Semua Hal Kini Punya Akhiran Coded
Gaya Hidup | 2026-06-04 15:22:28Oleh Wuri Syaputri
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Ilustrasi dibuat oleh AI
Bahasa internet selalu menemukan cara baru untuk berkembang. Jika beberapa tahun lalu media sosial dipenuhi kata seperti healing, POV, atau relate, kini muncul tren lain yang semakin sering digunakan, yaitu akhiran coded.
Awalnya, kata ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Namun, bagi pengguna aktif TikTok, Instagram, atau X, ungkapan seperti rich girl coded, soft life coded, academic coded, atau main character coded sudah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.
Menariknya, penggunaan kata coded saat ini tidak lagi berkaitan dengan sandi atau kode rahasia. Dalam praktik komunikasi digital, coded digunakan untuk menunjukkan bahwa seseorang, suatu benda, atau sebuah situasi memiliki ciri-ciri yang diasosiasikan dengan identitas tertentu.
Ketika seseorang mengatakan sebuah kafe writer coded, misalnya, yang dimaksud bukan bahwa kafe itu hanya boleh didatangi penulis. Ungkapan tersebut mengisyaratkan bahwa suasana, desain, atau atmosfer tempat itu dianggap cocok dengan gambaran yang melekat pada sosok penulis.
Dengan kata lain, coded menjadi alat untuk menghubungkan sesuatu dengan identitas sosial tertentu.
Fenomena ini menarik karena menunjukkan bagaimana bahasa digunakan untuk mengelompokkan dunia. Kita hidup di tengah banjir informasi, gambar, dan tren yang bergerak sangat cepat. Dalam situasi seperti itu, manusia membutuhkan cara yang ringkas untuk memberi makna pada apa yang mereka lihat. Akhiran coded menyediakan fungsi tersebut.
Daripada menjelaskan panjang lebar bahwa sebuah tempat terasa tenang, penuh buku, dan cocok untuk bekerja, seseorang cukup mengatakan bahwa tempat itu academic coded. Orang lain yang berada dalam komunitas digital yang sama biasanya langsung memahami maksudnya.
Dari sudut pandang sosiolinguistik, fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga membangun identitas sosial. Menurut Johnstone (2018), pilihan bahasa sering kali digunakan untuk menandai keanggotaan dalam kelompok tertentu dan menunjukkan cara seseorang memandang dunia. Kata-kata yang dipilih penutur dapat menjadi penanda identitas sekaligus solidaritas sosial.
Dalam konteks coded, yang terjadi bukan sekadar penciptaan istilah baru. Yang sedang berlangsung adalah proses kategorisasi sosial. Generasi muda menciptakan label-label yang membantu mereka mengelompokkan pengalaman, gaya hidup, dan identitas ke dalam kategori yang mudah dikenali.
Menariknya, kategori tersebut sering kali tidak memiliki batas yang jelas. Apa yang dianggap main character coded oleh satu orang belum tentu dipahami sama oleh orang lain. Namun, justru kelonggaran makna inilah yang membuat istilah tersebut mudah berkembang.
Bahasa digital tidak selalu menuntut definisi yang presisi. Yang lebih penting adalah adanya pemahaman bersama dalam komunitas yang menggunakannya.
Fenomena ini mengingatkan pada konsep communities of practice yang diperkenalkan oleh Eckert dan McConnell-Ginet (1992). Mereka menjelaskan bahwa kelompok sosial membangun identitas melalui praktik yang dilakukan bersama, termasuk praktik berbahasa. Kosakata tertentu menjadi bermakna karena digunakan berulang kali dalam komunitas yang sama.
Media sosial mempercepat proses tersebut. Sebuah istilah yang awalnya digunakan oleh kelompok kecil dapat menyebar ke jutaan pengguna hanya dalam hitungan hari. Ketika semakin banyak orang menggunakannya, istilah itu memperoleh legitimasi sosial.
Hal lain yang menarik adalah bahwa coded memungkinkan seseorang memberi penilaian tanpa terlihat menghakimi secara langsung. Jika dahulu orang mungkin mengatakan "orang itu terlihat kaya" atau "tempat itu sangat elit", kini cukup mengatakan rich girl coded atau old money coded. Bahasa menjadi lebih implisit dan lebih halus.
Dalam banyak kasus, penggunaan istilah semacam ini juga memperlihatkan kreativitas linguistik generasi muda. Mereka tidak sekadar meminjam kata dari bahasa Inggris, tetapi mengubah fungsinya agar sesuai dengan kebutuhan komunikasi mereka.
Akibatnya, coded tidak lagi bekerja sebagai kata sifat biasa. Ia berkembang menjadi alat interpretasi sosial. Orang tidak hanya melihat objek atau situasi, tetapi juga langsung menghubungkannya dengan identitas tertentu.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa bahasa digital semakin bergerak ke arah simbolik. Kata-kata tidak selalu digunakan untuk menjelaskan apa yang ada di depan mata. Sebaliknya, kata digunakan untuk menunjukkan asosiasi, citra, dan makna sosial yang melekat pada sesuatu.
Di sinilah letak daya tariknya. Ketika seseorang mengatakan sebuah lagu anak kos coded atau sebuah meja belajar skripsi coded, yang dibicarakan sebenarnya bukan lagu atau meja itu sendiri. Yang dibicarakan adalah serangkaian pengalaman sosial yang diasosiasikan dengan identitas tertentu.
Pada akhirnya, tren coded menunjukkan bahwa bahasa internet bukanlah bahasa yang miskin atau dangkal sebagaimana sering dituduhkan. Sebaliknya, ia menunjukkan kemampuan manusia untuk terus menciptakan cara baru dalam memberi makna pada dunia.
Dan mungkin, itulah yang membuat akhiran kecil ini begitu cepat menyebar. Karena di tengah dunia digital yang penuh informasi, kita selalu mencari cara yang lebih singkat untuk mengatakan, "Aku tahu persis suasana yang kamu maksud."
Daftar Pustaka
Eckert, P., & McConnell-Ginet, S. (1992). Think practically and look locally: Language and gender as community-based practice. Annual Review of Anthropology, 21, 461-490.
Johnstone, B. (2018). Discourse analysis (3rd ed.). Wiley Blackwell.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
