Bernyanyi dan Bermain: Strategi Efektif Pembelajaran Bahasa Bagi Siswa Thailand
Edukasi | 2025-12-22 09:08:43
Pembelajaran bahasa asing sering kali dianggap sulit dan membosankan, terutama bagi siswa yang masih berada pada usia sekolah dasar atau menengah. Perbedaan bahasa, budaya, dan cara belajar menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Dalam konteks pembelajaran bahasa kepada siswa Thailand, pendekatan kreatif dan menyenangkan menjadi kunci agar proses belajar dapat berjalan efektif. Salah satu metode yang terbukti berhasil adalah menggabungkan kegiatan bernyanyi dan permainan edukatif.
Lagu anak-anak seperti “Kepala, Pundak, Lutut, Kaki” menjadi media pembelajaran yang sederhana namun bermakna. Melalui lagu ini, siswa dapat mengenal kosakata anggota tubuh dengan cara yang alami dan tidak terasa seperti sedang menghafal. Irama yang ceria dan gerakan yang menyertai lagu membantu siswa memahami makna kata sekaligus melatih pelafalan. Selain itu, bernyanyi bersama mampu menciptakan suasana kelas yang lebih akrab dan mengurangi rasa canggung siswa dalam menggunakan bahasa asing.
Setelah siswa mengenal lagu tersebut, kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan permainan berbasis instruksi. Guru memberikan perintah seperti, “If I say ‘hidung’, you have to touch your nose.” Namun, untuk melatih fokus dan konsentrasi, guru sengaja melakukan gerakan yang berbeda dari instruksi yang diucapkan, misalnya menyebut “hidung” tetapi memegang telinga atau anggota tubuh lainnya. Strategi ini mendorong siswa untuk benar-benar menyimak instruksi secara verbal, bukan sekadar meniru gerakan guru.
Permainan sederhana ini memberikan dampak yang signifikan terhadap keterlibatan siswa. Mereka menjadi lebih aktif, antusias, dan tertantang untuk tetap fokus. Kesalahan yang terjadi justru memunculkan tawa dan suasana positif di dalam kelas, sehingga proses belajar berlangsung tanpa tekanan. Secara tidak langsung, siswa juga belajar tentang kedisiplinan, konsentrasi, serta kemampuan mengikuti instruksi dalam bahasa asing.
Pengalaman ini penulis peroleh sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), yang tengah menjalani Pelatihan Profesi Lapangan (PPL) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Krabi, Thailand. Selama program tersebut, penulis ditempatkan di Eakkapapsasanawich Islamic School (EKP), sebuah sekolah yang memiliki lingkungan multikultural dan menggunakan bahasa asing dalam proses pembelajarannya.
Menurut penulis, pembelajaran bahasa melalui lagu dan permainan sangat relevan diterapkan di lingkungan multikultural seperti Thailand. Metode ini tidak hanya membantu siswa memahami kosakata, tetapi juga membangun keberanian, kepercayaan diri, serta minat belajar bahasa. Di era pendidikan modern, guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Bernyanyi dan bermain bukan sekadar hiburan, melainkan strategi pedagogis yang efektif untuk menjembatani perbedaan bahasa dan budaya dalam dunia pendidikan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
