Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Kholifatunnisa Assholihah

Puisi sebagai Cermin Zaman: Puisi Karya Widji Thukul dan Taufik Ismail

Sastra | 2025-12-29 04:47:06
https://pixabay.com/id/photos/perang-pemeragaan-kembali-1822769/

Puisi merupakan salah satu bentuk karya satra, seseorang yang gemar menulis puisi disebut dengan penyair. Puisi bukan sekadar rangkaian kata indah yang tersusun dalam bait-bait singkat. Ia adalah cermin zaman, suara hati, sekaligus medium kritik sosial yang mampu menembus batas ruang dan waktu. Dalam sejarah sastra Indonesia, puisi sering kali hadir sebagai saksi sekaligus penggerak perubahan, menyuarakan keresahan, harapan, bahkan perlawanan terhadap ketidak-adilan.

Dua karya yang menonjol dalam konteks ini adalah puisi “Peringatan” karya Wiji Thukul (1986) dan “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” karya Taufiq Ismail (1998). Meski lahir dari latar sosial-politik yang berbeda, keduanya sama-sama menegaskan bahwa puisi dapat menjadi senjata moral dan ideologis. Taufiq Ismail mengekspresikan rasa kecewa dan malu terhadap kondisi bangsa yang terpuruk, sementara Wiji Thukul mengobarkan semangat perlawanan terhadap penindasan. Tulisan ini berfokus perbandingan kedua puisi tersebut dalam: konteks sejarah dan sosial, tema utama, gaya bahasa, dan tone atau nada.

Konteks Sejarah dan Sosial

  • Wiji Thukul – Peringatan (1986)

Di tengah masa represif orde baru, Thukul menulus dari prespektif aktivitas rakyat kecil yeng mengalami langsung pembungkaman, intimidasi, dan hilangnya ruang kritik.

  • Taufiq Ismail – Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998)

Ditulis pada masa akhir orde baru ketika korupsi, penyelewengan, manipulasi, pemilu, penyiksaan, dan represi negara mencapai puncaknya, Puisi ini alhir dari kekecewaan mendalam seorang intektual yang melihat moral bangsa hancur.

Perbandingan konteks: Thukul berbicara dari suara rumput yang mengahadapi represi negara secara langsung, sedangkan Taufik berbicara dari intelektual yang kecewa pada bangsanya.

Tema Utama

  • Wiji Thukul – Peringatan (1986)

Tema utama: perlawanan terhadap penindasan. Puisi ini memperingatkan bahwa:

  1. Rakyat Pergi saat penguasa pidato → tanda putus asa
  2. Rakyat berbisik-bisik → tanda ketakutan
  3. Rakyat berani mengeluh tanda bahaya bagi penguasa
  4. Suara rakyat dibungkam → mandat untuk melawan

Puisi ini adalah seruan perlawanan yang eksplisit: “maka hanya ada satu kata: lawan!”

  • Taufiq Ismail – Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998)

Tema sentralnya: kejatuhan moral bangsa dan rasa malu menjadi orang Indonesia. Diungkap melalui penggambaran:

  1. Birokrasi koruo, nepotisme, kolusi
  2. Rekayasa pemilu
  3. Pembungkaman media
  4. Kekerasan negara (Aceh, Irian, dll)
  5. Rusaknya Akhlak Publik

Puisi ini merupakan elegi sosial: ratapan panjang atas kehancuran etis bangsa.

Perbandingan Tema: Thukul mengajak bergerak dan melawan penindasan, sedangkan Taufiq mengajak merenung dan menilai kerusakan moral bangsa.

Gaya Bahasa

  • Wiji Thukul – Peringatan (1986)
  1. Gaya bahasa singkat, lugas, repetitif
  2. Stuktur berlapis-setiap bait memperkuat ancaman terhadap penguasa, jika rakyat dibungkam
  3. Dominasi kalimat imperatif dan peringatan
  4. Tidak deskriptif, tetapi ajakan langsung
  • Taufiq Ismail – Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998)
  1. Bentuk panjang, naratif, deskriptif
  2. Repitisi kuat: "Di negriku..." membangun tekanan emosional tentang buruknya kondisi bangsa.
  3. Banyak enumerasi (daftar panjang): misalnya daftar korupsi, penyelewengan, dan tindakan represif di berbagai wilayah.

Perbandingan gaya:

Taufik ???? retoritis dan deskriptif

Thukul ???? ringkas dan militant

 Tone/Nada

  • Wiji Thukul – Peringatan (1986)

Nada: berani, tegas, membakar semangat.Satu kata final “LAWAN” menjadi klimaks nada perlawanan.

  • Taufiq Ismail – Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998)

Nada: kecewa, getir, malu, satir.“Langit akhlak rubuh ” menegaskan rasa putus asa terhadap moral bangsa.

Perbandingan Nada:

Taufik ???? alegi dan kritik moral

Thukul ???? agitasi perlawanan

Membandingkan kedua puisi ini bukan hanya soal menemukan persamaan dan perbedaan gaya bahasa atau tema, tetapi juga memahami bagaimana sastra berfungsi sebagai ruang dialektika antara individu dan masyarakat. Melalui kajian sastra bandingan, kita dapat melihat bagaimana suara penyair menjadi representasi kegelisahan kolektif, sekaligus membuka ruang refleksi bagi pembaca masa kini.

Di tengah arus zaman yang terus berubah, pesan kedua penyair tetap relevan: bangsa yang sehat adalah bangsa yang berani mengakui kelemahan sekaligus berani melawan penindasan. Puisi mereka menjadi pengingat bahwa kata-kata mampu mengguncang kesadaran, menyalakan harapan, dan menuntun kita untuk tidak pernah berhenti mencintai sekaligus mengkritisi Indonesia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image