Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wuri Syaputri

Pamer yang Berganti Nama Menjadi Sharing

Gaya Hidup | 2026-06-04 15:11:18

Oleh Wuri Syaputri

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Ilustrasi dibuat oleh AI

Media sosial telah mengubah banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, termasuk cara kita berbicara tentang diri sendiri. Jika beberapa tahun lalu seseorang yang sering menunjukkan pencapaian, barang baru, atau keberhasilannya berisiko dicap pamer, kini situasinya tidak lagi sesederhana itu.

Hari ini, unggahan yang serupa sering dibingkai dengan kata yang berbeda. Banyak orang memilih mengatakan bahwa mereka sedang sharing, berbagi pengalaman, berbagi perjalanan, atau berbagi pembelajaran. Pergeseran ini tampak sederhana, tetapi menyimpan dinamika bahasa yang menarik.

Coba perhatikan berbagai unggahan yang beredar di media sosial. Seseorang mengunggah foto rumah baru, lalu menulis, "Sharing perjalanan membeli rumah pertama." Orang lain membagikan pencapaian karier dengan keterangan, "Semoga pengalaman ini bisa menginspirasi." Bahkan ketika menunjukkan koleksi barang tertentu, banyak yang menambahkan kalimat, "Siapa tahu bermanfaat untuk teman-teman."

Dalam banyak kasus, tindakan yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan masa lalu. Yang berubah adalah cara tindakan tersebut diberi nama.

Dari sudut pandang sosiolinguistik, fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya alat untuk menjelaskan realitas, tetapi juga alat untuk membentuk cara realitas itu dipahami. Sebuah tindakan dapat dipersepsikan berbeda hanya karena dibingkai dengan kata yang berbeda.

Norman Fairclough (1992) menjelaskan bahwa bahasa memiliki kekuatan untuk membangun dan mengubah makna sosial. Pilihan kata tertentu dapat membuat suatu tindakan terlihat lebih dapat diterima, lebih sopan, atau bahkan lebih bermakna. Dalam konteks media sosial, kata sharing memberikan nuansa yang jauh lebih positif dibandingkan kata pamer.

Kata pamer dalam bahasa Indonesia memiliki konotasi yang relatif negatif. Ia sering dikaitkan dengan kesombongan, kebutuhan akan pengakuan, atau keinginan untuk terlihat lebih unggul dibanding orang lain. Sebaliknya, kata sharing membawa kesan kolaboratif dan bermanfaat. Orang yang berbagi dianggap sedang memberikan sesuatu kepada orang lain, bukan sekadar menunjukkan apa yang dimilikinya.

Menariknya, perbedaan ini tidak selalu terletak pada tindakan, melainkan pada cara tindakan itu diceritakan.

Dalam kajian linguistik, fenomena seperti ini sering disebut sebagai eufemisme. Eufemisme adalah penggunaan kata atau ungkapan yang terdengar lebih halus atau lebih dapat diterima untuk menggantikan kata yang memiliki konotasi kurang menyenangkan.

Contohnya sederhana. Kita lebih sering mendengar istilah penyesuaian harga daripada kenaikan harga. Kita juga lebih akrab dengan istilah pemutusan hubungan kerja daripada pemecatan. Bahasa bekerja untuk mengurangi ketegangan sosial yang mungkin muncul dari sebuah istilah.

Dalam dunia media sosial, sharing dapat dipahami sebagai bentuk eufemisme modern untuk berbagai aktivitas yang berhubungan dengan presentasi diri.

Namun, fenomena ini tidak berarti bahwa semua bentuk sharing adalah pamer terselubung. Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Batas antara berbagi dan pamer sering kali sangat kabur.

Seseorang yang membagikan pengalaman mendapatkan beasiswa mungkin benar-benar ingin membantu orang lain memahami prosesnya. Di sisi lain, unggahan yang sama juga dapat membangun citra positif tentang dirinya. Kedua fungsi itu bisa berjalan bersamaan.

Menurut Erving Goffman (1959), kehidupan sosial pada dasarnya melibatkan proses pengelolaan kesan. Dalam interaksi sehari-hari, individu berusaha menampilkan citra tertentu di hadapan orang lain. Media sosial memperluas proses ini dalam skala yang jauh lebih besar. Profil, unggahan, foto, dan caption menjadi bagian dari panggung tempat identitas dipertunjukkan.

Dalam konteks tersebut, bahasa memegang peran yang sangat penting. Kata-kata yang dipilih membantu menentukan bagaimana audiens menafsirkan sebuah unggahan. Caption yang sama dapat mengubah persepsi secara signifikan.

Misalnya, foto sebuah mobil baru dengan keterangan "Akhirnya berhasil membeli mobil impian" mungkin akan dibaca berbeda dibandingkan jika disertai kalimat "Sharing perjalanan menabung selama lima tahun untuk membeli mobil pertama."

Objek yang ditampilkan sama, tetapi respons sosial yang muncul bisa berbeda.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa masyarakat digital semakin sadar terhadap cara bahasa bekerja. Banyak pengguna media sosial memahami bahwa pilihan kata dapat memengaruhi penerimaan audiens. Akibatnya, mereka semakin cermat memilih istilah yang terdengar rendah hati, bermanfaat, atau inspiratif.

Dari perspektif sosiolinguistik, ini mencerminkan hubungan erat antara bahasa dan norma sosial. Masyarakat masih memandang kesombongan secara negatif, tetapi pada saat yang sama memberi ruang bagi individu untuk membagikan pencapaiannya. Bahasa kemudian menjadi jembatan yang mempertemukan dua kebutuhan tersebut.

Di sinilah kata sharing memperoleh kekuatannya. Ia memungkinkan seseorang berbicara tentang dirinya tanpa terlihat terlalu berpusat pada diri sendiri. Setidaknya, itulah kesan yang ingin dibangun.

Namun, menariknya, audiens juga tidak pasif. Pembaca dan pengguna media sosial terus menafsirkan, menilai, dan bahkan memperdebatkan apakah sebuah unggahan benar-benar berbagi atau hanya pamer yang dibungkus dengan kata yang lebih modern.

Perdebatan semacam itu menunjukkan bahwa makna tidak pernah sepenuhnya berada di tangan penulis. Makna lahir dari interaksi antara bahasa, konteks, dan interpretasi pembaca.

Pada akhirnya, perubahan dari pamer menjadi sharing mengingatkan kita bahwa bahasa selalu bergerak mengikuti perubahan masyarakat. Ketika norma sosial berubah, kosakata pun ikut menyesuaikan diri.

Karena itu, pertanyaan yang menarik mungkin bukan apakah seseorang sedang pamer atau berbagi. Pertanyaan yang lebih menarik adalah bagaimana bahasa membuat kita melihat kedua hal tersebut secara berbeda.

Sebab dalam kehidupan digital hari ini, yang berubah sering kali bukan tindakannya, melainkan kata-kata yang digunakan untuk menjelaskannya.

Daftar Pustaka

Fairclough, N. (1992). Discourse and social change. Polity Press.

Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. Doubleday.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image