Strategi Hemat Ala Mahasiswa Menyambut Ramadhan
Gaya Hidup | 2026-02-20 16:11:05
Ramadhan selalu menjadi bulan yang dinanti, bukan hanya karena suasana religiusnya, tetapi juga karena momen kebersamaan yang hangat bersama keluarga dan teman. Namun bagi mahasiswa, datangnya Ramadhan sering kali juga berarti pengeluaran yang meningkat. Mulai dari kebutuhan sahur dan berbuka, ajakan buka bersama, hingga persiapan menjelang Lebaran, semuanya membutuhkan perencanaan keuangan yang lebih matang. Tanpa strategi yang tepat, uang saku bisa habis sebelum bulan suci berakhir.
Salah satu langkah paling sederhana namun efektif adalah membuat anggaran khusus Ramadhan. Mahasiswa perlu mencatat estimasi pengeluaran selama satu bulan, termasuk kebutuhan makan, transportasi, dan bukber. Dengan membuat batas pengeluaran, kita bisa lebih sadar dalam membelanjakan uang. Kebiasaan kecil seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran harian juga membantu mengontrol keuangan agar tidak berlebihan.
Strategi berikutnya adalah mengurangi frekuensi jajan di luar. Godaan takjil dan makanan viral memang sulit ditolak, apalagi jika sering muncul di media sosial seperti TikTok atau Instagram. Namun membeli takjil setiap hari bisa membuat pengeluaran membengkak. Sebagai alternatif, mahasiswa dapat mengatasinya dengan memasak menu sederhana di kos atau berbagi bahan makanan dengan teman sekamar agar lebih hemat. Selain lebih ekonomis, memasak sendiri juga lebih terjamin kebersihannya.
Buka bersama juga menjadi agenda yang hampir tak terpisahkan dari Ramadhan. Agar tetap hemat, mahasiswa dapat memilih tempat makan yang ramah di kantong atau menerapkan konsep potluck, di mana setiap orang membawa satu jenis makanan untuk dinikmati bersama. Cara ini tidak hanya mengurangi biaya, tetapi juga mempererat kebersamaan. Tidak semua momen kebersamaan harus dirayakan di tempat mahal; yang terpenting adalah kualitas waktunya.
Selain itu, mahasiswa juga bisa memanfaatkan promo dan diskon Ramadhan dengan bijak. Banyak platform belanja dan layanan makanan menawarkan potongan harga selama bulan puasa. Namun penting untuk tetap selektif dan tidak tergoda membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Diskon akan tetap menjadi pemborosan jika barang tersebut tidak masuk dalam daftar prioritas.
Tak kalah penting, sisihkan sebagian uang untuk kebutuhan mendadak dan persiapan menjelang Idulfitri. Harga kebutuhan pokok biasanya mengalami kenaikan menjelang hari raya, sehingga memiliki dana cadangan menjadi langkah yang bijak. Mahasiswa juga bisa mulai menabung sedikit demi sedikit sejak awal Ramadhan agar tidak panik saat kebutuhan meningkat di akhir bulan.
Pada akhirnya, menyambut Ramadhan dengan strategi hemat bukan berarti mengurangi makna kebahagiaan. Justru dengan pengelolaan keuangan yang baik, mahasiswa bisa menjalani bulan suci dengan lebih tenang dan fokus pada ibadah. Ramadhan mengajarkan kesederhanaan, pengendalian diri, dan rasa syukur—nilai-nilai yang sejalan dengan hidup hemat. Dengan perencanaan yang tepat, Ramadhan bukan hanya menjadi bulan penuh berkah secara spiritual, tetapi juga bulan yang mengajarkan kedewasaan dalam mengelola keuangan.
Penulis : Syakila Deliwarna ,Universitas Pamulang Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Manajemen S1
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
