Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rafli Arya

Tahun Baru, Tekanan Baru: Realita Hidup Gen Z Hari Ini

Gaya Hidup | 2025-12-29 14:18:03
Ilustrasi Gen Z yang Mengalami Tekanan Tahun Baru (Sumber: Freepik)

Gen Z hidup di zaman yang bergerak sangat cepat. Informasi datang tanpa henti, tren berganti hampir setiap minggu, dan standar kesuksesan seolah terus naik. Media sosial mempercepat semuanya. Dalam satu layar, kita bisa melihat teman sebaya yang sudah punya bisnis, karier mapan, penghasilan besar, bahkan hidup yang terlihat “sempurna”.

Tanpa sadar, perbandingan itu menjadi tekanan. Banyak anak muda yang akhirnya merasa hidupnya tertinggal, padahal sedang berjalan sesuai proses masing-masing. Tahun baru yang seharusnya menjadi momen refleksi justru berubah menjadi ajang membandingkan pencapaian.

Belum lagi ekspektasi dari lingkungan sekitar. Usia segini harus sudah kerja tetap, punya tabungan, atau setidaknya tahu arah hidup. Padahal kenyataannya, tidak semua orang punya privilese yang sama untuk melaju dengan kecepatan serupa.

Antara Ambisi dan Kelelahan Mental

Gen Z dikenal sebagai generasi yang ambisius, kreatif, dan adaptif. Banyak yang punya mimpi besar, berani mencoba hal baru, dan tidak takut keluar dari jalur konvensional. Namun di balik itu, ada kelelahan mental yang sering tidak terlihat.

Tekanan untuk terus produktif membuat istirahat terasa seperti kemunduran. Istilah “healing” bahkan kerap disalahartikan sebagai pelarian sesaat, bukan pemulihan yang sesungguhnya. Akibatnya, banyak anak muda yang tampak baik-baik saja di luar, tetapi kelelahan di dalam.

Tahun baru sering memperparah kondisi ini. Resolusi demi resolusi ditulis, target demi target dipasang, tanpa benar-benar bertanya: apakah ini keinginan sendiri, atau sekadar tuntutan sosial?

Ketidakpastian yang Membayangi

Realita hidup Gen Z juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi dan sosial yang tidak stabil. Lapangan pekerjaan semakin kompetitif, harga kebutuhan hidup meningkat, sementara kepastian masa depan terasa semakin kabur.

Banyak anak muda yang akhirnya merasa cemas: bekerja keras pun belum tentu menjamin hidup nyaman. Kuliah tinggi pun tidak selalu berujung pada pekerjaan sesuai harapan. Di titik inilah muncul rasa lelah yang bukan hanya fisik, tetapi juga emosional.

Tahun baru datang, tetapi kekhawatiran tetap ikut terbawa.

Belajar Berdamai dengan Proses

Meski begitu, bukan berarti Gen Z selalu kalah oleh keadaan. Justru di tengah tekanan inilah banyak anak muda belajar bertahan, beradaptasi, dan mencari makna hidup dengan cara mereka sendiri.

Mungkin tahun ini belum berhasil mencapai semua target. Mungkin hidup masih terasa berantakan. Tapi bertahan, bangkit setiap hari, dan terus mencoba juga merupakan bentuk pencapaian yang sering diremehkan.

Tidak semua orang harus melaju cepat. Tidak semua kesuksesan harus datang di usia muda. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan memberi waktu untuk tumbuh.

Tahun Baru, Harapan yang Lebih Realistis

Tahun baru seharusnya bukan tentang menekan diri dengan standar yang tidak manusiawi. Ia bisa menjadi momen untuk lebih memahami diri sendiri, menerima keterbatasan, dan berjalan dengan ritme yang lebih sehat.

Gen Z tidak malas, tidak lemah, dan tidak kurang usaha. Mereka hanya hidup di zaman yang menuntut banyak hal sekaligus. Maka, mungkin resolusi terbaik di tahun ini bukan soal pencapaian besar, melainkan keberanian untuk tetap bertahan, belajar, dan berkembang perlahan.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang mampu terus berjalan tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image