara dan masyarakat menoleransi kerusakan generasi atas nama kebebasan dan keuntungan. Wallahu'alam bisshawab.[]

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image