Monica dan Sunyi yang Tumbuh Diam-Diam
Humaniora | 2026-01-28 18:24:43Aku Monica kekasih Saepani
Anak kedua dari empat bersaudara. Aku punya satu abang dan dua adik. Dari luar, kehidupan mungkin terlihat cukup—orang tua bekerja, kebutuhan terpenuhi, tidak kekurangan secara materi. Tapi hidup, rupanya, bukan hanya soal cukup atau tidak cukup.
Ada beban yang tidak terlihat: kerasnya ekspektasi orang tua. Sejak kecil aku tumbuh dengan tuntutan—harus kuat, harus bisa, harus sesuai harapan. Tidak banyak ruang untuk bercerita, apalagi mengeluh. Dari sanalah aku belajar satu hal: diam.
Aku menjadi anak yang introvert. Lebih nyaman memendam daripada mengungkapkan. Lebih sering mengalah daripada melawan. Dan mungkin, tanpa kusadari, sikap itulah yang membuat rentan.
Masa Sekolah dan Luka yang Tak Terucap
Di bangku MTs, aku mulai mengenal satu hal yang sampai hari ini masih membekas: bullying.
Bukan hanya sekedar mengungkapkan, tapi mencerminkan, bisik-bisik di belakang, dan rasa dikucilkan yang pelan-pelan menggerogoti kepercayaan diri. Aku tidak melawan. Aku tidak melapor. Aku memilih bertahan—dengan caraku sendiri, meski sering kali itu berarti menangis sendirian.
Masuk MA, lukanya belum sembuh total. Aku masih membawa rasa takut yang sama: takut tidak diterima, takut salah, takut menjadi diri sendiri. Tapi hidup, ternyata, punya cara mengejutkan untuk mempertemukan seseorang di waktu yang tepat.
Saepani: Lelaki yang Datang Tanpa Memaksa
Di jenjang MA, aku bertemu Saepani.
Dia bukan lelaki yang datang dengan janji besar atau kata-kata manis yang berlebihan. Justru sebaliknya—hadir dengan kesederhanaan dan ketulusan. Ia tidak memaksaku berubah, tidak mendesakku bercerita. Dia hanya ada. Mendengar. Menunggu.
Untuk pertama kalinya, aku merasa dicintai tanpa syarat. Dicintai tanpa harus menjadi versi yang “sempurna”. Dari dia, aku belajar bahwa cinta tidak selalu riuh. Terkadang, cinta adalah seseorang yang duduk di sampingmu saat dunia terasa terlalu bising.
Ia menjadi lelaki pertama yang benar-benar melihatku—bukan hanya sebagai perempuan, tapi sebagai manusia dengan luka, ketakutan, dan harapan.
Kuliah, Bertumbuh, dan Berdamai
Kini aku kuliah di Universitas Bina Bangsa, Fakultas Kesehatan, Kimia Farma.
Dunia kampus memberiku ruang baru untuk bernapas. Aku mulai belajar mengenal diriku sendiri—bukan sebagai anak yang harus selalu memenuhi ekspektasi orang lain, tapi sebagai Monica yang sedang bertumbuh.
Aku masih introvert. Aku masih sensitif. Tapi aku tidak lagi membenci bagian itu. Aku mulai berdamai dengan masa lalu: dengan keluarga, dengan luka, dengan diriku sendiri.
Aku sadar, tidak semua luka harus disembuhkan dengan melupakan. Cukup diterima, agar kita bisa melangkah tanpa menoleh ke belakang.
Tentang Perempuan dan Ketahanan
Saya menulis ini bukan untuk mengeluh.
Aku menulis ini untuk mengatakan bahwa perempuan bisa kuat tanpa harus keras. Bahwa menjadi pendiam bukan berarti lemah. Bahwa mereka yang terlihat baik-baik saja, sering kali sedang berjuang paling dalam.
Hidup tidak selalu adil, tapi kita selalu punya pilihan untuk bertahan—dan bertumbuh. Aku adalah hasil dari proses panjang itu. Dari keheningan, aku belajar mendengar. Dari luka, aku belajar menguatkan.
Dan dari cinta yang tulus, aku belajar bahwa aku layak dicintai—apa adanya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
