Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Juliana Salvia

Ketika Game Online Mulai Menyentuh Batas Bahaya bagi Generasi

Politik | 2026-01-05 23:00:47

Sejumlah peristiwa yang melibatkan anak dan remaja kembali mengundang keprihatinan publik. Dalam waktu berdekatan, masyarakat disuguhi kabar tentang kekerasan dalam keluarga, ancaman teror di lingkungan pendidikan, hingga perilaku agresif ekstrem yang dilakukan oleh generasi muda. Berbagai pihak pun mulai bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan anak-anak kita hari ini?

Di tengah upaya penelusuran sebab, muncul fakta yang patut dicermati. Dalam beberapa kasus, pelaku diketahui memiliki intensitas tinggi dalam bermain game online, khususnya game yang mengandung unsur kekerasan. Temuan ini tentu tidak dimaksudkan untuk menyederhanakan persoalan atau menjadikan game sebagai kambing hitam tunggal. Namun, keterkaitan tersebut cukup untuk menjadi alarm serius bahwa ada persoalan yang lebih dalam di ruang digital yang dikonsumsi anak-anak dan remaja.

Game online saat ini telah berkembang jauh melampaui fungsi hiburan. Ia menjadi ruang interaksi sosial, ruang pelampiasan emosi, bahkan ruang pembentukan kebiasaan dan cara pandang. Banyak game populer menjadikan kekerasan sebagai bagian utama dari alur permainan. Adegan menyerang, membunuh, dan menghancurkan tidak hanya ditampilkan, tetapi juga diberi penghargaan dalam bentuk poin, level, dan pengakuan sosial.

Bagi anak-anak dan remaja yang masih berada dalam proses pembentukan karakter, paparan semacam ini tidak bisa dianggap sepele. Kekerasan yang ditampilkan berulang kali berpotensi membentuk persepsi bahwa agresi adalah hal yang wajar. Tanpa disadari, batas moral perlahan bergeser. Empati terhadap penderitaan orang lain dapat menurun, sementara respons emosional menjadi lebih reaktif.

Fakta lain yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah mudahnya akses terhadap game online tersebut. Dengan gawai dan koneksi internet, anak-anak dapat memasuki ruang digital yang sarat kekerasan tanpa pendampingan orang tua dan tanpa pengawasan yang memadai. Sistem pembatasan usia yang ada sering kali tidak berjalan efektif, sehingga anak-anak dengan mudah mengakses konten yang sejatinya tidak sesuai dengan tahap perkembangan mereka.

Dampak dari kondisi ini tidak selalu langsung terlihat dalam bentuk kekerasan fisik. Banyak anak mengalami perubahan emosi, seperti mudah marah, gelisah, sulit mengendalikan diri, dan mengalami gangguan konsentrasi maupun tidur. Dalam jangka panjang, tekanan emosi yang tidak tersalurkan dengan sehat dapat memicu perilaku menyimpang, terlebih ketika anak tidak memiliki pegangan nilai yang kuat.

Ketika peristiwa kekerasan ekstrem akhirnya terjadi, publik sering kali terkejut dan mempertanyakan bagaimana mungkin anak seusia itu mampu melakukan tindakan sedemikian rupa. Padahal, proses pembentukan perilaku tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, melalui kebiasaan, tontonan, dan pengalaman yang terus diulang dalam keseharian, termasuk di ruang digital.

Game online yang mengandung kekerasan, pada titik tertentu, berfungsi sebagai ruang belajar alternatif. Namun yang dipelajari bukanlah penyelesaian konflik secara bijak, melainkan dominasi dan agresi. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa pengawasan dan arahan, maka kekerasan berisiko dinormalisasi, bukan hanya di layar, tetapi juga dalam kehidupan nyata.

Situasi ini seharusnya mendorong refleksi bersama. Apakah perlindungan generasi cukup diserahkan pada kesadaran individu dan keluarga semata? Ataukah ada tanggung jawab yang lebih besar yang harus diemban oleh negara dan sistem yang mengatur kehidupan masyarakat?

Dalam pandangan Islam, menjaga generasi adalah kewajiban yang bersifat menyeluruh. Islam memandang akal dan jiwa manusia sebagai amanah yang harus dilindungi dari segala bentuk kerusakan, termasuk yang datang melalui media dan teknologi. Karena itu, Islam tidak mengenal sikap netral terhadap konten yang jelas-jelas membahayakan moral dan kesehatan mental.

Islam membolehkan hiburan dan pemanfaatan teknologi, namun dengan batasan yang menjaga kemaslahatan. Kebebasan tidak dipahami secara absolut, melainkan terikat oleh tanggung jawab sosial. Ketika suatu konten terbukti membawa dampak buruk bagi generasi, maka pencegahan menjadi sebuah keharusan, bukan pilihan.

Dalam hal ini, peran negara menjadi sangat penting. Islam menempatkan negara sebagai pelindung utama rakyatnya, termasuk dalam menjaga generasi dari kerusakan sistemik. Negara tidak cukup hanya bersikap reaktif setelah tragedi terjadi, tetapi harus hadir secara preventif melalui kebijakan yang tegas dan berpihak pada keselamatan generasi.

Namun, Islam tidak hanya menekankan peran negara. Islam menawarkan solusi yang komprehensif melalui tiga pilar penjagaan generasi. Pilar pertama adalah ketakwaan individu. Anak-anak perlu dibekali dengan nilai iman dan moral yang kuat, sehingga memiliki kontrol diri dalam menyikapi apa yang mereka konsumsi, termasuk di ruang digital.

Pilar kedua adalah peran masyarakat. Islam mendorong terciptanya lingkungan sosial yang peduli dan tidak permisif terhadap kerusakan. Masyarakat memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan dan menjaga, termasuk dalam mengkritisi budaya digital yang merusak.

Pilar ketiga adalah peran negara yang kuat dan bertanggung jawab. Negara dalam sistem Islam tidak tunduk pada kepentingan industri semata, tetapi menjadikan kemaslahatan umat sebagai dasar kebijakan. Pengelolaan ruang digital diarahkan untuk mendukung pendidikan, pembinaan karakter, dan perlindungan jiwa.

Dengan pendekatan yang menyeluruh ini, Islam tidak menolak kemajuan teknologi, tetapi mengarahkannya. Game dan hiburan tetap dapat berkembang, namun berada dalam batas yang menjaga nilai kemanusiaan. Inilah keseimbangan yang dibutuhkan di tengah derasnya arus digital hari ini.

Kasus-kasus kekerasan yang melibatkan generasi muda seharusnya menjadi peringatan bersama. Bukan sekadar untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk membenahi sistem yang selama ini abai. Tanpa perlindungan yang kuat dan berbasis nilai, ruang digital akan terus menjadi tantangan serius bagi masa depan generasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image