Kita Terlalu Terbiasa Berpura Baik-baik Saja
Eduaksi | 2026-01-24 15:00:13
Di ruang publik dan media sosial, banyak orang tampak menjalani hidup dengan baik. Produktif, bahagia, dan penuh pencapaian. Namun, di balik tampilan tersebut, tidak sedikit yang sebenarnya sedang mengalami kelelahan emosional, hanya saja tidak memiliki ruang yang aman untuk mengungkapkannya.
Budaya untuk selalu terlihat kuat telah membentuk tekanan sosial yang halus, tetapi nyata. Mengeluh kerap dianggap sebagai tanda kelemahan, sementara beristirahat sering disalahartikan sebagai kurangnya semangat. Akibatnya, banyak orang memilih menyimpan beban sendiri dan terus menjalani hari tanpa benar-benar memulihkan diri.
Ironisnya, di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, kejujuran tentang kondisi diri justru masih menjadi hal yang sulit dilakukan. Ungkapan motivasi dan ajakan untuk mencintai diri sendiri mudah ditemukan, tetapi keberanian untuk mengatakan “saya sedang tidak baik-baik saja” masih sering tertahan oleh rasa takut akan penilaian.
Tekanan tersebut tidak hanya datang dari lingkungan, tetapi juga dari ekspektasi pribadi. Standar keberhasilan yang terus dibandingkan melalui media sosial membuat banyak orang merasa tertinggal, meskipun setiap individu memiliki ritme dan perjalanan hidup yang berbeda.
Memahami bahwa tidak selalu kuat adalah bagian dari menjadi manusia merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental. Mengakui kelelahan bukanlah bentuk kegagalan, melainkan wujud kesadaran akan batas diri. Dengan demikian, seseorang dapat memberi ruang bagi proses pemulihan yang lebih sehat.
Barangkali, hal penting yang perlu kita sadari bersama hari ini adalah bahwa tidak semua orang yang terlihat baik-baik saja benar-benar sedang berada dalam kondisi tersebut. Memberi ruang untuk jujur, mendengar tanpa menghakimi, dan saling memahami bisa menjadi bentuk kepedulian sederhana yang sangat berarti.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
