Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mochammad Hisyam Aflahuddin

Menahan Riuh Tahun Baru di Tengah Bencana yang Melanda Indonesia

Trend | 2025-12-28 10:04:38
Tahun baru 2026 tanpa riuh sebagai simbol penghormatan kepada masyarakat yang terdampak bencana

Tahun Baru yang Tidak Sepenuhnya Ceria

Setiap akhir tahun, kita sudah sangat akrab dengan satu pemandangan yang sama: hitung mundur, kembang api, dan unggahan harapan di media sosial. Tahun baru seolah selalu identik dengan perayaan. Namun akhir-akhir ini, suasana itu terasa tidak sepenuhnya utuh. Ada perasaan ganjil ketika kalender berganti, sementara di banyak wilayah Indonesia justru sedang berhadapan dengan musibah.

Banjir kembali melanda sejumlah daerah di Sumatra. Rumah-rumah terendam, aktivitas lumpuh, dan warga harus mengungsi dengan kondisi serba terbatas. Tidak hanya di Sumatra, beberapa wilayah lain di Indonesia juga mengalami bencana serupa: banjir, longsor, hingga cuaca ekstrem yang datang hampir tanpa jeda. Di saat sebagian dari kita memikirkan menu pesta atau rencana liburan, sebagian yang lain justru sedang sibuk menyelamatkan dokumen penting dan mencari tempat aman.

Di titik inilah tahun baru terasa berbeda. Bukan karena tanggalnya, tetapi karena realitas yang menyertainya. Pergantian tahun tidak lagi sekadar soal merayakan, melainkan juga soal menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kemewahan untuk bersuka cita.

Ketika Perayaan Perlu Diberi Jeda

Tidak ada yang salah dengan merayakan tahun baru. Namun, ada momen-momen tertentu ketika perayaan perlu diberi jeda. Bencana yang terus berulang seakan menjadi pengingat bahwa empati sosial tidak boleh tertinggal oleh euforia. Dentuman kembang api mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka yang baru saja kehilangan rumah atau sanak keluarga, suasana riuh justru bisa terasa menyakitkan.

Menahan riuh bukan berarti menghapus harapan. Justru sebaliknya, ini adalah cara lain untuk memaknai harapan itu sendiri. Harapan tidak selalu harus diteriakkan; kadang ia cukup disimpan dalam doa, refleksi, dan tindakan kecil yang bermakna. Tahun baru bisa dirayakan dengan cara yang lebih tenang—tanpa pesta besar, tanpa hingar-bingar berlebihan—sebagai bentuk penghormatan kepada saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah.

Sikap semacam ini bukan soal siapa yang paling benar atau paling bermoral. Ini lebih pada kesadaran bahwa kita hidup dalam satu ruang kebangsaan yang sama. Ketika satu daerah berduka, seharusnya daerah lain ikut menundukkan kepala, setidaknya dengan empati.

Belajar dari Bencana, Memperbaiki Diri ke Depan

Bencana yang datang silih berganti sejatinya bukan hanya membawa kerusakan, tetapi juga pesan. Alam seakan terus mengingatkan bahwa ada relasi yang perlu diperbaiki—antara manusia dengan lingkungannya, antara pembangunan dengan keberlanjutan, dan antara kepentingan jangka pendek dengan keselamatan jangka panjang. Banjir yang berulang, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari persoalan tata ruang, alih fungsi lahan, dan cara kita memperlakukan alam selama ini.

Tahun baru seharusnya menjadi titik belajar, bukan sekadar titik mulai. Belajar bahwa manusia tidak sepenuhnya berkuasa atas alam. Belajar bahwa solidaritas sosial lebih penting daripada euforia sesaat. Dan belajar bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari kesadaran kecil untuk bersikap lebih bijak.

Mungkin inilah pesan moral yang bisa kita petik: alam sedang mengingatkan kita, lewat bencana, agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Tahun yang akan datang semestinya menjadi ruang untuk memperbaiki diri—lebih peduli, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab. Jika tahun baru kali ini dirayakan dengan lebih sunyi, semoga kesunyian itu justru melahirkan kesadaran yang lebih dalam tentang bagaimana kita ingin melangkah ke depan, sebagai individu maupun sebagai bangsa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image