Bahasa Cinta Baru Ala Gen Z: Menyimpan Seseorang di Dalam Lagu
Skena | 2026-01-26 15:21:11Bagi sebagian orang, lagu bukan hanya sekadar hiburan. Lagu adalah tempat paling aman untuk meletakkan perasaan yang tak bisa lagi diucapkan. Terutama ketika yang tersisa hanyalah kenangan tentang seseorang yang dulu pernah sangat dicintai—mantan pacar.
Ketika sebuah hubungan berakhir, yang benar-benar pergi bukan hanya orangnya, tetapi juga kebiasaan, rencana, dan mimpi-mimpi kecil yang pernah dibangun bersama.
Luka itu sering kali tidak terlihat, tetapi terus terasa. Di sinilah musik mengambil peran yang tidak bisa digantikan apa pun—menjadi rumah bagi perasaan yang tak tahu harus pulang ke mana.
Seseorang yang menyimpan kenangan dengan mantannya di dalam lagu bukan berarti belum bisa move on. Kadang, itu hanya cara untuk berdamai. Karena tidak semua cerita harus selesai dengan melupakan.
Beberapa cukup dikenang, tanpa perlu dihidupkan kembali. Setiap kali lagu itu diputar, mungkin ada senyum kecil yang muncul—bukan karena ingin kembali, tetapi karena pernah merasakan cinta yang tulus.
Lagu menjadi saksi bisu dari versi diri kita yang dulu, lebih polos, lebih berani berharap, dan lebih percaya pada kata “selamanya”.
Menaruh kenangan di dalam lagu juga berarti memberi ruang pada diri sendiri untuk merasakan, tanpa menghakimi. Tidak semua orang bisa langsung kuat. Ada yang butuh waktu, ada yang butuh tangisan, dan ada yang butuh melodi untuk menenangkan hatinya. Dan mungkin, suatu hari nanti, lagu itu tidak lagi menyakitkan. Ia hanya akan menjadi cerita lama yang manis, meski sempat menyedihkan.
Karena pada akhirnya, bukan mantan yang kita rindukan, melainkan versi diri kita saat mencintainya. Lagu-lagu itu tidak mengikat kita pada masa lalu. Justru, ia mengajarkan bahwa kita pernah jatuh, pernah terluka, dan tetap memilih untuk melanjutkan hidup—dengan hati yang lebih dewasa.
Karena kenangan memang tidak selalu harus dilupakan. Beberapa orang mengabadikannya di dalam lagu.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
