UPI Beri Contoh: Empati Kampus tidak Cukup tanpa Kebijakan Konkret
Kabar | 2025-12-17 17:31:43
Setiap kali bencana terjadi, di Indonesia
solidaritas masyarakat langsung bergerak. Kampus pun tidak ketinggalan: ada yang membuka posko donasi, menggalang dana, menyalurkan bantuan logistik, atau mengirim relawan ke lokasi terdampak. Semua itu tentu baik dan layak diapresiasi. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang dibahas: bagaimana nasib mahasiswa yang keluarganya menjadi korban langsung dari bencana?
Kasus terbaru dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memberi kita gambaran nyata. Berdasarkan informasi dari Humas UPI, seorang mahasiswi mereka kehilangan hampir seluruh anggota keluarganya akibat banjir bandang di Sumatra Barat. Rumahnya pun ikut hanyut. Dalam situasi yang begitu traumatis dan menghancurkan, UPI mengambil langkah konkret: membebaskan UKT bagi mahasiswi tersebut.
Sayangnya, kebijakan seperti ini masih jarang terdengar. Banyak kampus berfokus pada penyaluran bantuan ke masyarakat, hal yang tentu baik, tetapi nasib mahasiswa mereka sendiri sering tidak mendapatkan perhatian struktural. Padahal, mahasiswa yang kehilangan keluarga dan rumah bukan hanya mengalami luka emosional, tetapi juga kehilangan stabilitas finansial dan masa depan akademiknya.
Di sinilah perbedaan antara empati simbolis dan empati struktural menjadi penting.
Empati simbolis: kampus bersimpati, mengunggah poster kepedulian, menggalang donasi, mengajak civitas berdonasi.
Empati struktural: kampus berani membuat kebijakan yang langsung meringankan beban mahasiswa—pembebasan UKT, penundaan pembayaran, dispensasi akademik, dan dukungan psikologis.
UPI menunjukkan bahwa empati struktural itu bukan hanya idealisme, tapi sesuatu yang bisa dan seharusnya dilakukan kampus. Jika satu kampus bisa, mengapa kampus lain tidak?
Indonesia adalah negara rawan bencana. Artinya, kampus-kampus seharusnya memiliki mekanisme darurat untuk mahasiswa yang kehilangan keluarga, rumah, atau sumber penghidupan. Tidak perlu menunggu pemberitaan, tidak perlu menunggu viral.
Sebuah kebijakan sederhana yang cepat dan manusiawi bisa menjadi penyangga agar mahasiswa tidak kehilangan masa depannya dua kali: oleh bencana, dan oleh sistem pendidikan.Bantuan logistik memang penting, tetapi kebijakan yang melindungi keberlangsungan pendidikan jauh lebih bernilai. UPI telah memulai langkah kecil namun berarti. Kini saatnya kampus lain mengikuti, bukan hanya mengulurkan tangan, tetapi benar-benar membuka jalan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
