Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ruslan Sudrajat

Tahun Baru dan Ilusi Awal yang Netral: Membaca Perayaan Tahun Baru sebagai Konstruksi Sosial

Rubrik | 2025-12-31 17:49:08
Ilustrasi Perayaan Tahun Baru. Foto: Republika

Ditulis Oleh: Ruslan Sudrajat Mahasiswa Magister Sosiologi FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Tahun Baru dan Ilusi Awal yang Netral: Membaca Perayaan Tahun Baru sebagai Konstruksi Sosial

Setiap tanggal 1 Januari, dunia seolah menekan tombol reset. Kembang api meledak di langit, hitung mundur menggema, dan manusia di berbagai belahan bumi serempak mengucapkan kalimat yang sama: “Selamat Tahun Baru.” Momentum ini sering dianggap sebagai sesuatu yang alamiah, netral, bahkan universal. Padahal, dari perspektif sosiologi pengetahuan Peter L. Berger, tahun baru bukanlah fakta objektif yang berdiri sendiri, melainkan sebuah realitas sosial yang dikonstruksi secara kolektif. Ia lahir dari proses historis, dilembagakan secara sosial, dan diterima sebagai sesuatu yang “wajar” oleh kesadaran manusia modern.

Dalam kerangka Berger, realitas sosial terbentuk melalui tiga proses dialektis: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Tahun baru dapat dibaca secara jernih melalui skema ini. Manusia, sejak lama, mengeksternalisasikan kebutuhan akan penanda waktu. Kalender bukan sekadar alat hitung hari, tetapi simbol keteraturan, harapan, dan kendali atas ketidakpastian hidup. Dari sinilah gagasan “awal tahun” diciptakan—bukan sebagai keharusan alamiah, melainkan sebagai produk kebudayaan.

Seiring waktu, eksternalisasi itu mengalami objektivasi. Tahun baru tidak lagi dipahami sebagai kesepakatan sosial, tetapi menjelma menjadi fakta sosial yang tampak objektif. Negara menetapkannya sebagai hari libur nasional, media massa membingkainya sebagai peristiwa besar, industri hiburan mengkapitalisasinya melalui konser dan pesta, sementara media digital memproduksi jutaan konten bertema resolusi dan refleksi diri. Data global menunjukkan bahwa pencarian kata kunci “New Year Resolution” selalu melonjak tajam setiap akhir Desember, menandakan bagaimana kesadaran individu telah diarahkan secara masif oleh struktur sosial dan teknologi digital.

Pada tahap internalisasi, individu menerima konstruksi tersebut sebagai bagian dari realitas subjektifnya. Kita merasa wajar untuk membuat resolusi, merasa bersalah jika tahun berlalu tanpa pencapaian, dan merasa optimistis hanya karena angka kalender berubah. Inilah yang oleh Berger disebut sebagai taken-for-granted reality—realitas yang diterima tanpa lagi dipertanyakan asal-usul sosialnya. Tahun baru, dengan demikian, bukan sekadar penanda waktu, melainkan mekanisme simbolik yang membentuk cara manusia menilai diri dan hidupnya.

Namun, di sinilah analisis sosiologis menjadi penting. Dalam masyarakat kapitalistik-modern, konstruksi tahun baru sering kali tidak netral. Ia sarat dengan logika produktivitas, kompetisi, dan konsumsi. Resolusi pribadi jarang dilepaskan dari narasi sukses individual: karier lebih tinggi, tubuh lebih ideal, penghasilan lebih besar. Industri kebugaran, perbankan, hingga e-commerce mencatat peningkatan transaksi signifikan di awal tahun. Fakta ini menunjukkan bahwa konstruksi sosial tahun baru berkelindan erat dengan kepentingan ekonomi dan ideologi neoliberal, yang menempatkan individu sebagai proyek tanpa henti untuk diperbaiki.

Dari sudut pandang Berger, kondisi ini memperlihatkan bagaimana institusionalisasi makna bekerja. Makna tahun baru tidak lahir di ruang hampa, melainkan diproduksi dan direproduksi oleh aktor-aktor dominan: negara, pasar, media, dan kini algoritma digital. Media sosial, misalnya, memperkuat objektivasi dengan menghadirkan standar kebahagiaan dan kesuksesan yang seragam. Timeline dipenuhi unggahan refleksi dan target hidup, menciptakan tekanan simbolik yang sering kali tidak disadari.

Namun Berger juga memberi ruang bagi kesadaran kritis. Karena realitas sosial adalah konstruksi, maka ia selalu mungkin dipersoalkan dan ditafsir ulang. Tahun baru tidak harus dimaknai sebagai ajang kompetisi simbolik atau beban resolusi personal. Ia dapat dibaca sebagai momen refleksi kolektif: tentang ketimpangan sosial yang masih menganga, krisis ekologis yang memburuk, dan solidaritas sosial yang kerap kalah oleh euforia sesaat.

Di sinilah relevansi pemikiran Peter L. Berger bagi masyarakat Indonesia hari ini. Dalam konteks bangsa yang menghadapi krisis kepercayaan publik, polarisasi politik, dan ketidakpastian ekonomi, tahun baru semestinya tidak berhenti pada pesta simbolik. Ia perlu dimaknai ulang sebagai ruang kesadaran sosial—bahwa perubahan tidak lahir dari pergantian kalender, melainkan dari transformasi struktur dan tindakan kolektif.

Pada akhirnya, tahun baru mengajarkan satu hal penting: realitas yang kita anggap “alami” sering kali adalah hasil konstruksi sosial yang panjang. Dengan kesadaran itu, kita tidak hanya merayakan pergantian waktu, tetapi juga merebut kembali makna hidup dari dominasi simbol dan pasar. Sebagaimana diingatkan Berger, manusia adalah pencipta dunia sosial, tetapi sekaligus berisiko menjadi tawanan dari ciptaannya sendiri. Tahun baru memberi kesempatan untuk memilih: terus larut dalam ilusi objektivitas, atau mulai membongkar dan memaknainya secara lebih manusiawi

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image