Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nabella Putri Sanrissa

Deepfake Merusak Akuntabilitas Kita

Iptek | 2025-12-11 23:32:23

Di tengah derasnya arus informasi yang kita konsumsi setiap hari, kita selalu mengandalkan video sebagai bukti paling kuat. Namun, era tersebut telah berakhir. Kini, dengan deepfake video dan audio palsu yang dibuat Artificial Intelligence (AI) dan mustahil dibedakan dari aslinya kepercayaan kita pada konten visual berada di ujung tanduk. Deepfake telah menjadi krisis komunikasi serius karena secara langsung merusak kemampuan kita untuk menuntut pertanggungjawaban. Ancaman ini melampaui sekadar konten viral, ini adalah bahaya nyata bagi kejujuran di ruang publik.

Ketika seorang tokoh publik atau pihak tertentu terekam melakukan kesalahan, respons termudah kini adalah menyangkal: "Video itu rekayasa AI, tidak valid!" Penyangkalan ini bekerja efektif, bahkan jika video itu asli, sebab publik langsung ragu. Akibatnya, mekanisme pertanggungjawaban menjadi macet. Bagaimana kita bisa memaksa seseorang bertanggung jawab atas perbuatannya jika setiap bukti visual dapat dibantah dengan dalih palsu? Ini menciptakan lingkungan komunikasi yang memaafkan ketidakjujuran.

Selain merusak akuntabilitas, deepfake juga membuat kita lelah. Kita dipaksa untuk terus-menerus curiga pada setiap konten yang muncul di feed. Keharusan untuk selalu memeriksa keaslian ini memicu yang disebut verification fatigue.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kita harus mengubah standar bukti. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan video. Kita wajib menuntut bukti berlapis dari komunikator: metadata (data di balik video), konfirmasi dari sumber independen, dan transparansi penuh. Tugas kita sebagai audiens yang kritis adalah menolak penyangkalan mudah dan mendorong akuntabilitas melalui bukti yang komprehensif. Dengan demikian, kita bisa memastikan bahwa integritas bukan algoritma yang menjadi nilai tertinggi dalam komunikasi digital kita.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image